Ngonthel, Lestarikan Budaya dan Sehatkan Tubuh

Ngonthel, Lestarikan Budaya dan Sehatkan Tubuh

  • Bagikan
Rombongan anggota KOSTI Kabupaten Malang saat berkumpul di Desa Tangkilsari, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang.
Rombongan anggota KOSTI Kabupaten Malang saat berkumpul di Desa Tangkilsari, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. (Foto: Aisyah Nawangsari/Tugu Malang)

MALANG, Tugujatim.idNgonthel atau naik sepeda boleh dibilang melestarikan budaya sekaligus menyehatkan tubuh. Pasalnya, naik sepeda termasuk kategori berolahraga juga sebagai tradisi yang sebetulnya sudah lama dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Hal inilah yang dipraktikkan oleh sekelompok komunitas sepeda onthel di Kabupaten Malang.

Pada Minggu pagi, 19 Juni 2022, yang cerah ada sekelompok pengguna sepeda onthel yang terlihat uni ketimang lainnya. Pasalnya, kelompok ini menggunakan sepeda tua yang terlihat klasik dengan dipasang bendera di bagian belakang, persis seperti pawai di bulan Agustusan. Rupanya mereka adalah para pecinta ngontel sepeda tua yang sedang berolahraga dan sekaligus melestarikan budaya.

Memang, Kabupaten Malang memiliki banyak komunitas atau klub sepeda onthel. Tercatat ada 56 klub sepeda onthel dengan total anggota sekitar 700 orang. Klub-klub ini berasal dari berbagai kecamatan seperti Gondanglegi, Kepanjen, Tajinan, Bululawang, Pakisaji, dan kecamatan lainnya.

Dua di antaranya klub itu adalah Komunitas Onthel Masyarakat Pakisaji (KOMPAS) dan Sedulur Onther Ketawang (SOK). Semua klub ini bernaung di bawah Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Kabupaten Malang yang berdiri pada tahun 2012.

Kegiatan hari bersepeda Internasional 5 Juni 2022 di GOR Turen. (Foto: Dokumen/KOSTI Kabupaten Malang)

Ketua KOSTI Kabupaten Malang, Robertus Muji Priyanto, saat diwawancara mengatakan bahwa komunitas ini berdiri dengan visi guyub rukun seduluran selawase atau menjalin persatuan, kerukunan, dan persaudaraan selamanya. Selain itu juga sebagai upaya untuk melestarikan sepeda onthel yang merupakan budaya asli Indonesia.

“Kami di sini mempererat tali silaturahmi, menyehatkan badan, serta melestarikan budaya sepeda kuno agar tetap digunakan untuk berolahraga,” ujar Robert.

Sepeda onthel sendiri merupakan moda transportasi yang digunakan oleh para pejuang di masa lampau. Robert berharap dengan lestarinya sepeda onthel, masyarakat Indonesia bisa mengenang para pahlawan dan memiliki semangat mereka.

“Ini juga untuk menanamkan nilai-nilai kepahlawanan. Para pejuang dulu menggunakan sepeda onthel sebagai sarana berjuang,” kata Robert.

Meskipun saat ini masyarakat banyak yang menggemari sepeda modern, namun sepeda onthel masih diminati karena keunikan-keunikannya.

Salah satunya adalah dengan mengayuh sepeda onthel, mereka tidak merasa perlu terburu-buru. Ini dikarenakan sepeda onthel tidak memiliki gear atau gigi yang perlu diganti-ganti. Dengan begitu, pengayuh sepeda onthel tidak fokus pada kecepatan dan mengendarainya dengan santai.

“Olahraga kami bukan untuk kebut-kebutan, bukan untuk balap-balapan, tapi lebih cenderung pada sehat dan rekreasi. Jadi menyenangkan, ya,” kata Robert.

Kegiatan bersepeda peringatan HUT RI ke 76 dari Malang ke Blitar oleh klub KOMPAS Pakisaji.
Kegiatan bersepeda peringatan HUT RI ke 76 dari Malang ke Blitar oleh klub KOMPAS Pakisaji. (Foto: Dokumen/KOSTI Kabupaten Malang)

Keunikan lainnya adalah sepeda onthel bisa dipasangi bendera sebagai identitas klub. Mereka juga memasang bendera merah putih agar lebih meriah. Agar menambah hiburan, ada juga yang memasang speaker dan memutar lagu-lagu di sepanjang jalan.

Bendera-bendera yang dipasang di sepeda onthel ini cukup mencolok. Setiap kali mereka melintas di jalan, orang-orang pasti mengenali mereka sebagai anggota klub pecinta sepeda onthel.

“Bendera itu juga membantu agar pengendara lain bisa melihat bahwa di situ ada kegiatan sehingga mereka bisa berhati-hati,” ujar Robert.

Ukuran bendera yang cukup besar rupanya tak menjadi beban bagi para anggota untuk mengayuh. “Kalau bawa bendera, memang semakin banyak semakin berat. Kalau dipandang berat ya berat. Tapi kan kami nggak ngebut di jalan, dibawa santai saja,” imbuh Robert.

Sangat disayangkan saat ini tak ada lagi sepeda onthel yang diproduksi di dalam negeri. Peminat sepeda onthel masih bisa membelinya, namun hanya produksi dari luar negeri.

“Sepeda onthel yang kuno-kuno itu sudah tidak ada ya. Yang merek-merek luar negeri masih ada, yang dalam negeri sudah tidak ada,” kata Robert.

Seperti salah satu misi mereka yang ingin menanamkan nilai-nilai kepahlawanan, pada Bulan November mendatang, KOSTI Kabupaten Malang akan mengadakan Ngonthel Sepeda Sehat dari Kecamatan Turen ke Kota Malang sejauh 27 kilometer.

Dengan kegiatan ini serta ngonthel rutin setiap Minggu yang dilakukan setiap klub, Robert berharap ke depannya sepeda onthel semakin akrab di hati masyarakat.

“Diharapkan semakin banyak peminat sepeda onthel. Bukan cuma kaum tua, tapi juga kaum muda,” tutup Robert.

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan