• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Gen Z.

Karmila Andriana, Praktisi Pendidikan dan Guru Bahasa Arab di Thursina International Islamic Boarding School. (Foto: dok)

Parenting VOC di Era Gen Z dan Alpha: Warisan atau Kesalahan?

Dwi Linda by Dwi Linda
5 months ago
in Opini
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karmila Andriana, Praktisi Pendidikan dan Guru Bahasa Arab di Thursina International Islamic Boarding School

 

Tugujatim.id – Di banyak keluarga Indonesia, terutama di kota-kota kecil yang masih kuat dengan nilai tradisi, suara orang tua sering kali menjadi kata akhir. Anak yang suka bertanya seringkali dicap membantah, anak yang mengungkapkan perasaan dikatakan terlalu lebay, sementara anak yang diam justru dipuji sebagai anak patuh dan baik.

You might also like

Muktamar

Siapakah Kuda Hitam Muktamar NU ke-35 di Jombang?

14/07/2026 2:15 PM
Muktamar.

Mengapa Tambakberas Menjadi Pilihan untuk Muktamar Ke-35 NU?

08/07/2026 8:34 AM

Kalimat “Pokoknya ikut aja apa kata Ayah Bunda, atau Ayah Bunda tahu mana yang terbaik buat kamu” bukan hanya penutup percakapan, tetapi sering kali menggantikan percakapan itu sendiri.

Pola asuh seperti ini dianggap benar karena diwariskan dari generasi ke generasi. Banyak yang menyebutnya sebagai pembentukan karakter atau menanamkan ketegasan. Namun jika diperhatikan lebih saksama, hubungannya sering berjalan satu arah: orang tua yang memutuskan, anak tinggal mengikuti. Tidak sedikit yang kemudian menyindirnya sebagai “parenting VOC”, istilah terkini untuk pola asuh otoriter yang minim dialog dan lebih menekankan kontrol orang tua daripada komunikasi.

Masalahnya, anak-anak hari ini tumbuh dalam bingkai yang berbeda dari masa kecil orang tua mereka. Generasi Z dan Alpha hidup di tengah arus informasi yang terbuka dan cepat. Mereka terbiasa bertanya “mengapa”, bukan sekadar menerima “apa”.

Mereka mengenal istilah kesehatan mental (mental health), batasan personal (privacy), ikut-ikutan tren (fomo), hidup cuma sekali (YOLO), dan lain sebagainya. Ketika pola lama yang menuntut kepatuhan tanpa ruang diskusi bertemu dengan generasi yang terbiasa berpikir kritis, gesekan hampir tidak bisa dihindarkan.

Tidak jarang orang tua mengeluh bahwa anak zaman sekarang terlalu lebay atau mudah tersinggung. Namun bisa jadi yang berubah bukan ketahanan mereka, melainkan kesadaran mereka terhadap emosi.

Anak-anak zaman sekarang, lebih berani mengungkapkan bahwa bentakan itu menyakitkan, ancaman itu menakutkan, dan hukuman tanpa penjelasan itu membingungkan. Itu bukan kelemahan, melainkan kemampuan memahami diri yang mungkin dulu di zaman tersebut, dibungkam keberadaannya.

Ironisnya, pola asuh yang keras sering dibungkus dengan narasi moral: demi adab, demi sopan santun, demi kebaikan masa depan. Padahal hasilnya tidak selalu sesuai harapan.

Anak memang terlihat patuh, tetapi kepatuhan itu kerap lahir dari rasa takut. Mereka diam agar terlihat aman, bukan memahami alasan di balik aturan. Mereka belajar menyembunyikan kesalahan, bukan bertanggung jawab atasnya. Dalam jangka panjang, hubungan orang tua dan anak tetap berjalan, tetapi terasa kaku dan seperti ada sekat.

Dan keberadaan media sosial ikut mempercepat perubahan cara pandang ini. Anak-anak gen Z dan Alpha sudah bisa melihat bahwa ada keluarga yang berdialog, orang tua yang berani meminta maaf, dan disiplin yang diterapkan tanpa bentakan dan pukulan. Perbandingan itu mungkin tidak selalu adil, tetapi cukup untuk membuat mereka mempertanyakan pola yang selama ini dianggap normal. Otoritas yang dibangun di atas ketakutan perlahan kehilangan tempat di era keterbukaan.

Dalam perspektif Islam, relasi orang tua dan anak tidak dibangun melalui dominasi orang tua semata. Al-Qur’an menggambarkan nasihat Luqman kepada anaknya dengan panggilan lembut, tidak meninggikan suara, tenang dalam berjalan dan berbicara serta dialog yang penuh hikmah. Rasulullah SAW juga dikenal mendidik dengan kasih sayang, bukan bentakan, ancaman apalagi pukulan. Ketegasan beliau berjalan berdampingan dengan rahmah, bukan sebagai alat menundukkan.

Ini tentu bukan ajakan agar orang tua kehilangan wibawa atau menjadi permisif. Tegas tidak selalu berarti keras, sebagaimana kasih sayang tidak identik dengan membiarkan tanpa batas. Justru di era sekarang, wibawa orang tua lahir dari konsistensi, rasa aman yang dibangun di rumah, serta keteladanan yang nyata. Anak menghormati bukan karena takut, tetapi karena merasa dihargai.

Pertanyaan yang mungkin perlu kita renungkan sederhana saja: apakah pola asuh yang kita pertahankan benar-benar mendidik, atau sekadar kebiasaan lama yang kita wariskan dari generasi sebelumnya? Indonesia telah lama merdeka dari kolonialisme, tetapi sebagian relasi di dalam rumah masih terasa hierarkis dan kaku.

Anak tidak tumbuh dari banyak perintah tapi dari contoh yang dia lihat setiap hari. Mereka adalah amanah yang membutuhkan arah sekaligus ruang untuk bertumbuh. Pengasuhan bukan soal siapa yang paling berkuasa, melainkan bagaimana membentuk manusia yang mampu berpikir, berempati, dan bertanggung jawab. Dan itu jarang lahir dari ketakutan. Dia tumbuh dari kehadiran, dialog yang jujur, dan keberanian orang tua untuk terus belajar, bahkan dari anaknya sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Editor: Dwi Lindawati

Dwi Linda

Dwi Linda

Related Stories

Muktamar

Siapakah Kuda Hitam Muktamar NU ke-35 di Jombang?

by Mochamad Abdurrochim
14/07/2026 2:15 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, semakin dekat. Momentum krusial ini...

Muktamar.

Mengapa Tambakberas Menjadi Pilihan untuk Muktamar Ke-35 NU?

by Dwi Linda
08/07/2026 8:34 AM
0

Oleh: Abdur Rahim* Tugujatim.id - Setelah melalui proses seleksi panjang yang melibatkan sembilan pondok pesantren di lima provinsi, Pengurus Besar...

Muktamar

Muktamar dan Belajar dari Verifikasi Ahli Hadis

by Mochamad Abdurrochim
05/07/2026 10:21 AM
0

Oleh: Achmad Diny Hidayatullah Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang/Wakil Sekretaris PCNU kota Malang Ada satu kalimat yang sejak lama...

Najib Mahfud.

Haul KH Najib Mahfud di Gresik Berlangsung Khidmat, Mbah Bolong: Rawat Selalu Anak Yatim

by Dwi Linda
01/07/2026 11:03 AM
0

GRESIK, Tugujatim.id - Haul ke-5 KH Najib Mahfud di Gresik berlangsung lancar dan khidmat Selasa malam (30/06/2026) di Pondok Pesantren...

Next Post
Ateez

ATEEZ Rilis GOLDEN HOUR: Part 4, Ini Fakta di Balik Album Baru yang Langsung Menyita Perhatian

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID