Mencium Aroma Perjuangan Kemerdekaan di Kantor Majalah Berbahasa Jawa “Panjebar Semangat”

  • Bagikan
Kantor Majalah Panjebar Semangat, Jalan Gedung Nasional Indonesia No 2 Bubutan Surabaya, Rabu (17/03/2021). (Foto:Rangga Aji/Tugu Jatim)
Kantor Majalah Panjebar Semangat, Jalan Gedung Nasional Indonesia No 2 Bubutan Surabaya, Rabu (17/03/2021). (Foto:Rangga Aji/Tugu Jatim)

SURABAYA, Tugujatim.id – Kabeh madjalah kang mbijantu marang perdjoangan nasional gedhe gunane. Ta’dongakake muga-muga ‘Panjebar Semangat’ lestari mbijantu perdjoangan kita iki,” pesan Ir Soekarno saat Majalah Panjebar Semangat memasuki ulang tahun ke-20 pada 2 September 1953.

 

Memasuki kantor Majalah Panjebar Semangat, terpampang jelas tulisan tangan Presiden Pertama Republik Indonesia Ir Soekarno. Tulisan berbahasa Jawa itu menempel kokoh di dinding bagian depan Ruang Redaksi sebagai ucapan selamat atas ulang tahun ke-20 dari majalah tertua di Indonesia yang didirikan sejak 2 September 1933.

Tugu Jatim pun disambut hangat oleh Celine Anjanette selaku Penanggung Jawab Media Sosial dan Event Majalah Panjebar Semangat. Pewarta Tugu Jatim dipersilakan duduk di sofa ruang tamu sambil Celine Anjanette membuka cerita.

Celine Anjanette (Anette) selaku Penanggung Jawab (PJ) Media Sosial dan Event Majalah Panjebar Semangat pada Rabu (17/03/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Celine Anjanette (Anette) selaku Penanggung Jawab (PJ) Media Sosial dan Event Majalah Panjebar Semangat pada Rabu (17/03/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Sekitar 88 tahun lalu, Majalah Panjebar Semangat diprakarsai oleh Dr Soetomo, pendiri organisasi Budi Oetomo yang berperan penting pada kemerdekaan Republik Indonesia. Pengelolaan majalah dipimpin Imam Supardi, mantan guru dari Probolinggo. Tujuan awal Panjebar Semangat dibangun untuk memberi suntikan motivasi perjuangan melawan penjajahan Belanda.

“Majalah Panjebar Semangat pada masa itu dipakai untuk menyalakan gelora perlawanan pada penjajahan Belanda. Sengaja memakai bahasa Jawa Ngoko Madya agar mudah dipahami pribumi, sedangkan penjajah tidak paham apa maksudnya,” terang Anet-sapaan akrab Celine Anjanette, Rabu siang (17/03/2021).

Majalah Panjebar Semangat. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Majalah Panjebar Semangat. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Edisi pertama dipajang di Ruang Tata Usaha (TU) Panjebar Semangat, Anet menjelaskan, berbentuk lembaran 4 halaman saja. Namun, pada 1935 silam produk Panjebar Semangat berevolusi menjadi majalah dengan 10-15 rubrikasi, 52 halaman yang berubah-ubah. Terbit sekali dalam sepekan.

“Dulu hanya ada lembaran seperti itu, Mas. Sekitar 4 halaman. Tapi, seiring berjalannya waktu, pada 1935 Panjebar Semangat menambah halaman dan menerbitkan majalah sampai sekarang,” imbuh alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.

Ruang kantor majalah Panjebar Semangat. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Ruang kantor majalah Panjebar Semangat. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Panjebar Semangat pernah vakum tatkala masa penjajahan Jepang melalui tentara ke-16 di Jawa. Tercatat pada penjajahan Jepang hingga akhir masa revolusi, Panjebar Semangat tidak terbit. Majalah Panjebar Semangat kembali terbit pada 1949, setelah mengalami pembekuan bertahun-tahun karena perang.

Mengenai distribusi yang paling laris, pelanggan dari Jawa Tengah mendominasi sebanyak 40 persen dari seluruh oplah cetak. Sedangkan pelanggan terbanyak kedua, ada di kawasan Jawa Timur. Sekitar 15 persen pelanggan ada di Kota Pahlawan itu sendiri.

“Dulu paling laris sampai cetak 80.000 eksemplar sekitar tahun 1960-an. Tapi kalau sekarang, cetaknya sebanyak 11.000-13.000 eksemplar saja. Dengan harga langganan Rp 64 ribu untuk Surabaya, Rp 72 ribu untuk Jawa luar Surabaya, Rp 76 ribu untuk luar Jawa per bulan. Harga satuan Rp 16 ribu,” bebernya.

Proses cetak majalah Panjebar Semangat. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Proses cetak majalah Panjebar Semangat. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Rubrikasi paling diminati pelanggan ialah soal mistik. Namanya, Alaming Lelembut. Isinya soal hal-hal kejawen dan metafisika. Ada juga rubrikasi Layang Saka Warga, Cerkak (Cerita Cekak), Cerita Rakyat, Taman Geguritan, Cangkriman Prapatan PS, dan lain-lainnya. Hampir semua tulisan, kiriman dari kontributor Panjebar Semangat.

“Sampai saat ini, selain melalui cetak, ada juga aplikasi Panjebar Semangat yang bisa diunduh di Play Store. Di sana ada fasilitas berlangganan majalah Panjebar Semangat dalam bentuk elektronik, hanya Rp 25 ribu per bulan. Cocok buat anak muda,” imbuh perempuan berusia 24 tahun itu.

Majalah Panjebar Semangat mendapatkan penghargaan dari Muri sebagai majalah bahasa Jawa tertua. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Majalah Panjebar Semangat mendapatkan penghargaan dari Muri sebagai majalah bahasa Jawa tertua. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Puas mengobrol soal sejarah, oplah cetak, harga, dan distribusi Panjebar Semangat. Sebelum pamit, Tugu Jatim diajak berkeliling oleh Anet untuk melihat ruangan-ruangan di kantor Panjebar Semangat. Diperlihatkan pula mesin-mesin percetakan majalah yang ada di gedung seberang kawasan Cagar Budaya itu. (Rangga Aji/ln)

 

  • Bagikan