Pasca Erupsi Gunung Kelud, Kampung Damarwulan Makin Sepi dan Hanya Dihuni 17 KK

Pasca Erupsi Gunung Kelud, Kampung Damarwulan Makin Sepi dan Hanya Dihuni 17 KK

  • Bagikan
Kampung Damarwulan, Kediri, yang kian sepi pasca erupsi Gunung Kelud. Tampak rumah warga terdampak erupsi. (Foto: Noe/Tugu Jatim)
Kampung Damarwulan, Kediri, yang kian sepi pasca erupsi Gunung Kelud. Tampak rumah warga terdampak erupsi. (Foto: Noe/Tugu Jatim)

KEDIRI, Tugujatim.id – Erupsi Gunung Kelud 7 (tujuh) tahun lalu membuat kalut warga sekitar. Gunung setinggi 1.761 meter di atas permukaan air laut (mdpl) ini dikelilingi 3 (tiga) kabupaten, yakni Kediri, Blitar, dan Malang, ini mampu membuat puluhan ribu warga mengungsi. Totalnya, ada 87.629 jiwa mengungsi dengan 293 titik pengungsian karena erupsi Gunung Kelud.

Bahkan, abu Gunung Kelud itu mencapai jarak 700 kilometer ke arah barat sampai di Jawa Barat.
Berdasarkan data yang dihimpun tugujatim.id, Gunung Kelud mengalami beberapa kali erupsi sebelum 13 Februari 2014. Yakni, erupsi Gunung Kelud pernah terjadi pada Mei 1901, Mei 1919, Agustus 1951, April 1966, Februari 1990, dan November 2007.

Kampung Damarwulan pun menjadi sepi karena ditinggal warga mengungsi di tempat yang lebih aman. (Foto: Noe/Tugu Jatim)
Kampung Damarwulan pun menjadi sepi karena ditinggal warga mengungsi di tempat yang lebih aman. (Foto: Noe/Tugu Jatim)

Kenangan tentang erupsi Gunung Kelud juga tak akan dilupakan warga perkampungan kopi Afdeling Damarwulan, Desa/Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Kampung yang resmi berdiri sejak sejak 1935 itu sangat memprihatinkan.

Selain tidak teraliri listrik dari PLN, kampung ini lambat laun mengalami pengurangan jumlah warganya. Kampung yang berada di sisi utara Kampud, nama lain Gunung Kelud, dirasakan mulai kehilangan banyak keluarga dan tetangganya karena memilih pindah ke lokasi lain.

“Ya, puncaknya banyak yang pindah setelah gunung meletus,” kata Ketua RT Kampung Damarwulan Agus Widodo.

Pria yang akrab disapa Dewo tersebut mengakui bahwa perkampungannya luluh lantak karena kerikil panas yang menyambar bangunan rumah warga. Genting berlubang hingga tembok gosong karena tersulut lemparan kerikil Gunung Kelud. Kompleks kampung yang dibangun sejak zaman penjajahan Belanda itu menurun jumlah warganya. Mulai sekitar 80-an kepala keluarga (KK), kini  tercatat hanya 17 KK.

“Dulu ramai, apalagi di sini ada kolam renang dan kebun juga, jadi tiap Minggu ada orang berwisata,” kata Dewo.

Tak banyak anak-anak yang bisa bermain di Kampung Damarwulan karena kebanyakan sudah pindah ke lokasi lain yang teraliri listrik. (Foto: Noe/Tugu Jatim)
Tak banyak anak-anak yang bisa bermain di Kampung Damarwulan karena kebanyakan sudah pindah ke lokasi lain yang teraliri listrik. (Foto: Noe/Tugu Jatim)

Suasana sepi di kampung ini tak hanya dirasakan orang dewasanya saja, tapi juga bagi anak-anak di sana. Mereka merasa kehilangan teman bermain yang biasanya sehari-hari menghabiskan waktu di kampung terpencil ini. Kini yang tersisa hanya ada 7 (tujuh) anak yang masih tinggal bersama keluarganya di Damarwulan.

Seperti, Brian, bocah berusia 9 tahun ini adalah satu-satunya anak laki-laki. Sedangkan teman bermain lainnya merupakan perempuan. Itu pun tidak ada yang seumuran dengannya. Tiga anak perempuan masih balita dan usia PAUD, sedangkan tiga anak perempuan lain berumur di atas Brian.

Alasan warga memutuskan pindah pun cukup beragam. Menurut Dewo, ada yang pindah untuk mencari tempat tinggal yang lebih dapat diakses jalan desa. Sebab, kampung ini berada di tengah hutan dan perkebunan kopi peninggalan Belanda. Untuk masuk ke kampung ini harus melewati jalur berbahaya di pinggir sungai untuk aliran lahar Gunung Kelud dengan jarak tempuh 3 kilometer dari pusat Desa Puncu. Alasan lainnya, warga memilih tempat tinggal di pusat desa agar bisa merasakan fasilitas listrik. Dan yang terakhir ialah alasan keamanan dan keselamatan.

Dewo tidak memungkiri jika kampung ini sangat dekat dengan Gunung Kelud. Dia memperkirakan jaraknya hanya sekitar 6 kilometer dari Gunung Kelud.

Dewo dan warga pun harus menghadapi kenyataan dengan kondisi kampung terpencil dan sepi selama bertahun-tahun. Akhirnya, waktulah yang menciptakan kenangan tentang Kampung Damarwulan. Seperti cerita yang dikisahkan Puthut EA dalam cerita berjudul “Isyarat Cinta yang Keras Kepala”. “Kenangan hanya bisa dihadapi atau diperam dengan risiko membusuk di dalam. Aku menghadapinya. Menghadapinya. Menghadapinya.” (noe/ln)

  • Bagikan