SURABAYA, Tugujatim.id – Indonesia kembali menjadi sorotan dunia medis dengan dimulainya uji klinis tahap ketiga vaksin Tuberkulosis (TBC), sebuah langkah besar dalam perang global melawan penyakit menular mematikan ini.
Vaksin TBC yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Amerika Serikat ini turut mendapat dukungan pendanaan dari tokoh filantropi dunia, Bill Gates.
Indonesia dipilih bukan tanpa alasan. Negara ini saat ini menempati posisi kedua dengan beban kasus TBC tertinggi di dunia, menjadikannya lokasi ideal untuk mengukur efektivitas vaksin dalam populasi yang berisiko tinggi.
Baca Juga: Langgar HAM, DPRD Surabaya Kritik Rencana Pemkot Nonaktifkan NIK Pasien TBC Bandel
Masyarakat sempat dibuat waswas. Namun, kekhawatiran itu dijawab pakar imunologi dan virologi dari Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr Fedik Abdul Rantam drh.
Dia menegaskan bahwa vaksin M72 yang akan diuji merupakan vaksin jenis sub unit, bukan virus hidup. Sehingga risiko efek samping berat sangat kecil.
“Vaksin ini hanya mengandung dua protein dari bakteri penyebab TBC, yakni MTB32A dan MTB39A, yang dipadukan dengan adjuvant alami AS01E dari tanaman Quillaja saponaria asal Chile. Sifatnya aman dan sejauh ini tidak ditemukan laporan efek samping serius pada dua uji klinis sebelumnya,” jelas Prof Fedik pada Senin (30/06/2025).
Vaksin Potensi Jadi Terobosan Pertama
Vaksin M72 telah menunjukkan potensi besar dalam mencegah TBC aktif pada individu yang terinfeksi laten. Namun pada tahap ini, uji dilakukan pada orang yang belum terinfeksi TBC untuk memastikan respons imun yang murni dan akurat.
“Kalau muncul gejala ringan seperti nyeri di lokasi suntikan atau pusing, itu wajar. Tapi kalau ada tanda bahaya, uji klinis bisa langsung dihentikan,” imbuhnya.
Jika berhasil, vaksin ini bisa menjadi terobosan pertama dalam 100 tahun terakhir setelah BCG yang merupakan vaksin TBC yang selama ini digunakan dan kerap dinilai kurang efektif untuk mencegah TBC dewasa.
Langkah ini juga membuka harapan baru bagi jutaan masyarakat Indonesia yang rentan terhadap TBC.
“Ini bukan sekadar soal vaksin TBC, tapi soal harapan menyelamatkan nyawa dan masa depan,” pungkas Prof Fedik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Layla Aini
Editor: Dwi Lindawati








