Opini: Merenungi Penggunaan Bahasa Indonesia di Bulan Bahasa

  • Bagikan
Bulan Bahasa
Ilustrasi bulan bahasa. (Foto: Pixabay)

Bulan Oktober yang ditetapkan sebagai bulan bahasa baru saja berlalu, saatnya kita merenungkan penggunaan bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Bulan Oktober ini adalah bulan sakral bagi bangsa Indonesia karena pada bulan inilah tercetus bahasa kesatuan negara kita, yaitu bahasa Indonesia.

Pada tanggal 28 Oktober, para pemuda mengikrarkan sumpahnya untuk menyatukan negara kita. Kobaran semangat pemuda pun tetap dapat kita rasakan sampai saat ini. Bahkan, eksistensi bahasa Indonesia pada milenial pun semakin popular dengan diadakannya berbagai kegiatan yang melibatkan pemuda generasi penerus bangsa.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Karakteristik pemuda milenial saat ini sangatlah unik, karena paparan globalisasi sedari dini dan penggunaan teknologi yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari menyebabkan mereka menerima banyak sekali informasi, kebudayaan dan kebiasaan yang beragam baik dari dalam maupun luar negeri.

Percampuran penggunaan bahasa dari bahasa Indonesia dengan bahasa asing juga merupakan tren generasi milenial masa kini. Namun apakah hal tersebut mengurangi rasa bangga pemuda terhadap penggunaan bahasa Indonesia? Semoga saja tidak.

Saat ini ada semakin banyak kegiatan yang dapat menyadarkan para pemuda akan pentingnya ikut andil dalam menyuarakan pendapat dan memupuk rasa nasionalisme dalam bernegara. Salah satunya adalah sebuah kontes bergengsi yang sangat popular di kalangan milenial yaitu Duta Bahasa.

Kompetisi ini bukan hanya mencari pemuda kebanggaan negara yang dapat menjadi perwakilan pemuda dalam penggunaan dan eksistensi bahasa Indonesia, namun juga merupakan bentuk keberlanjutan perjuangan dari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Duta Bahasa dilaksanakan pada tiap daerah di Indonesia untuk menentukan perwakilan dari daerah provinsi tersebut untuk mewakili kompetisi nasional, yaitu Duta Bahasa Nasional.

Dalam perhelatan ini, masing-masing finalis dipupuk nasionalismenya, dan diharapkan menjadi contoh yang baik dalam memikul tanggung jawab yang merepresentasikan pemuda Indonesia yang baik. Dari tahun ke tahun acara tersebut selalu dilaksanakan pada Bulan Agustus bertepatan dengan kemerdekaan Indonesia. Seluruh finalis mengikuti upacara bendera di Istana Merdeka bersama dengan presiden Republik Indonesia.

Dalam pemilihan ini pula generasi milenial lebih mengenal pentingnya penggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan bernegara. Baik Duta Bahasa ataupun masyarakat luas diharapkan dapat mengimplementasikan semua poin sebuah pedoman yang dinamakan Trigatra Bangun Bahasa dengan benar dan tepat. Adapun isi dari Trigatra Bangun Bahasa adalah, “Utamakan bahasa Indonesia; lestarikan bahasa daerah; dan kuasai bahasa asing”.

Sebagai warga negara yang baik, seperti yang telah terikrarkan pada Sumpah Pemuda, kita harus menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik harus kita utamakan sesuai prinsip dari Trigatra Bangun Bahasa. Meski dalam keseharian kita sebagai milenial tak lepas dari pengaruh bahasa asing yang tinggi, peran bahasa Indonesia dalam hidup kita tidak akan tergantikan. Bahasa Indonesia bukan hanya sekedar bahasa, namun telah menjadi identitas diri milenial saat ini. Jadi jika dituntut untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik, siapa takut!

Afwa Zakia Al Azkaf. (Foto: Dokumen)
Afwa Zakia Al Azkaf. (Foto: Dokumen)

Afwa Zakia Al Azkaf
Mahasiswi Sastra Inggris Universitas Negeri Malang (UM)

  • Bagikan