Night Owl Person Lebih Berisiko Terkena Diabetes, Ini Penjelasan Ahlinya!

Night owl person. (Foto: Pixabay/Tugu Jatim)
Ilustrasi "night owl person" yang cenderung aktif di malam hari. (Foto: Pixabay)

Tugujatim.id – Siapa di sini yang merasa jika diri Anda adalah seorang night owl person atau orang yang aktif di malam hari. Baru-baru ini sebuah penelitian pada jurnal Fisiologi Eksperimental oleh peneliti di Universitas Rutgers menunjukkan bahwa manusia yang doyan begadang lebih berisiko terkena diabetes tipe 2 daripada orang yang tidur lebih awal.

Melansir dari NIDKK, diabetes tipe 2 dapat berkembang pada orang yang sudah memiliki beberapa resistensi insulin atau sel beta di pankreas yang tidak membuat cukup insulin untuk menjaga glukosa darah dalam kisaran normal. Tanpa insulin yang cukup, glukosa ekstra tetap berada di aliran darah daripada memasuki sel Anda.

Para ahli menjelaskan bahwa kali ini faktor dari kurangnya waktu tidur ikut menyumbangkan nama dalam jajaran pemicu perkembangan resistensi insulin, selain pola makan yang buruk (terlalu banyak gula atau kalori yang berlebihan) dan kurangnya aktivitas fisik.

“Namun baru-baru ini, kurang tidur telah diangkat sebagai faktor perilaku penting lainnya yang berkontribusi terhadap resistensi insulin,” kata Steven Malin, rekan penulis studi Fisiologi Eksperimental dan seorang profesor di departemen kinesiologi dan kesehatan di Universitas Rutgers.

Malin dan rekan sejawat dalam penelitian ini melibatkan peserta studi selama satu minggu untuk mengukur metabolisme dan tingkat aktivitas mereka seharian penuh bahkan saat tidur. Ditemukan bahwa mereka yang begadang memiliki kemampuan yang berkurang untuk menggunakan lemak menjadi energi.

Penumpukan lemak yang terjadi di dalam tubuh inilah yang pada akhirnya dapat menyebabkan peningkatan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Sebaliknya, orang “early bird” atau mereka yang aktif di pagi hari dikatakan lebih mengandalkan lemak sebagai sumber energi dan menunjukkan tingkat kebugaran yang lebih tinggi.

Penjelasan lainnya adalah karena gaya hidup mereka yang mengganggu ritme sirkadian, yakni jam internal yang mengatur proses penting dan fungsi tubuh (siklus tidur/bangun tubuh). Malin mengatakan, manusia tidak mendapatkan kualitas tidur yang cukup, maka akan berakibat pada peningkatan risiko penyakit.

“Perbedaan metabolisme lemak antara ‘early birds’ dan night owl person menunjukkan bahwa ritme sirkadian tubuh kita dapat memengaruhi bagaimana tubuh menggunakan insulin,” kata Malin dalam siaran persnya dikutip dari Insider.

Terakhir, untuk mengatasi pola tidur yang tidak sehat ini, dia menyarankan untuk menjauhi berbagai kegiatan yang dapat menjadi pemicu. Beberapa di antaranya menghindari aktivitas yang berat di malam hari, makanan berkafein atau gula dalam jumlah tinggi, dan hindari layar ponsel sebelum tidur.