Gerakan Organik “Sidoasik”, Kolaborasi 50 Komunitas di Sidoarjo untuk Lestarikan Permainan Tradisional

  • Bagikan
Para pengurus komunitas di Sidoarjo bersama anak-anak yang tergabung dalam gerakan organik Sidoasik di KLG. (Foto: Dok. Komunitas Lali Gadget/Tugu Jatim)
Para pengurus komunitas di Sidoarjo bersama anak-anak yang tergabung dalam gerakan organik Sidoasik di KLG. (Foto: Dok. Komunitas Lali Gadget)

SURABAYA, Tugujatim.id – Ada komunitas di Sidoarjo yang peduli untuk melestarikan permainan tradisional dan fokus pada pergerakan organik (gerakan yang murni tradisional, red) pada anak-anak untuk memupuk karakter positif. Namanya komunitas “Sidoasik“. Komunitas ini dibentuk pada Mei 2021 atau sekitar 2 bulan lalu. Mereka mengajarkan anak-anak soal menciptakan kekompakan, kerja sama, mengajarkan bentuk kejujuran, dan kepemimpinan.

Sidoasik sendiri diinisiasi kali pertama di “Kampung Lali Gadget” (KLG), sebuah komunitas yang berusia sekitar 3 tahun dan berdiri sejak April 2018. Dari inisiasi tersebut, akhirnya banyak diikuti komunitas lain yang ada di Sidoarjo dan luar Sidoarjo.

KLG sendiri merupakan komunitas yang berupaya untuk membiasakan anak-anak melepaskan “game” yang ada di dalam gadget dan mulai menyukai permainan tradisional. Hal itu dilakukan sebagai alternatif untuk mengisi waktu luang, membuang kebosanan, dan melatih karakter positif sejak usia dini. Selain KLG, banyak komunitas lain yang peduli terhadap anak-anak dan permainan tradisional. Akhirnya mereka tergabung dalam gerakan Sidoasik ini. Dan komunitas yang tergabung yaitu Kabut Malam, Lintang Songo Foundation, LIDI, Delta Cielo, dan lain-lainnya.

Koordinator dan Juru Bicara Republik Sidoasik Achmad Irfandi menegaskan, ada semacam keresahan atas minimnya perhatian pada anak-anak di masa pandemi Covid-19. Terlebih, hal itu menjelma menjadi kekhawatiran yang makin lama kian melupakan permainan tradisional.

Anak-anak yang tergabung dalam gerakan organik Sidoasik di Sidoarjo tampak senang melakukan permainan tradisional. (Foto: Dok. Komunitas Lali Gadget/Tugu Jatim)
Anak-anak yang tergabung dalam gerakan organik Sidoasik di Sidoarjo tampak senang melakukan permainan tradisional. (Foto: Dok. Komunitas Lali Gadget)

“Keresahan itu muncul karena keringnya iklim kolaborasi anak muda di Sidoarjo. Selain itu, kami resah akan minimnya perhatian pada anak-anak di masa pandemi Covid-19. Waktu bermain mereka menjadi berkurang. Kebahagiaan anak-anak hanya semu,” terangnya, Sabtu (03/07/2021).

“Kami berusaha menumbuhkan lagi budaya bermain di masyarakat. Warisan budaya yang merupakan permata ini sudah hilang dan terkubur. Dan perlu adanya kolaborasi lintas komunitas untuk peduli terhadap anak-anak. Seperti bermain di alun-alun dan di berbagai komunitas,” imbuhnya.

Irfandi mengatakan, Sidoasik terbentuk atas iktikad kolaborasi dari sekitar 50 komunitas yang ada di Sidoarjo dan luar Sidoarjo. Semua komunitas itu bergerak untuk peduli pada anak-anak, pemberdayaan pendidikan, dan pelestarian permainan tradisional.

“Hingga saat ini ada 50-an komunitas. Sidoasik adalah gerakan yang terdiri atas banyak komunitas. Tidak ada syarat khusus untuk kolaborasi. Intinya, bisa peduli terhadap anak-anak dan mau berkolaborasi,” jelasnya.

Baca Juga:

 

Untuk target keseluruhan yang terlibat dalam gerakan Sidoasik, yakni ada sekitar 25 venue di Sidoarjo, 15 venue di luar Sidoarjo, 50 gerakan, pelibatan 75 komunitas, 250 pemuda, dan 1.500 peserta yang ada di beberapa tempat. Selain itu, mereka juga menerapkan protokol kesehatan (prokes) Covid-19 dengan baik.

Sidoasik membuka diri pada berbagai macam kolaborasi yang jauh dari kepentingan politik, intervensi pemerintah, dan motif-motif tertentu yang menguntungkan sekelumit orang. Justru, Sidoasik ini sengaja dibentuk secara organik dan dimiliki oleh semua orang, yaitu semangat kolaborasi.

“Sidoasik bertumpu pada semangat kolaborasi. Bukan kompetisi. Sidoasik milik bersama. Gerakan ini organik tanpa intervensi pemerintah atau kepentingan politik apa pun,” ujarnya.

Beberapa permainan yang dipakai dan dilestarikan seperti bermain kelereng, layang-layang, egrang, kuda lumping, balap karung, dan lain-lainnya. Itu semua sebagai upaya untuk menggantikan wahana bermain anak-anak dari game yang ada di gadget.

Sidoasik juga peduli pada prokes Covid-19 dengan menerapkan pembatasan jumlah kontributor dalam setiap program, seperti membatasi 30 peserta, 10 penonton, 10 penggerak, 3 komunitas, dan 5 UMKM.

 

  • Bagikan