• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Membedah Substansi Sastra

Membedah Substansi Sastra, Mendulang Nilai Budaya

Dwi Linda by Dwi Linda
1 year ago
in Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

Surakarta, 2 Juni 2025

Membedah substansi sastra

You might also like

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

21/05/2026 3:32 PM
Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

11/04/2026 3:25 AM

Penulis: Dr. Sugit Zulianto, M.Pd.

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP dan Peer Group Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Javanologi, Universitas Sebelas Maret

Tugujatim.id – Mewaspadai karya sastra boleh saja sebab tidak semua substansinya berguna. Itu sikap yang bijak. Namun, menjadi kurang elok bila ada pengabaian terhadap karya tanpa diawali dengan penelaahan secara cermat.

Padahal, melalui karya sastra, penyair mampu memilih dan menyimpan nilai yang relevan dengan pemajuan zaman. Agar tidak terjadi kekurangan, seseorang perlu membaca dengan sungguh-sungguh sebelum menikmatinya.

Berkenaan dengan itu, seorang pembaca karya sastra boleh saja menggunakan resensi sebagai alat untuk bertinbang atas keunggulan dan kelemahan karya sastra. Sudah tentu bila resensator berbeda pandangan dengan penyair. Dalam hal ini, penyair memikir dan menuangkan; resensator menilai dan mengungkap isi sastra sebelum dinikmati oleh pembaca.

Sebagai contoh, bila terlahir sastra religi, pembaca boleh bertanya-tanya. Pesan-pesan kemuliaan apa yang diungkap penyair. Apakah hanya soal surga-neraka; apakah hanya soal benar-salah dalam kehidupan; ataukah tentang halal-haram soal makanan. Dua hal yang disandingkan itu pilihan. Akan tetapi, seseorang jangan terlalu ekstrim terhadap salah satu pilihan, misalnya soal makanan haram. Sudah tentu perlu diapahami konteksnya. Saat tak ada makanan untuk bertahan hidup, sepotong makanan haram boleh dimakan oleh orang yang mengharamkannya. Bagai buah si malakama, yakni tidak ada pilihan ketiga sehingga memilih satu dengan resiko besar. Dengan perdebatan itu, ada manfaat yang baik bila karya sastra digunakan sebagai cermin bertimbang atas halal haramnya makanan.

Benar bahwa pada kitab-Nya, agama ditelaah dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, isi kitab agama itu konsisten yang diyakini, bukan untuk dipermainkan. Secara fisik, kitab dapat dicetak berulang. Sebaliknya, kandungan kitab tidak boleh diotak-atik atau dibongkar pasang. Kitab bukan peraturan yang diciptakan manusia. Substansinya justru merupakan kehendak Sang Pencipta.

Dalam hal ini, manusia sebatas membaca, menerima, bahkan menyakini sebagai arah perilaku hidup, baik secara personal maupun bersama antarbangsa maupun antarwarga negara. Mengingat begitu sensitifnya nilai agama, tidak boleh ada pihak yang memaksakan isinya kepada orang lain. Sudah seharusnya, isi kitab perlu diajarkan dan dididikkan agar warga bangsa menimbang dan memutuskan apakah memeluknya sebagai ajaran.

Dalam konteks kepenyairan hingga dihasilkan suatu karya religi, substansi kitab agama tetap memiliki kedudukan yang tertinggi. Artinya, kadar wahyu yang diwadahinya tidak pernah selevel dengan gagasan penyair. Sebaliknya, penyair justru kerap mengutip sebagian isi kitab untuk ditafsir dan dituangkan dalam karya sastra religi.

Oleh sebab itu, wajar bila dikatakan bahwa karya sastra sebenarnya merupakan wadah nilai yang bertumbuh kembang dalam kehidupan masyarakat nasional—global. Namun, sekali lagi, karya sastra religi tidak boleh disesajarkan dengan kitab agama. Sebagai wadah nilai, karya sastra hanya menjadi ruang curahan pikiran dan/atau perasaan sang penyair terhadap realitas sosial di masyarakat.

Kehati-hatian memilih dan menikmati karya sastra religi memang tetap diperlukan. Perlu diingat, di dalam karya sastra religi lazim terdapat beragam pandangan sesuai dengan munculnya multitafsir norma, aturan, tata tertib, bahkan agama di masyarakat. Bagaimanapun, seorang penyair akan tetap manusia yang memiliki keterbatasan sehingga gagasan sastra religinya kerap menunjukkan pendirian pribadi sang penyair.

Sebagai gambaran, di tengah kehidupan metropolis, keakuan merupakan sikap yang kuat. Realisasinya, seseorang cenderung menunjukkan sikap egois hingga terlepas dari kepedulian sosial. Karya sastra religi yang senada dengan itu tidak selalu patut dibaca oleh sembarang orang. Sudah tentu pembaca harus pandai-pandai menyikapinya.

Akhirnya, sikap elok yang patut dikedepankan bahwa terhadap segenap karya sesama manusia, saat mengenal sesaatu, ya, kenali; saat menghargai sesuatu, ya, hargai. Apalagi, sosok yang perlu dihargai berupa sastra religi. Seorang pembaca tidak perlu terlalu ekstrim menyikapinya tanpa mengetahui konteks sosial masyara-kat. Ketika mengalami keraguan atas karya sastra, pembaca dapat membaca resensi sastra.

Dalam resensi lazim terdapat timbangan karya yang tak berpihak. Mengapa tidak dipergunakan bila ada kesempatan mendulang nilai budaya dalam karya sastra yang, kadang, terinspirasi dari kitap-kitab suci, wahyu Sang Khalik, penguasa alam semesta. Salam budaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Kontak Penulis:

Dr. Sugit Zulianto, M.Pd. (sugit_zulian@staff.uns.ac.id/085241064789)

 

Tags: substansi sastraSugit Zulianto
Dwi Linda

Dwi Linda

Related Stories

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

by Mochamad Abdurrochim
21/05/2026 3:32 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) kembali menghadirkan ruang diskusi santai bagi para pegiat seni teater lewat agenda...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

DPRD Kota Malang Catat PR Krusial di HUT ke-112, Kemiskinan hingga Banjir Belum Tuntas

Klambi Indis dari Sudut Pandang Seni Kontemporer

by Darmadi Sasongko
10/04/2026 11:05 AM
0

Tugujatim.id - Klambi Indis, dari sudut pandang Seni Kontemporer ditulis oleh Dimas Novib S, Pengurus Dewan Kesenian Malang. Tulisan ini...

Perjalanan Menuju Pertaubatan

Perjalanan Menuju Pertaubatan

by Dwi Linda
22/02/2026 11:43 AM
0

Oleh: Muhammad Mufid, Cerpenis Difabel di Malang Tugujatim.id - Malam sudah larut dan jalanan Kota Jakarta tampak lengang. Lampu-lampu jalan...

Next Post
hewan kurban

35 Titik Penjualan Hewan Kurban di Jember Diperiksa Jelang Iduladha, Ini Temuannya

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID