MALANG, Tugujatim.id – Cuaca terik di Kota Malang pada Minggu (07/06/2026) terasa lebih bersahabat saat menemukan salah satu hidden gem kuliner legendaris, yakni Rujak Cingur Brantas milik Bu Sumiati. Sajian khas Jawa Timur ini pun jadi pelarian pas di tengah panasnya kota favorit warga lokal hingga mahasiswa.
Beberapa pelanggan tampak duduk santai di kursi kayu panjang sambil menikmati seporsi rujak cingur. Ada yang datang bersama teman, ada pula mahasiswa yang terlihat makan sendiri sembari memainkan ponsel. Suara cobek yang dipakai mengulek bumbu terdengar bersahutan dari area dapur terbuka.
Sesekali, penjual memanggil pesanan pembeli yang sudah selesai diracik. Suasana sederhana tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan yang datang.
Baca Juga: Berburu Sarapan di Soto Duro Markeso, Kuliner Legendaris di Malang yang Terkenal Maknyuz dan Murah
Salah satu warung rujak cingur yang cukup ramai dikunjungi pembeli ini adalah Rujak Cingur Brantas Bu Sumiati yang berada di Jalan Terusan Sengkaling, Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Warung milik keluarga Dwi tersebut telah berdiri selama lebih dari 20 tahun dan masih mempertahankan cita rasa tradisional hingga sekarang.
Warung ini mulai buka sejak pukul 08.00-17.00 WIB setiap hari. Dengan harga yang cukup terjangkau, satu porsi rujak cingur dijual seharga Rp12 ribu dan banyak diminati berbagai kalangan, mulai dari warga sekitar hingga mahasiswa yang tinggal di kawasan Dau dan Sengkaling.
Rasa Konsisten selama 20 Tahun Lebih
Rujak Cingur Brantas sudah berdiri lebih dari 20 tahun dan menjadi salah satu kuliner langganan warga sekitar maupun mahasiswa yang tinggal di kawasan Dau dan Sengkaling. Warung tersebut kini dijalankan oleh keluarga Dwi yang meneruskan usaha milik ibunya, Ibu Sumiati. Hingga sekarang, resep dan cita rasa khasnya masih dipertahankan agar tidak berubah sejak pertama kali berjualan.

“Kira-kira sudah lebih dari 20 tahunan. Ini usaha keluarga, dulu yang jual ibu saya, sekarang gantian anak-anaknya, kami gantian,” ujar Dwi saat ditemui pada Minggu (07/06/2026).
Menurut dia, usaha tersebut tetap dipertahankan hingga sekarang karena sudah menjadi bagian dari mata pencaharian keluarga sekaligus memiliki banyak pelanggan tetap yang datang hampir setiap hari. Sistem jualan secara bergantian antar anggota keluarga juga dilakukan agar warung tetap buka dan pelayanan kepada pembeli tetap berjalan lancar.
Persiapan Bahan sejak Pagi dan Ramainya Pembeli Setiap Hari
Setiap pagi sebelum warung buka, keluarga Dwi sudah mulai menyiapkan berbagai bahan yang akan digunakan untuk berjualan. Proses persiapan biasanya dimulai sejak pagi hari, terutama untuk mengolah cingur yang menjadi bahan utama makanan tersebut. Cingur terlebih dahulu dibersihkan lalu direbus cukup lama agar teksturnya empuk dan tidak meninggalkan bau menyengat saat disajikan.
Selain menyiapkan cingur, bahan lain seperti kangkung, tauge, tahu, tempe, hingga lontong juga dipersiapkan sejak pagi agar tetap segar saat disajikan kepada pembeli. Di bagian dapur belakang, beberapa bahan tampak ditata rapi di dalam wadah besar untuk mempermudah proses penyajian ketika warung mulai ramai.

