Mengulik Perjuangan Secapa AD Melawan Pandemi setelah Terjadi Klaster Corona

  • Bagikan
Pendidikan di Secapa AD. (Foto: tangkapan layar)
Pendidikan di Secapa AD. (Foto: tangkapan layar)

Tugujatim.id – Mayjen TNI Ferry Zein selaku Komandan Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) menjelaskan bahwa tripola pendidikan dasar pendidikan TNI AD itu ada 3, yaitu Akademi Militer yang ada di Magelang yang mendidik taruna dan lulus menjadi Letnan dua, SEPA TK (Sekolah Perwira Prajurit Karier Tentara Nasional Indonesia) yang berkedudukan juga di Magelang yang sumbernya adalah lulusan D3 dan S1 yang dididik menjadi perwira, dan Secapa AD (Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat) di Bandung yang mendidik bintara-bintara yang terpilih untuk menjadi perwira.

“Tugas Secapa AD sendiri adalah pendidikan untuk pembentukan dasar perwira bagi calon perwira TNI AD. Secapa AD ini makanya disebut pendidikan pembentukan karena dia dari Bintara sudah berdinas 9 tahun sampai 11 tahun, kemudian mereka yang terpilih atau lulus tes itu mengikuti jenjang berikutnya untuk kenaikan pangkat atau jabatan keperwiraan,” terangnya, saat mengisi materi dalam Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 yang digagas oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan PT Paragon Technology and Innovation, beberapa waktu lalu.

Ferry Zein menyampaikan bahwa pada bulan Desember 2020 dan Januari 2021, pendidikan Secapa AD sudah dimulai. Mendidik kurang lebih 1.300 orang siswa dan program ini berjalan kurang lebih 7 bulan.

“Jadi pada Juli 2021 ini gelombang pertama sudah berakhir. Kemudian dilanjutkan gelombang kedua pada bulan September 2021 sampai Desember 2021,” bebernya.

“Saat ini Secapa AD dalam setahun mendidik setidaknya 2.300 orang perwira tiap tahun untuk mengisi Perwira Pertama untuk mengisi Komandan Peleton setingkat atau Letnan Dua setingkat dijajaran TNI AD di seluruh Indonesia. Pesertanya juga dari seluruh Indonesia, setelah dididik akan dikembalikan ke satuannya,” imbuhnya.

Berbicara sedikit soal pendidikan TNI AD, pria kelahiran Padang ini menjelaskan ada 3 aspek pendidikan yang dilakukan di dalam proses pendidikan. Dimana ketiganya menyangkut aspek jasmani, aspek sikap atau perilaku atau karakter, dan yang ketiga adalah aspek pengetahuan atau keterampilan.

“Penilaiannya aspek jasmani 10 persen, kemudian aspek keterampilan atau pengetahuan 90 persen karena mereka adalah perwira maka ini menjadi pokok, sedangkan aspek perilaku tidak dinilai tapi dilakukan dalam proses pendidikan,” ungkapnya.

Untuk proses pendidikan di kelas sendiri dilakukan oleh guru militer, kemudian praktik lapangan dilakukan oleh para pelatih, dan bimbingan/pengasuhan dilakukan oleh mentor-mentor setiap peleton yang memiliki satu perwira pendamping yang melekat hampir 24 jam.

“Kemudian kita memiliki semboyan Wiradhika yang artinya perwira yang dapat diandalkan, merupakan penjabaran dari perwira yang dapat dipercaya dan perwira yang memiliki kemampuan profesionalisme keprajuritan,” tuturnya.

Komandan Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat, Mayjen TNI Ferry Zein saat mengisi materi dalam program Fellowship Jurnalisme Pendidikan, Senin (5/7/2021). (Foto: Rizal Adhi/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Komandan Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat, Mayjen TNI Ferry Zein saat mengisi materi dalam program Fellowship Jurnalisme Pendidikan, Senin (5/7/2021). (Foto: Rizal Adhi/Tugu Malang/Tugu Jatim)

“Lalu kita memiliki kode etik yang disebut Budhi Bakti Wira Utama dimana Budhi artinya Perwira yang berbudi luhur, Bakti artinya tunduk atau hormat dan setia, Wira yang artinya memiliki sifat kepahlawanan, Utama adalah mengabdi kepada bangsa dan negara,” tambahnya.

Lebih lanjut, Ferry menceritakan bahwa sejak adanya pandemi Covid-19 pada Maret 2020, Kepala Staff Angkatan Darat (KSAD) memutuskan bahwa pendidikan yang berlaku di AD yang kebanyakan adalah tatap muka dicancel.

“Tapi beliau membuat kebijakan khusus untuk pendidikan pertama dan pendidikan pembentukan seperti Secapa AD tetap berjalan,” ucapnya.

