• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Kesehatan mental remaja.

Nur Azizah SPsi, Mahasiswi Magister Psikologi Unair. (Foto: dok)

Masalah Kesehatan Mental Remaja di Sekolah Meningkat: Pahami Pertolongan Pertama Psikologis

Dwi Linda by Dwi Linda
8 months ago
in Catatan
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nur Azizah SPsi, Mahasiswi Magister Psikologi Unair

Tugujatim.id – Fenomena masalah kesehatan mental remaja di sekolah kian meningkat. Perubahan emosi dan perilaku ekstrem siswa secara dadakan, tiba-tiba tidak mau berangkat sekolah tanpa alasan jelas, mudah overthinking dengan status media sosial teman, perubahan pola tidur dan makan, mengurung diri di kamar, dan kehilangan ketertarikan pada aktivitas yang sebelumnya disukai.

Jika dibiarkan, kecemasan akan semakin parah, bisa mengarah pada abnormalitas, stres, depresi, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri. Hal ini selaras dengan data yang dirilis oleh National Research and Innovation Agency (BRIN, 2025) bahwa kasus bunuh diri di Indonesia sejak 2012-2023 terjadi sebanyak 2.112 kasus. Dan 985 di antaranya merupakan kasus bunuh diri pada remaja.

You might also like

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

30/05/2026 8:27 PM
Tasyakuran 50 tahun pernikahan

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi

03/05/2026 7:42 PM

Remaja adalah generasi pada tahap peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, antara usia 12 hingga 21 tahun. Perubahan signifikan secara biologi, kognitif, dan sosio-emosional terjadi pada masa remaja, yang menyebabkan berbagai masalah khas remaja (Santrock, 2012).

Baca Juga: Polije Jember Pamerkan Inovasi Mahasiswa, Ada Aplikasi Kesehatan Mental hingga Produk Nutricraft

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Indonesian National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), satu dari tiga remaja (34,9%), atau setara dengan 15,5 juta remaja Indonesia, memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental, termasuk masalah perilaku, pemusatan perhatian atau hiperaktivitas, depresi, kecemasan, dan stres pasca-trauma. Masalah kesehatan mental remaja yang paling banyak dialami di Indonesia adalah kecemasan.

Selain itu, I-NAMHS melaporkan bahwa 64,7% remaja mengalami masalah atau gangguan pada hubungan keluarga. Diikuti oleh masalah dengan teman sebaya sebesar 41,1%, masalah dengan sekolah atau pekerjaan sebesar 39,3%, dan stres pribadi sebesar 27,2%.

Kenapa Banyak Remaja Alami Masalah Kesehatan Mental?

Menurut Erik Erikson, seorang pakar psikologi, tugas perkembangan remaja ada di tahap identity vs role confusion, pencarian identitas versus kebingungan peran. Remaja sedang berjuang menemukan jati dirinya, memahami nilai-nilai pribadi, dan menetapkan arah hidup mereka. Ketika mereka tidak berhasil menemukan identitas yang kuat, mereka akan bingung, cemas, dan mudah terpengaruh oleh tekanan sosial. Mereka akan mengalami krisis identitas.

Di samping faktor pribadi, menurut teori Urie Bronfenbrenner dalam Ekologi Perkembangan Manusia, berbagai sistem lingkungan saling berinteraksi dan memengaruhi kesehatan mental remaja. Gangguan kesehatan mental bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan dalam keluarga, teman sebaya, sekolah, media, komunitas, budaya, dan nilai sosial.

Faktor-faktor seperti tekanan akademik di sekolah, ekspektasi berlebihan dan masalah keluarga, kurangnya komunikasi dengan orang tua, perundungan (bullying), dan pengaruh negatif media sosial dapat berkontribusi memperburuk kesehatan mental remaja. Atas dasar ini, intervensi efektif bisa terwujud dengan melibatkan semua lapisan sistem, bukan hanya individu.

Gejala gangguan mental pada remaja seringkali halus dan tidak langsung disadari. Banyak remaja merasa malu mengungkapkan masalah psikologis mereka, karena adanya stigma negatif tentang kesehatan mental. Sering kali, mereka memendam masalah, menunda atau menolak bantuan profesional karena takut dianggap aneh atau lemah. Mereka tidak tahu kepada siapa harus bercerita. Hal ini meningkatkan isolasi sosial, memperparah risiko stres dan depresi. Itulah kenapa lingkungan memegang peran penting untuk mengidentifikasi dan merespons gejala awal kesehatan mental.

Pychological First Aid (PFA)

Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis merupakan salah satu upaya dalam menangani masalah kesehatan mental remaja. PFA adalah pendekatan berbasis empati yang bertujuan untuk memberikan dukungan emosional awal, rasa aman, dan harapan tanpa melibatkan diagnosis atau terapi. PFA dapat dilakukan oleh guru, konselor, dan orang tua dalam keluarga dan institusi pendidikan. PFA terdiri dari tiga langkah. Pertama, Look (amati), mengidentifikasi perubahan perilaku atau tanda stres pada remaja. Kedua, Listen (dengarkan), memberikan ruang aman bagi remaja untuk bercerita tanpa dihakimi. Ketiga, Link (hubungkan), mengarahkan remaja ke sumber bantuan profesional, seperti guru BK, psikolog, atau konselor.

Jika diterapkan secara teratur di rumah dan sekolah, PFA dapat membantu menciptakan lingkungan yang suportif dan mencegah kondisi mental remaja memburuk. Sehingga terwujud kesejahteraan psikologis remaja di sekolah. Remaja yang sehat fisik, mental, dan jiwa akan mampu berpikir jernih, beradaptasi terhadap kesulitan, dan berkontribusi positif bagi negara dan lingkungan mereka. Oleh karena itu, penting menjaga kesehatan mental remaja sebagai fondasi untuk Indonesia yang kuat dan berdaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Editor: Dwi Lindawati

Tags: Berita Kota Surabaya hari iniBerita terbaru Unair SurabayaBerita Unair SurabayaKota Surabaya hari iniMahasiswa Magister Psikologi Unair
Dwi Linda

Dwi Linda

Related Stories

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

by Dwi Linda
30/05/2026 8:27 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Kepemimpinan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sedang berada di persimpangan yang tidak mudah. Ketegangan...

Tasyakuran 50 tahun pernikahan

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi

by Mochamad Abdurrochim
03/05/2026 7:42 PM
0

JAKARTA, Tugujatim.id – Tasyakuran 50 tahun pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain berlangsung penuh kesan, syukur, dan inspirasi di Hotel...

AHWA.

Menimbang Pelembagaan AHWA sebagai Otoritas Kepemimpinan NU

by Dwi Linda
14/04/2026 7:52 PM
0

Oleh: Abdur Rahim (Warga NU; tinggal di Desa Simo, Tuban)   TUBAN, Tugujatim.id - Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

Next Post
Marc Márquez.

Kahf Dampingi Marc Márquez Tampil di MotoGP 2025 Sirkuit Mandalika

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID