Mengunjungi Ndalem Pojok, Kediaman Kedua Sukarno di Kediri

  • Bagikan
Suasana Ndalem Pojok di Kediri, Jawa Timur. (Foto: Rino Hayyu S)

Hari ini, 75 tahun silam, Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Ya, ‘Putra Sang Fajar’ tersebut merupakan pahlawan sekaligus presiden pertama Indonesia. Meski lahir di Surabaya 6 Juni 1901, rupanya Sukarno juga memiliki rumah di Kediri. Tempat itu dikenal sebagai Ndalem Pojok.

Untuk mengenang secuil perjalanan kehidupan pria yang akrab disapa Bung Karno dan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) RI yang ke-75 tersebut, jurnalis  Tugu Jatim menuliskan kembali kunjungan ke Situs Ndalem Pojok di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Rumah tersebut adalah rumah kedua Sukarno. Di tempat inilah, Sukarno diasuh oleh ayah angkatnya yang bernama Sumosewojo. Di tempat ini juga ada kisah asmara Sukarno dengan istri keduanya, Inggit Garnasih.

Ketika Soekarno ingin menikahi Inggit, awalnya sempat mendapat pertentangan dari Sukeni, ayah kandung Sukarno. Sebab, saat itu Sukarno masih beristrikan Utari yang tidak lain ialah anak H.O.S Cokroaminoto, gurunya di Peneleh, Surabaya. Namun, akhirnya ia mendapatkan restu untuk menikahi Inggit setelah bercerai dengan Utari.

Hal tersebut tidak lain ada peran Sumosewojo.”Keluarga Kedirilah yang menikahkan Bung Karno dengan Bu Inggit,” ucap Kushartono, pemilik Ndalem Pojok.

<img src="pemilik ndalem pojok.jpg" alt="Kushartono, pemilik Ndalem Pojok berada di ruang tamu..">
Kushartono, pemilik Ndalem Pojok berada di ruang tamu. (Foto: Rino Hayyu S)

Pria ini menuturkan jika cerita tentang Sukarno telah didengarkan sejak ia masih kecil. Sebab kakeknya, Raden Mas Sajid Sumodiharjo, merupakan kepala rumah tangga istana kepresidenan zaman Sukarno menjabat. Yang merupakan adik dari Raden Sumosewojo.

Tidak hanya memberikan pertimbangan, Sumosewojo dan rombongan keluarga Kediri yang tinggal di Ndalem Pojok, juga mengantar Bung Karno untuk menikahi Inggit di Bandung. Sebab, orang tua kandung Sukarno, yakni Sukeni dan Nyoman Ida, merasa tidak enak hati dengan Cokroaminoto.

“Kemungkinan ada rasa (tidak enak) seperti itu di keluarga Blitar (Sukeni),” imbuh Kushartanto.

Hal ini diperkuat juga buku karya Ramadan K.H berjudul ‘Ku Antar Ke Gerbang Kemerdekaan’ yang menceritakan bagaimana pernikahan dan kehidupan Inggit selama mendampingi Sukarno muda kala itu.

Dalam buku tersebut, Inggit menyatakan jika pernikahannya dengan Sukarno sangat sederhana. Sebab, Inggit berasal dari keluarga biasa.

<img src="kamar sukarno.jpg" alt="Kamar masa kecil Sukarno di Ndalem Pojok.">
Kamar massa kecil Sukarno di Ndalem Pojok, Kediri, Jawa Timur. (Foto: Rino Hayyu S)

“Kusno (panggilan kecil Sukarno) menggunakan baju putih dan jas beludru hitam,” terang Inggit dalam buku itu.

Kushartono menambahkan, jika Inggit diantar Sajid Sumodiharjo ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya oleh keluarga Ndalem Pojok ketika Sukarno akan diberangkatkan ke Ende, Nusa Tenggara Timur. Kapal laut Sukarno dari Jakarta sempat berlabuh di Perak, Surabaya.

Hal ini diperkuat oleh ilustrasi gambar dalam buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’. Ilustrasi tersebut menerangkan jika Bung Karno serta keluarga naik Kapal Van Riebeeck dari Pelabuhan Surabaya menuju tempat pembuangan Ende, Flores pada 1933.

Ada pun kondisi Ndalem Pojok sangat berbeda dengan deretan rumah di kawasan rumah sekitar. Di sana mempunyai halaman luas. Ada sebuah pohon kantil yang usianya ratusan tahun. Udara yang sejuk dan keheningan kampung membuat orang yang singgah di sana merasa nyaman.

Mungkin, hal ini yang dirasakan Sukarno kecil alias Kusno. Sehingga, semasa mendapatkan perawatan dari Sumosewojo, ayah angkat Koesno pada umur 2-5 tahun, yakni sekitar tahun 1903 – 1906.

Menurut Kushartono, yang juga cucu dari Sumosewojo ini, Ndalem Pojok memiliki nuansa tempo dulu yang kental. Terdapat lampu gantung yang sudah dimodifikasi dengan dop listrik, juga banyak foto-foto BK terpajang di dinding. Di ruang tamu itu pula terdapat sebuah etalase yang memajang koleksi Bung Karno.

Beberapa koleksi itu di antaranya tongkat, tasbih, wayang, dan buku-buku yang pernah dibaca serta buku-buku tentang diri Bung Karno. Lalu rumah bagian belakang berdinding kayu, dengan atapnya yang tinggi dan jendela besar yang menjadi ciri khas rumah era abad-18. Di tempat ini juga ada sebuah kamar yang diyakini pernah ditiduri oleh Bung Karno.

 

Reporter : Rino Hayyu S

Editor : Irham Thoriq

  • Bagikan