Surakarta, 14 Februari 2025

Penulis: Dr. Sugit Zulianto, M.Pd.
*Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP dan Peer Group Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Javanologi, Universitas Sebelas Maret
Tugujatim.id – Menulis biografi perlu dilakukan untuk mendukung terciptanya kualitas regenerasi yang lebih baik karena ada keteladanan hidup seseorang pada masa lalu yang dapat diwariskan kepada generasi penerus melalui buku biografi yang komprehensif. Hal itu terjadi karena dalam biografi lazim berisi penerapan nilai-nilai dalam kehidupan seseorang sejak dini (masa kecil) hingga masa kini (masa dewasa).
Dengan penuangan atau penulisan kisah kehidupan secara utuh, generasi penerus dapat membaca, sekaligus mempelajari perilaku yang menyebabkan kesuksesan dan/atau kegagalan seseorang, terutama tentang pengalaman psikis yang dialami oleh orang tua dan/atau tokoh masyarakat.
Biografi sebenarnya merupakan gambaran rinci kehidupan seseorang, misalnya tentang pendidikan, pekerjaan, prestasi, dan kedukaan, serta pengalaman seseorang tentang peristiwa kehidupan yang paling pahit. Itu berarti bahwa ada pengalaman umum yang dapat diungkapkan dalam biografi.
Sebaliknya, ada juga aspek pengalaman privasi/pribadi yang disajikan dalam biografi. Hal-hal umum yang diungkapkan dapat berkenaan dengan pengembangan diri secara formal, misalnya pelatihan keterampilan bidang tertentu atau pendidikan formal yang dijalaninya hingga dewasa. Itu bisa biasa. Akan tetapi, mungkin juga ada alasan khusus/pribadi yang secara psikologis dipaparkan dalam biografi sang tokoh.
Dalam hal ini, alasan psikologis pribadi yang dapat diwariskan melalui biografi, misalnya kemandirian, ketabahan, kebersamaan, dan kepedulian. Alasan privasi itu tidak pernah sama antarsesama sehingga dapat dipastikan ada pengalaman yang berbeda dari orang lain.
Berkenaan dengan nilai kemandirian, misalnya, seseorang dapat mengungkapkan kisah naratif saat harus mengatasi pemenuhan kebutuhan pokok di usia dini. Sejalan dengan itu, seseorang dapat bercerita tentang ketabahannya karena hidup mandiri hingga dewasa. Sebagai ilustrasi, sebagai sosok sebatang kara, seseorang tidak pernah mengeluh. Pada kondisi psikologis itu, pekerjaan rutin, termasuk belajar yang dijalaninya tanpa fasilitas memadahi dengan teman sejawat dapat diungkapkan. Dalam keadaan itu, suasana kebersamaan yang dibangun hingga saling memedulikan antarsesama, mungkin saja layak dijadikan contoh bagi publik pembaca.
Sebagai konsekuensi sosialnya, melalui sebuah buku biografi, warga masyarakat dapat memahami kehidupan seseorang (tokoh), terutama tentang bagaimana sang tokoh menghadapi dan menjalani lika-liku hidup, serta bagaimana menemukan dan menyelesaikan kompleksitas problematikanya. Dengan kata lain, warga masyarakat dapat mengerti bagaimana sang tokoh menceritakan dan mengalami proses hidup sehari-hari, termasuk saat menerapkan multinilai yang diyakini kebenarannya dalam kehidupan bermasyarakat. Jika biografi tentang figur publik, misalnya, warga masyarakat dapat memperoleh kemudahan untuk mengenali watak calon pemimpinnya. Jika tidak tersedia biografi, warga masyarakat akan kesulitan meneladani karakter tokoh yang akan memimpin dalam kehidupan nyata.
Dengan pemahaman tersebut, memang perlu diminimalkan, bahkan patut dilesapkan tentang anggapan bahwa sebuah buku biografi hanya dimaksudkan untuk mengunggulkan diri seseorang agar citranya tampak lebih baik di mata orang lain. Pandangan itu dapat dibenarkan karena dapat ditemukan bukti empiriknya bahwa biografi ditulis untuk tujuan sosial politis. Akan tetapi, perlu juga dipahami bahwa kelahiran sebuah buku biografi sesungguhnya dapat digunakan sebagai pijakan untuk menempa/membentuk karakter calon regenerasi muda melalui keteladanan (perilaku baik) seseorang. Apalagi, biografi tokoh-tokoh “besar” di lingkungan masyarakat nasional-global. Keberadaan biografinya tentu sangat dinantikan oleh warga masyarakat luas.
Namun demikian, menulis biografi seseorang relatif berat sebab memerlukan ketelitian yang cermat. Untuk itu, seseorang penulis harus tabah untuk menelaah kisah kehidupan yang dialami oleh seorang tokoh. Dalam hal ini, pengumpulan data tentang tokoh harus ditelusuri melalui studi dokumen yang tersedia, baik cetak maupun elektronik. Selanjutnya, penulis biografi harus mewawancarai sang tokoh sebagai informan kunci. Hal itu pun kadang tidak cukup bila wawancara dilakukan sekejap. Sebaliknya, wawancara mendalam harus ditempuh hingga diperoleh data psikologis yang cermat. Untuk itu, seorang tokoh harus juga jujur dan sabar bila diwawancarai dalam waktu yang relatif lama.
Nah, bila data seseorang sudah diperoleh, baik secara cetak maupun elektronik, bukan hanya sang tokoh yang diwawancarai. Sejalan dengan itu, relasi dan kawan-kawan sang tokoh pun harus diwawancarai agar diperoleh data yang makin cermat. Oleh sebab itu, tidak jarang dilakukan penulisan biografi sang tokoh hingga memerlukan waktu yang relatif lama karena luasnya ruang kehidupan sang tokoh. Apalagi, seorang tokoh yang ditulis dalam biografi merupakan orang “besar” sehingga kecermatan data pun amat diperlukan. Sungguh, dalam kehidupan memang tidak ada kesempurnaan diri seseorang, tetapi patut diyakini bahwa sesederhana apapun, masih ada kebaikan yang dapat dijadikan sebagai contoh pemajuan regenerasi akan datang. Akhirnya, menulis biografi sesungguhnya dapat dijadikan sebagai pintu yang terbuka dalam pewarisan multinilai kepada regenerasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Kontak Penulis :
Dr. Sugit Zulianto, M.Pd.
sugit_zulian@staff.uns.ac.id/085241064789