Dia melanjutkan, dari keputusan Secapa AD tetap melaksanakan pendidikan seperti biasa dengan tantangan Covid-19 ini, maka terjadilah klaster terbesar di Bandung waktu saat itu.

“Para siswa ini setiap hari libur mereka keluar (asrama) seperti Selasa dan Rabu mereka keluar, lalu pada Sabtu dan Minggu mereka bisa ijin bermalam. Dan itu pasti ada interaksi dengan masyarakat. Secapa AD juga menjadi viral di media-media sebagai klaster terbesar yang menimbulkan dampak sosial bagi kami sendiri baik personil organik maupun tenaga pendidik begitupun siswa,” katanya.

“Karena ada stigma dari masyarakat bahwa Secapa AD identik dengan penyebar Corona atau orang yang perlu diwaspadai,” sambungnya.

Dari kejadian tersebut, Kepala Staff Angkatan Darat tetap melanjutkan pendidikan tersebut dengan virtual meskipun masih di dalam lingkungan Secapa AD. Ini juga dibarengi treatment atau pengobatan kepada para siswa pada waktu itu.

“Alhamdulillah kurang dari satu bulan atau pada 9 Juli (2020) itu klaster tersebut tersebar di media, kemudian pada 6 Agustus (2020) itu hampir habis pasien-pasien, baik siswa maupun organik di Secapa AD. Dan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami agar kami bisa belajar dan menjadi seperti saat ini,” paparnya.

Menurutnya, dengan adanya 1.300 siswa ini, artinya full atau jumlah maksimal untuk menampung, ini tentunya perlu kiat-kiat agar penularan bisa dijaga.

“Kemudian di Bandung ini bukan zona hijau, tapi merupakan zona orange bahkan ada yang zona merah. Jadi, lingkungan kami berinteraksi sama seperti daerah kami, dan masyarakat banyak yang berinteraksi dengan siswa kami. Kondisi fasilitas kesehatan kami juga terbatas, karena kami tidak memiliki tenaga medis yang banyak, tapi cukup,” jelasnya.

Lalu, pada Maret 2021 dengan bantuan KSAD, dibuatkan satu rumah sakit untuk masyarakat yang didirikan di Secapa AD, yaitu rumah sakit darurat COVID-19.

Selain itu, setiap Minggu juga dilakukan penyemprotan disinfektan dan melakukan penyiapan-penyiapan di ruang kelas.

“Kita juga melakukan rapid tes antigen, kemudian pengecekan suhu badan setiap apel pagi dan apel malam oleh komandan peleton. Lalu mereka makannya kita antarkan ke barak,” ucapnya.

“Bagi yang bergejala akan kita isolasi di rumah sakit darurat tadi, itu juga kita lakukan kepada tenaga pendidik,” sambungnya.

Kegiatan belajar mengajar di kelas juga dibatasi, untuk 14 hari pertama dilakukan pembelajaran daring. “Di 14 hari pertama kita melakukan pembelajaran daring, jadi gurunya mengajar di kelas, tapi siswanya menerima pelajaran dengan laptop di barak masing-masing. Mereka tidak keluar kecuali untuk kegiatan pembinaan fisik,” jelasnya.

“Setiap jam 10 pagi kita juga wajibkan untuk berjemur, lalu setiap pembelajaran dalam kelas juga ada waktu berjemur 10 menit kemudian masuk lagi. Itu adalah untuk menghindari ventilasi udara yang buruk. Jumlah siswa di kelas juga kita kurangi, di kantin juga kita kurangi untuk dipindahkan di tempat-tempat terbuka,” tambahnya.

Ada juga kegiatan bimbingan pengasuhan yang bertujuan untuk melengkapi materi-materi di kelas kemudian apabila masih dirasakan kurang, maka akan digunakan metode bimbingan oleh mentor mereka di luar jam belajar.

“Kegiatan ibadah juga kita batasi karena pandemi Covid-19 ini, jumlahnya tidak boleh dalam jumlah besar sesuai dengan protokol kesehatan,” ucapnya.

Kemudian evaluasi dari Secapa AD bahwa pada Januari 2021 Covid-19 sebenarnya sudah masuk ke asrama mereka.

“Pada Januari 2021 itu saat baru masuk langsung ada yang positif 20 orang, kemudian Februari naik jadi 48 orang, dan Maret sudah mulai turun jadi 12 orang. Kemudian April sampai hari ini Alhamdulillah kami bisa mempertahankan mereka dalam kondisi aman atau negatif,” ucapnya.

“Lalu pada bulan April 2021 mereka divaksin, kecuali yang penyintas dan mereka harus menunggu 3 bulan baru bisa divaksin,” pungkasnya.

 

Penulis: Rizal Adhi PratamaEditor: Gigih Mazda
  • Bagikan