Mencicipi Keseraman Kompleks Pemakaman Peneleh Surabaya yang Didirikan sejak 1743

  • Bagikan
Kompleks Pemakaman Peneleh Surabaya di Jalan Makam Peneleh dengan jumlah 35.240 makam, Jumat (02/07/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Kompleks Pemakaman Peneleh Surabaya di Jalan Makam Peneleh dengan jumlah 35.240 makam, Jumat (02/07/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

SURABAYA, Tugujatim.id – Ada kompleks pemakaman bersejarah di Kota Surabaya, namanya “Kompleks Pemakaman Peneleh Surabaya”. Pendiriannya sejak 1743, tapi diresmikan pada 1847. Dihuni sebanyak 35.240 jasad dari lintas kepercayaan seperti Katolik, Protestan, Yahudi, dan Freemason.

Ada 35.240 jasad di Pemakaman Peneleh Surabaya lintas kepercayaan, yaitu Katolik, Protestan, Yahudi, dan Freemason.(Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Ada 35.240 jasad di Pemakaman Peneleh Surabaya lintas kepercayaan, yaitu Katolik, Protestan, Yahudi, dan Freemason.(Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Lokasinya di Jalan Makam Peneleh Nomor 35A, berjarak sekitar 550-600 meter atau setara dengan waktu tempuh selama 3-4 menit perjalanan menaiki sepeda motor dari Museum “Rumah Si Legendaris” Raden Mas Hadji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto yang ada di Jalan Peneleh Gang VII Kota Surabaya.

Ketika pewarta Tugu Jatim mengunjungi Kompleks Pemakaman Peneleh Surabaya, dari kejauhan tampak desain yang dipakai begitu khas periode kolonialisme kependudukan Belanda dan Jepang di Indonesia. Hal itu pula, terlihat dari nama-nama jasad yang sulit sekali dibaca pada logat, ejaan, dan morfem bahasa Indonesia.

Nama-nama jasad di nisan yang sulit sekali dibaca pada logat, ejaan, dan morfem bahasa Indonesia.(Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Nama-nama jasad di nisan yang sulit sekali dibaca pada logat, ejaan, dan morfem bahasa Indonesia.(Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Hampir di atas semua nisan terpasang ornamen-ornamen “sculpture”, yakni sosok peri bersayap, sambil menengadahkan tangan layaknya orang berdoa. Beberapa ada yang terpasang simbol salib di atas makam, ada yang dipagari keliling, ada juga yang sudah rapuh dan berlubang pada sebagian sudutnya.

Makam-makam itu didominasi warna putih, walau sebagian besar berubah menghitam akibat tergerus waktu dan generasi. Ditambah dedaunan kering berserakan menghiasi jalanan setapak. Membuat komposisi Kompleks Pemakaman Peneleh Surabaya makin terasa mencekam.

Makam didominasi warna putih, meski sebagian besar berubah menghitam akibat tergerus waktu dan generasi.(Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Makam didominasi warna putih, meski sebagian besar berubah menghitam akibat tergerus waktu dan generasi.(Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Pemerhati Sejarah Kota Surabaya Kuncarsono Prasetyo menegaskan, Kompleks Pemakaman Peneleh Surabaya merupakan wujud pergantian dari pemakaman Eropa di Krembangan Surabaya yang dibangun sejak masa kolonial tahun 1743. Sebelumnya, ada di dekat Taman Jembatan Merah, kawasan Pabrik Siropen dan Polrestabes Surabaya.

Desain makam khas zaman kolonialisme kependudukan Belanda dan Jepang di Indonesia.(Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Desain makam khas zaman kolonialisme kependudukan Belanda dan Jepang di Indonesia.(Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

“Makam Peneleh dibangun menggantikan makam Eropa yang ada di Kerembangan Surabaya. Dibangun pada sejarah awal kolonialisme di Surabaya, yakni pada 1743, makam saat itu ada di lokasi yang sekarang disebut Taman Jembatan Merah,” terangnya, Jumat (02/07/2021).

