Tugujatim.id – Pemilik Taman Safari Indonesia tengah menjadi sorotan publik usai mencuat dugaan eksploitasi terhadap pekerja sirkus. Dugaan ini mencuat setelah sejumlah laporan menyebutkan adanya perlakuan tidak layak dan jam kerja berlebihan yang dialami para pekerja sirkus yang terlibat dalam pertunjukan di bawah manajemen Taman Safari Indonesia.
Kasus ini pertama kali ramai dibicarakan di media sosial setelah seorang mantan pekerja membagikan pengalamannya. Dia mengaku bekerja hingga belasan jam per hari tanpa kejelasan kontrak kerja dan jaminan kesehatan. Unggahan tersebut viral dan memicu diskusi publik terkait perlakuan terhadap pekerja seni pertunjukan, terutama di industri hiburan yang melibatkan satwa.
Sejarah Taman Safari Indonesia dan Sosok di Baliknya
Di balik kesuksesan besar Taman Safari Indonesia, nama Jansen Manansang dikenal sebagai pemilik sekaligus Direktur Taman Safari Indonesia (TSI) Group. Jansen lahir di Jakarta pada 1942.
Taman Safari Indonesia pertama kali didirikan pada 1981 di atas lahan seluas 55 hektare di kawasan Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Tanah tersebut dulunya merupakan bekas perkebunan Cisarua Selatan yang sudah tidak produktif.
Tidak sendiri, Jansen mendirikan Taman Safari Indonesia bersama saudaranya Frans Manansang, dan Tony Sumampau. Ketiganya berasal dari keluarga yang telah lama berkecimpung di dunia sirkus lewat grup Oriental Circus Indonesia, yang merupakan hasil pengembangan dari usaha hiburan rakyat yang dirintis oleh ayah mereka, Hadi Manansang.
Pada era 1950-an, Hadi Manansang mengajak anak-anaknya mengamen dari satu tempat ke tempat lain—alun-alun, sekolah, kelenteng, hingga paguyuban Tionghoa. Mereka mempertunjukkan atraksi akrobat dan memainkan trisula, sambil menjajakan obat koyok buatan sendiri.
Baca Juga: Viral! Wisatawan Turun di Area Terlarang Taman Safari Prigen Pasuruan
Sekitar 1963–1964, Hadi membentuk grup pertunjukan Bintang Akrobat dan Gadis Plastik. Tiga tahun kemudian, lahirlah Oriental Show yang kemudian berganti nama menjadi Oriental Circus Indonesia pada 1972. Seluruh proses produksi pertunjukan, mulai dari pelatihan satwa, menjahit tenda, hingga pengurusan izin, dilakukan sendiri oleh keluarga Manansang.
Berangkat dari kecintaan terhadap dunia pertunjukan dan satwa, mereka mulai merancang kebun binatang modern yang dikenal kini sebagai Taman Safari Indonesia. Untuk mewujudkannya, mereka bahkan mendatangkan dua konsultan dari Jerman dan Amerika. Proyek ini akhirnya rampung dan dibuka untuk umum pada April 1986, lalu diresmikan sebagai objek wisata nasional pada 16 Maret 1990.
Pada awal pembukaannya, Taman Safari Indonesia menampung sekitar 400 ekor satwa dari 100 spesies dari lima benua, termasuk badak, orang utan, dan harimau. Seiring waktu, jumlah koleksi satwa terus bertambah menjadi lebih dari 7.000 ekor dari 300 spesies. Salah satu yang paling menggemparkan adalah kedatangan sepasang panda dari China yang kini menjadi ikon utama Taman Safari Bogor.
Kini, Taman Safari Indonesia telah berkembang menjadi jaringan konservasi satwa yang memiliki beberapa unit lain, antara lain Taman Safari Indonesia II di Prigen (Jawa Timur), Bali Safari & Marine Park di Gianyar, Batang Dolphin Center di Jawa Tengah, dan Jakarta Aquarium.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati







