Nestapa Ibu 3 Anak Korban Gempa Malang, Rumah Hancur saat 100 Hari Meninggalnya Suami

  • Bagikan
Potret Anita bersama kedua anaknya, Arum sekarang masih sekolah di taman kanak-kanak dan Mahesa kelas 4 SD. (Foto: Bayu Eka/Tugu Jatim)
Potret Anita bersama kedua anaknya, Arum sekarang masih sekolah di taman kanak-kanak dan Mahesa kelas 4 SD. (Foto: Bayu Eka/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Sorot mata haru masih tampak jelas di mata Anita, 38, warga Desa Tirtoyudo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Dia tampak masih belum bisa menahan kesedihannya atas musibah yang terus mendatangi kehidupannya.

Bagaimana tidak, belum genap 100 hari meninggalnya sang suami, ibu 3 anak ini juga kehilangan rumah saat gempa 6,1 Magnitudo yang menghancurkan rumah satu-satunya yang dia miliki pada Sabtu lalu (10/04/2021).

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang
Kondisi rumah mereka yang telah rata dengan tanah di Desa Tirtoyudo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. (Foto: Bayu Eka/Tugu Jatim)
Kondisi rumah mereka yang telah rata dengan tanah di Desa Tirtoyudo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. (Foto: Bayu Eka/Tugu Jatim)

Kepada tugumalang.id, partner tugujatim.id, Anita bercerita jika saat kejadian dia dan kedua anaknya sedang menghadiri acara perpisahan sekolah anaknya.

“Waktu itu saya sedang melaksanakan perpisahan sekolah anak saya. Saya juga merasakan sendiri gempa yang dahsyat itu,” terangnya saat menerima bantuan dari Tugu Media Peduli pada Selasa (27/04/2021).

Sebagian perlengkapan rumah tangga Anita rusak dan tertimbun reruntuhan gempa. (Foto: Bayu Eka/Tugu Jatim)
Sebagian perlengkapan rumah tangga Anita rusak dan tertimbun reruntuhan gempa. (Foto: Bayu Eka/Tugu Jatim)

Anita sebenarnya sudah merasakan firasat buruk karena merasakan gempa yang begitu dahsyat. Benar saja, saat dia kembali, rumah sudah porak poranda dan rata dengan tanah.

“Lalu saat pulang itu rumah saya sudah roboh, kan rumah saya ada di belakang sini,” ujarnya sambil menunjukkan rumahnya yang berada di belakang rumah warga lainnya yang ikut terdampak.

Beruntung, saat kejadian anak pertamanya sedang bekerja dan kedua anaknya yang masih kecil tidak ada di rumah saat kejadian.

“Untungnya, anak saya keduanya ikut saya waktu kejadian, jadi alhamdulillah tidak jadi korban,” syukurnya tak henti-henti.

Boneka milik Arum berada di lantai rumahnya yang telah rata. (Foto: Bayu Eka/Tugu Jatim)
Boneka milik Arum berada di lantai rumahnya yang telah rata. (Foto: Bayu Eka/Tugu Jatim)

Anita sendiri mengatakan tidak tahu apa jadinya jika saat itu anak-anaknya berada di rumah. Dia mengatakan, pasti tidak akan bisa menahan haru lagi karena belum 100 hari ditinggalkan suami yang meninggal akibat penyakit menahun.

“Suami saya sudah meninggal, baru kemarin 100 harinya,” bebernya.

Kini mereka tinggal di rumah tetangganya untuk mengungsi. (Foto: Bayu Eka/Tugu Jatim)
Kini mereka tinggal di rumah tetangganya untuk mengungsi. (Foto: Bayu Eka/Tugu Jatim)

Kini dia hanya bisa menunggu tangan-tangan dermawan agar mau membantu mendirikan rumahnya yang sudah tidak bersisa lagi. Sementara untuk keseharian, dia dan anak-anaknya harus mengungsi ke rumah kerabatnya.

“Harapan saya, semoga ada yang mau membantu membangunkan rumah karena kasihan anak-anak yang harus mengungsi. Dari pemerintah sebenarnya sudah dimintai KK, tapi ya belum tahu kapan akan dibangun,” ujarnya.

  • Bagikan