Okupansi Hanya 10 Persen, Pemilik Vila Songgoriti Kota Batu Gelagapan - Tugujatim.id

Okupansi Hanya 10 Persen, Pemilik Vila Songgoriti Kota Batu Gelagapan

  • Bagikan
Suasana Kawasan Villa Songgoriti, Kota Batu yang semakin sepi akibat kebijakan PPKM Darurat dan ditutupnya tempat wisata di Kota Batu. (Foto: M Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Suasana Kawasan Villa Songgoriti, Kota Batu yang semakin sepi akibat kebijakan PPKM Darurat dan ditutupnya tempat wisata di Kota Batu. (Foto: M Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)

BATU, Tugujatim.id – Kebijakan penutupan tempat wisata dan pembatasan mobilitas masyarakat akibat pandemi Covid-19 membuat pemilik vila di Kota Batu gelagapan. Bagaimana tidak, di kawasan Songgoriti, Kota Batu, tingkat okupansi vila tidak lebih dari 10 persen.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Paguyuban Vila Supo Songgoriti, Indra Triariyon. Di mana kunjungan vila Songgoriti tidak lebih dari 10 persen sejak kebijakan PPKM Darurat diterapkan di Kota Batu.

“Selama PPKM Darurat okupansi vila di Songgoriti tidak lebih dari 10 persen. Jadi dalam sehari hanya ada 2 sampai 3 pengunjung yang datang dan bahkan tak ada sama sekali,” ucapnya.

Sebagai informasi, jumlah hunian atau vila yang terdaftar dalam paguyuban tersebut ada sebanyak 325 vila. Menurutnya, mayoritas pemilik vila di kawasan Songgoriti merupakan warga setempat. Di mana, usaha penyewaan vila itu juga merupakan satu satunya sumber pendapatan mereka.

“Vila Songgoriti adalah bisnis utama warga setempat. Pemilik vila di Songgoriti itu 98 persen adalah warga lokal dan itu adalah bisnis utama mereka,” paparnya.

“Kalau pendapatan merosot biasanya mereka banyak yang gali lubang tutup lubang. Hutang sini untuk nutup utang di sana,” imbuhnya.

Indra menceritakan, dahulu para pemilik villa sangatlah mudah dalam mendapatkan pinjaman di bank saat kondisi perekonomian sektor pariwisata di Kota Batu berjaya.

“Dulu kami biasanya utang di bank untuk penambahan kamar atau pengembangan fasilitas. Bukan utang untuk bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari,” ucapnya.

“Sekarang jasa wisata tidak dilirik lagi oleh perbankan. Karena kondisi perekonomian pariwisata sedang ngedrop. Jadi pasti mereka pikir pikir dulu untuk memeberikan pinjaman,” imbuhnya.

Dikatakan, pinjaman dengan nilai milyaran rupiah bisa dengan mudah didapatkan para pemilik vila ini. Namun saat ini sangat sulit mendapatkan pinjaman meski nilainya hanya sedikit.

“Kalau dulu saat ramai, baru masuk bank saja sudah ditawari. Berapa milyar butuhnya. Bukan ratusan juta lagi nawarinya. Sekarang, gak ada seperti itu lagi,” bebernya.

Kini dia berharap pemerintah bisa lebih bijak menentukan keputusan keputusan dalam penanganan pandemi Covid-19. Sehingga nasib perekonomian rakyat kecil bisa lebih diperhatikan.

 

 

  • Bagikan