Saat ada pembeli datang, proses meracik rujak cingur dilakukan langsung di tempat menggunakan cobek besar. Dwi akan mulai mencampurkan bumbu petis dengan kacang tanah, cabai, gula merah, garam, dan sedikit pisang klutuk sebelum semuanya diulek hingga halus.
Setelah bumbu tercampur rata, berbagai irisian seperti lontong, tahu, tempe, kangkung, tauge, mentimun, nanas, bengkuang, dan potongan cingur dimasukkan ke dalam cobek lalu diaduk bersama bumbu.

Selain isian standar seperti lontong dan sayuran, warung ini juga menambahkan nanas dan bengkuang ke dalam rujak cingurnya. Tambahan tersebut membuat rasa rujak terasa lebih segar karena perpaduan manis dan asam dari buah-buahan tersebut menyatu dengan gurihnya bumbu petis.
Setiap harinya, Rujak Cingur Brantas Bu Sumiati mampu menjual lebih dari 50 porsi kepada pelanggan. Jumlah tersebut bahkan bisa bertambah saat akhir pekan atau jam makan siang, ketika banyak mahasiswa, warga sekitar, maupun pesanan online datang untuk membeli.

“Paling sekitar 50 porsi gitu ya, dan kalau ramenya nggak tentu, Mas. Kadang hari Minggu lebih ramai, tapi hari biasa juga kadang ramai. Jam makan siang juga biasanya makin ramai, yang beli banyaknya mahasiswa sama online,” ujar Dwi.
Tidak hanya menyediakan rujak cingur, warung Rujak Cingur Brantas Bu Sumiati juga menawarkan berbagai menu lain seperti rujak manis, tahu telor, pecel, aneka gorengan, hingga beberapa makanan rumahan lainnya. Banyaknya pilihan menu tersebut membuat pembeli memiliki lebih banyak variasi saat datang ke warung, terutama mahasiswa yang mencari makanan dengan harga terjangkau namun tetap mengenyangkan.
Meski menawarkan berbagai jenis makanan, menu andalan di warung ini tetap rujak cingurnya. Isiannya terbilang lengkap dengan kombinasi kangkung, tahu, tempe, tempe menjes, lontong, hingga potongan cingur yang menjadi ciri khas utama makanan tersebut. Menariknya, cingur yang disajikan sama sekali tidak berbau dan memiliki tekstur yang lembut, tidak alot saat dimakan.
Selain isian normal pada umumnya, rujak cingur di warung ini juga memiliki tambahan nanas dan bengkuang yang membuat rasanya terasa lebih segar. Perpaduan rasa gurih dari bumbu petis dengan manis-asam dari buah tersebut justru menghasilkan kombinasi rasa yang unik dan cukup cocok di lidah pembeli.
Salah satu pelanggan bernama Aprillia mengaku cukup sering membeli rujak cingur di warung tersebut meski baru menjadi pelanggan dalam beberapa waktu terakhir. Ibu rumah tangga itu mengatakan rasa rujak yang enak serta suasana tempat makan yang nyaman menjadi alasan dirinya kembali datang.
“Enak gitu rujaknya, terus tempatnya juga strategis, teduh juga, terus makannya bisa sambil lihat sungai sama Sengkaling itu,” ujar Aprillia.
Selain rasa makanan, lokasi warung yang berada di area cukup teduh dan dekat aliran sungai membuat suasana makan terasa lebih santai bagi para pembeli. Tidak sedikit pelanggan yang memilih makan langsung di tempat sambil menikmati suasana sekitar.
Tidak hanya soal rasa, suasana warung yang sederhana dan teduh di dekat aliran sungai juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli. Banyak pelanggan memilih makan langsung di tempat sambil menikmati suasana kawasan Sengkaling yang cukup ramai pada siang hari.
Kehadiran Rujak Cingur Brantas Ibu Sumiati pun menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap mampu bertahan di tengah perkembangan zaman, terlebih dengan cita rasa yang konsisten dan harga yang masih terjangkau bagi masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Haykal Kamel/Magang
Editor: Dwi Lindawati