Baca Juga:

Selain itu, Kuncar melanjutkan, pada akhir abad ke-18 pemakaman yang ada di Krembangan itu mulai aktif dipakai. Hingga seabad kemudian, abad ke-19, kompleks pemakaman bersejarah itu dipindahkan ke Jalan Makam Peneleh Nomor 35A sekitar 200 meter dari bantaran Sungai Kali Mas Surabaya yang ada di bagian barat.

Makam Peneleh dibangun untuk menggantikan makam Eropa yang ada di Kerembangan Surabaya.(Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Makam Peneleh dibangun untuk menggantikan makam Eropa yang ada di Kerembangan Surabaya.(Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

“Kemudian akhir abad ke-18, kompleks pemakaman dipindah ke daerah yang sekarang dinamakan Krembangan. Baru awal abad ke-19, kompleks pemakaman itu pindah ke Peneleh,” tegasnya.

“Kenapa dipilih di lokasi Peneleh? Sebelumnya, ada pilihan di Kupang dan Gubeng, Peneleh dipilih karena lokasinya saat itu terpencil, dipisah sungai, dan tidak jadi prioritas perkembangan Kota Surabaya,” imbuhnya.

Kompleks Pemakaman Peneleh Surabaya memiliki luas setidaknya 5,6 hektare. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Kompleks Pemakaman Peneleh Surabaya memiliki luas setidaknya 5,6 hektare. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Lebih jauh, Kuncar menegaskan, Kompleks Pemakaman Peneleh itu aktif dipakai sampai 1955, sejak dari masa pasca-kemerdekaan tapi masih eksis hingga kini. Walau saat itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya juga membangun proyek yang ada di Kembang Kuning pada 1920 silam.

“Makam Peneleh Surabaya itu digunakan sampai 1955. Hingga setelah kemerdekaan, makam itu masih eksis meski Pemkot Surabaya membangun Kembang Kuning pada 1920,” jelasnya.

Makam di Peneleh Surabaya berlubang tampak kurang terurus. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Makam di Peneleh Surabaya berlubang tampak kurang terurus. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Apalagi, Kuncar menambahkan, Kompleks Pemakaman Peneleh memiliki luas setidaknya 5,6 hektare. Kendati dari pihak Pemkot Surabaya dan database pemakaman tidak mencatat data-data terkait latar belakang ras dari masing-masing jasad, padahal hal itu menarik untuk dikaji pula.

“Kompleks Pemakaman Peneleh diresmikan pada 1 Desember 1847. Dengan profil luas lahan sekitar 5,6 hektare. Dengan catatan total yang dimakamkan sebanyak 35.240 jasad,” bebernya.

Pemakaman Peneleh Surabaya mempunyai sisi keunikan, yakni menjadi pemakaman umum tertua dan terluas. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Pemakaman Peneleh Surabaya mempunyai sisi keunikan, yakni menjadi pemakaman umum tertua dan terluas. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

“Database Pemakaman Peneleh tidak mencatat latar belakang agama setiap jasad. Namun, yang banyak mendominasi, yakni agama Katolik, Protestan, Yahudi, dan Freemason,” imbuhnya.

Kuncar menegaskan, Kompleks Pemakaman Peneleh Surabaya mempunyai sisi keunikan, yakni menjadi pemakaman umum tertua dan terluas yang masih mempertahankan arsitektur dan langgam pahatan asli sejak kali pertama dibangun.

“Pemakaman umum tertua dan terluas yang masih asli. Ada nama tokoh penting, memiliki langgam arsitektur beragam. Tidak hanya makam untuk orang Belanda. Namun, juga orang Eropa. Selain itu, ada makam ras Indo, juga ada makam pribumi yang menikah dengan Belanda dan makam orang Jepang,” ujarnya.

 

 

  • Bagikan