Mengabdi 24 Tahun, Guru di Bojonegoro Ini Terima Honor Rp116 Ribu Per Bulan

Mengabdi 24 Tahun, Guru di Bojonegoro Ini Terima Honor Rp116 Ribu Per Bulan

  • Bagikan
Sutrisno (tengah), guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Kedewan Bojonegoro saat menyalami murid-muridnya sebelum masuk ruangan
Sutrisno (tengah), guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Kedewan Bojonegoro saat menyalami murid-muridnya sebelum masuk ruangan. (Foto: Istimewa)

BOJONEGORO, Tugujatim.idGuru adalah ujung tombak untuk mencerdaskan generasi muda. Namun jika diamati, banyak kehidupan guru yang belum sejahtera, terutama yang masih berstatus Guru Tidak Tetap (GTT) atau honorer.

Seperti dialami Sutrisno, guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Kedewan, Kabupaten Bojonegoro. Dia hanya menerima upah Rp 14.500 per jam. Sementara dalam satu bulan, dia hanya mendapat jadwal mengajar selama 8 jam. Artinya, dia hanya mendapat gaji Rp 116 ribu per bulan. Padahal dia sudah mengabdi sejak tahun 1997 hingga saat ini.

“Biaya segitu untuk zaman sekarang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan,” katanya.

Untungnya, pria 46 tahun itu juga bekerja sebagai penjaga sekolah di malam hari dengan gaji Rp 400.000 per bulanya.

Di balik keadaan ekonominya yang terbatas, dia masih bisa bersyukur Pemkab Bojonegoro mau membantu guru honorer dengan memberikan tunjangan Rp1.400.000 per bulan.

Karena telah mengabdi selama 24 tahun, dirinya ingin mendapat pengakuan dari pemerintah sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun hal tersebut belum bisa terwujud lantaran formasi yang dia pilih tidak tersedia.

“Mohon dengan hormat kepada beliau yang terhormat pemangku jabatan, GTT menangis dengan masa abdi 24 tahun belum mendapat pengakuan dari pemerintah,” kata dia.

Meski demikian, menjadi seorang guru merupakan profesi mulia yang hingga saat ini menjadi kebanggaan untuknya.

“Saya bangga jadi guru setiap hari bisa mengamalkan ilmu yang saya punya,” ucapnya.

Dia menceritakan ketika mendapati seorang alumni SMPN 1 Kedewan sedang menempuh pendidikan sebagai TNI. Bangga dan haru menyelimuti perasaanya saat melihat siswa yang dulunya dia ajar, kini telah sukses dengan cita-citanya.

“Kebetulan saat itu saya diajak keluarganya untuk berkunjung ke Magetan, tempat dia menempuh pendidikan DIKCATA. Ketika dia melihat saya, anak itu lari ngejar saya dan pegang tangan saya dicium sambil berkata ‘terima kasih pak Tris ini semua karena jasa guru’ nangis saya saat itu terharu dan bangga,” ungkap Sutrisno.

Meski menjadi seorang GTT, namun menurutnya dia masih bisa ikut andil dalam kesuksesan anak bangsa.

“Untuk guru seperjuangan agar tetap semangat mengajar, mendidik, dan menjiwai profesi guru, karena guru tempat anak bangsa mencari inspirasi, tanpa guru negara kita tidak akan berkembang,” pungkasnya.

  • Bagikan