MOJOKERTO, Tugujatim.id – Menteri HAM, Natalius Pigai mengunjungi korban kasus dugaan keracunan MBG di Mojokerto, Rabu (14/01/2026).
Menteri Pigai mengatakan, pihaknya datang untuk memastikan program strategis Presiden Prabowo Subianto ini tetap berjalan sesuai prosedur dan standar operasional yang berlaku.
Tak hanya itu, Menteri Pigai juga memastikan evaluasi menyeluruh terkait insiden ini.
“Pihak yang memasak dan menyajikan makanan harus diganti. Secara kebijakan, BGN melakukan evaluasi serta SPPG yang sama tidak boleh menyajikan makanan kembali, ini menyangkut kepercayaan orang tua dan keamanan anak-anak kita,” jelasnya.
Sebagai upaya pencegahan, pihak Kementerian HAM memberi instruksi kepada Pemkab Mojokerto untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, seperti rapat koordinasi rutin yang dilakukan antara 3 hingga 4 bulan sekali. Koordinasi berkala ini diharapkan melibatkan jajaran hingga level kepala desa, tokoh masyarakat, maupun orang tua.
“Koordinasi itu bertujuan agar pemenuhan gizi berjalan terpadu dan profesional demi cita-cita besar mencetak generasi unggul,” urai Menteri Pigai.
Selain itu, tidak hanya penanganan medis, dari keterangan yang diterima, pemerintah daerah setempat turut memberikan pendampingan psikologis (trauma healing). Pendampingan ini penting supyaa anak-anak tetap merasa aman meski pelajar terdampak insiden tersebut masih antusias bersekolah.
Pemkab Mojokerto juga menjamin biaya perawatan medis korban dijamin melalui program Universal Health Coverage (UHC) Prioritas untuk warga Kabupaten Mojokerto. Sementara, untuk santri dari luar Kabupaten Mojokerto, seperti Sidoarjo atau Jombang, koordinasi pembiayaan medis diteruskan kepada pihak BGN.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto kini turut mempercepat proses pengurusan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Bergizi (SPPBG). Dari total 77 SPPBG, baru 11 dapur yang telah mengantongi SLHS.
Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) juga digencarkan, termasuk pengujian saluran air, fasilitas cuci tangan, hingga higienitas tempat pengolahan makanan untuk memastikan standar keamanan pangan terpenuhi.
“Saat ini, sampel makanan masih proses analisis laboratorium untuk mengetahui penyebab utama dugaan keracunan,” tutup Bupati Albarraa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Darmadi Sasongko








