TUBAN, Tugujatim.id – Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Tuban meninggal dunia pada Selasa (13/05/2025) sore setelah mengalami kejang. Almarhumah meninggal dunia secara mendadak setelah sempat dirawat intensif di RSUD dr. R. Koesma Tuban.
Korban diketahui bernama Sri Yulia (24), warga Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban. Ia merupakan narapidana kasus narkotika dan telah menjalani hukuman selama lebih dari satu tahun dari total vonis empat tahun penjara yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Tuban.
Menurut Kepala Lapas Lapas Kelas IIB Tuban, Irwanto Dwi Yhana Putra, Sri Yulia sebelumnya pernah mengalami riwayat kejang sejak usia anak-anak.
“Kami masih mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak dan menunggu hasil investigasi medis secara menyeluruh,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan.
Gejala pertama muncul pada Senin malam (12/05/2025). Saat itu, Sri Yulia mengeluh gelisah dan sulit tidur. Petugas medis lapas segera melakukan pemeriksaan awal dan memberikan obat penenang ringan. Setelah kondisinya membaik, ia kembali ke blok hunian untuk beristirahat.
“Besok paginya masih beraktivitas seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda aneh,” terang Irwanto.
Namun, siang harinya sekitar pukul 12.30 WIB, kondisinya berubah drastis. Ia mendadak mual, muntah, dan tampak lemas. Petugas kembali membawanya ke klinik lapas untuk dilakukan observasi lanjutan. Usai mendapatkan penanganan, ia sempat dibawa kembali ke blok.
Sayangnya, beberapa jam kemudian kondisinya memburuk. Sore harinya, Sri Yulia kembali mengalami kejang-kejang hebat. Petugas segera merujuknya ke RSUD dr. R. Koesma Tuban, sambil menghubungi pihak keluarga.
Sesampainya di rumah sakit, tim medis langsung melakukan penanganan darurat. Namun, nyawanya tak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 18.00 WIB.
“Hasil awal diagnosa dari dokter menyebutkan korban mengalami kejang yang berujung pada henti jantung,” ujar Irwanto.
Pihak Lapas Tuban mengaku sangat kehilangan. Selama berada di dalam lapas, Sri Yulia dikenal aktif dan disiplin. Ia bahkan dipercaya sebagai pengibar bendera dalam upacara harian.
Meski ada dugaan riwayat kejang sejak kecil, pihak lapas belum bisa menyimpulkan penyebab pasti kematian. Informasi yang beredar menyebut korban sebelumnya sempat mengonsumsi minuman kemasan, namun dugaan itu masih dalam proses penyelidikan.
“Kami masih dalami semua kemungkinan, termasuk minuman yang dikonsumsi. Semua pihak kami libatkan agar kejadian ini bisa terungkap dengan jelas,” pungkas Kalapas.
Hingga berita ini ditulis, jenazah telah diserahkan ke keluarga untuk dimakamkan. Sementara proses investigasi internal maupun medis masih terus berjalan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








