Tugujatim.id – Kabupaten Kediri, Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang menyimpan peninggalan sejarah dari masa ke masa.
Salah satu pusat pelestarian sejarah tersebut adalah Museum Bagawanta Bhari yang diresmikan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kediri, Usri Sastradireja pada 5 Juli 1985.
Namun, nama Museum Bagawanta Bhari belakangan mencuat setelah peristiwa penjarahan pada Sabtu malam, 30 Agustus 2025. Sejumlah koleksi berharga raib dijarah massa dalam aksi yang juga merusak gedung pemerintah di sekitarnya.
Keberadaan museum ini berfungsi untuk melindungi dan menyelamatkan benda cagar budaya yang ada di wilayah Kediri, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Sebagian koleksi bahkan pernah dititipkan di Museum Mpu Tantular dan Museum BP3 Trowulan/Pusat Informasi Majapahit (PIM) sebagai bentuk upaya pelestarian.

Museum ini menyimpan koleksi yang kaya, mulai dari arca, wastra, hingga miniatur tradisional, sekaligus menyimpan kisah sejarah yang erat kaitannya dengan tokoh spiritual bernama Bagawanta Bhari.
Museum Bagawanta Bhari berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, Katang, Doko, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur 64182, Indonesia. Persisnya, di belakang gedung DPRD Kediri. Lokasinya mudah diakses baik oleh masyarakat lokal maupun wisatawan luar daerah.
Koleksi Bersejarah di Museum Bagawanta Bhari
Museum Bagawanta Bhari menyimpan berbagai koleksi kepurbakalaan dari masa kerajaan hingga peninggalan klasik. Beberapa di antaranya memiliki nilai sejarah dan simbolis yang tinggi bagi masyarakat Kediri.

Dilansir dari Profil Kebudayaan Kabupaten Kediri yang dihimpun Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (2006), museum ini juga mencerminkan semangat masyarakat dalam menjaga kelestarian budaya. Beberapa peninggalan yang tersimpan di museum ini, diantaranya :
1. Arca Ganesha – digambarkan sebagai manusia berkepala gajah dengan empat tangan, melambangkan dewa ilmu pengetahuan dan keselamatan.
2. Arca Nandi – berbentuk sapi, menjadi wahana sekaligus simbol Dewa Siwa.
3. Miniatur Rumah – artefak pemujaan Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, biasa ditempatkan di sawah.
4. Arca Tokoh – arca dua sisi berbentuk laki-laki dan perempuan yang belum teridentifikasi.
5. Arca Brahma – bagian dari Trimurti Hindu, digambarkan berwajah empat dengan atribut camara dan aksamala.
6. Jaladwara – saluran air dari candi, berbentuk makhluk mistis bawah air, melambangkan tolak bala.
7. Bejana/Gentong Batu – wadah penyimpanan air dari masa lampau.
8. Arca Wisnu – dewa penjaga alam semesta, digambarkan dengan senjata Chakra dan bunga teratai.
9. Kepala Kala – ornamen candi berbentuk kepala raksasa, simbol penolak bala.
10. Lapik Arca – alas arca berhias padma atau teratai, disebut Padmasana.
11. Umpak Batu – penyangga tiang bangunan dari batu andesit.
12. Fragmen Tembikar – pecahan gerabah dari situs sejarah di Kediri.
Siapa Bagawanta Bhari?
Nama museum ini sama dengan mama seorang tokoh spiritual dari Desa Culanggi, Bagawanta Bhari.
Mengutip dari laman resmi kedirikab.go.id, Bagawanta Bhari dikenal sebagai sosok bijak yang pada masa pemerintahan Sri Maharaja Rake Layang Dyah Tuladong mendapatkan penghargaan khusus.
Penghargaan tersebut bisa disamakan dengan Parasamya Purnakarya Nugraha, atau di era modern mirip dengan Kalpataru, penghargaan untuk penyelamat lingkungan.

Bagawanta Bhari dikenal karena kiprahnya menyelamatkan lingkungan dari ancaman banjir tahunan yang kala itu kerap melanda wilayahnya. Dengan ketekunan dan tanpa pamrih, ia berhasil menjadi panutan sekaligus idola masyarakat Kediri pada zamannya. Sosok ini dianggap sebagai simbol keteguhan dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Koleksi Dijarah dalam Kerusuhan
Sayangnya, beberapa koleksi penting museum raib akibat kerusuhan pada 30 Agustus 2025. Menurut Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, benda yang hilang antara lain fragmen kepala Ganesha, tiga wastra kain batik, miniatur lumbung, serta arca Bodhisatwa.
Fragmen kepala Ganesha menjadi perhatian khusus karena dianggap memiliki kedekatan sejarah dengan Kabupaten Kediri. Benda tersebut bahkan dikenal sebagai simbol pemerintah daerah setempat.
Selain museum, aksi massa juga merusak kantor Pemerintah Kabupaten Kediri, gedung DPRD, dan sejumlah bangunan lain di sekitarnya. Kondisi kaca-kaca museum pecah, perabotan rusak, dan suasana mencekam menyelimuti kawasan tersebut.
Imbauan Bupati Kediri
Bupati Kediri, Hanindhito mengimbau masyarakat yang mengetahui keberadaan benda-benda tersebut untuk segera melapor atau mengembalikannya. Ia juga meminta kesadaran para pelaku untuk mengembalikan koleksi museum tanpa harus merasa takut.
“Silakan dikembalikan ke kantor Pemkab atau di mana saja, kalau memang malu. Kami berharap benda-benda itu bisa kembali, karena cagar budaya punya nilai sejarah,” kata Hanindhito.
Menurutnya, cagar budaya bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga milik seluruh masyarakat Kediri. Kehilangannya akan menjadi kerugian bersama yang tidak ternilai harganya.
Sebab, keberadaan Museum Bagawanta Bhari Kediri menjadi simbol penting pelestarian budaya dan sejarah di daerah ini. Koleksi yang tersimpan di dalamnya bukan hanya benda mati, melainkan saksi bisu perjalanan peradaban di Kediri.
Tragedi penjarahan koleksi pada 30 Agustus 2025 menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan leluhur. Sehingga, masyarakat diharapkan dapat mengembalikan dan melestarikan koleksi yang hilang agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Feni Yusnia
Editor: Darmadi Sasongko








