Surakarta, 21 April 2025

Penulis: Dr. Sugit Zulianto, M.Pd.
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP dan Peer Group Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Javanologi, Universitas Sebelas Maret
Tugujatim.id – Setiap menyaksikan pementasan teater anak, para penonton dan orang tua kerap terkagum-kagum atas prestasi anak-anak yang memerankan watak tertentu, bahkan terheran-heran atas kegesitan fisik anak-anak. Lisannya begitu cerdas dan gerak fisiknya begitu lincak. Terhadap kenyataan itu, sebagian orang tua bertanya-tanya tentang pelajaran kesenian di persekolahan yang jarang menampilkan prestasi seni teater anak usia pendidikan dasar.
Berkenaan dengan itu, ada yang beranggapan bahwa kesenian itu merupakan kompetensi bawaan. Selain itu, jika dilatihkan di persekolahan, tentu memerlukan ruang dan tenaga yang begitu mahal, apalagi biaya untuk membayar instrukturnya. Atas pertimbangan efisiensi dan kemanfaatannya, seni teater anak tidak ditampilkan. Padahal, intensitasnya dapat berdampak langsung pada pengembangan inteligensi verbal anak.
Dengan pemahaman bahwa inteligensi verbal dapat dipicu dari pelatihan dasar teater, tempat pelatihannya sebenarnya tidak perlu ruang khusus. Jika dokumen administratif disimpan di sekolah, tempat berlatih tidak harus dilaksanakan di tempat khusus. Sebaliknya, pelatihan dasar dapat dilaksanakan di berbagai tempat.
Sebagai contoh, halaman sekolah, lapangan olahraga, aula sekolah, jalan setapak di taman sekolah, bahkan kebun sekolah dapat difungsikan sebagai ruang berlatih. Untuk itu, di halaman sekolah yang relatif lapang, anak-anak dapat memanggil nama teman-temannya sefasih mungkin dengan lafal dan nada yang jelas. Hal yang sama dapat dilakukan di lapangan olahraga atau aula sekolah. Berbeda dengan itu, tanpa berlari, berjalan perlahan sambil mengucapkan suara pelan-pelan pun dapat dilakukan di taman dan/atau kebun sekolah.
Baca Juga: Optimalisasi Komunitas Seni Teater Uduri sebagai Wadah Pembentukan Karakter Siswa
Untuk mengintensifkan pelatihan dasar teater, peserta tidak perlu dibatasi. Sebagai gambaran, siswa di sekolah dasar, dari kelas satu–kelas enam dapat dimotivasi dan dikenalkan pelatihan teater anak. Sudah tentu, untuk memperkenalkannya, tidak diperlukan penekanan yang mengharuskan siswa melakukan apa.
Sebaliknya, instruktur seni dapat menampilkan permainan sederhana yang memungkinkan mereka tertarik. Semenarik mungkin dipersiapkan, permainan tradisional dapat dijadikan alternatif untuk “memancing” tumbuhnya minat anak. Bila anak-anak yang tertarik berasal dari berbagai tingkat kelas, pelatihan dasar pelenturan fisik dan pengucapan bahasa (vokal) dapat dilakukan secara perlahan dan berulang. Adalah mungkin bila dilakukan dengan mengedepankan nyayian rakyat setempat.
Berkenaan dengan kemungkinan pelatihan dasar teater anak, waktu yang dipilih tidak boleh mengganggu jadwal sekolah. Bila bersamaan dengan pelajaran sekolah, kemungkinan pelatihan terhalang, baik oleh sejawat atau oleh kepala sekolah. Jika pelatihan bersamaan dengan jadwal pelajaran, boleh jadi, orang tua tidak sepakat. Hal yang pasti terjadi, yakni baik guru kelas, guru pelajaran, kepala sekolah, dan orang tua akan menghalanginya. Meskipun, pelatihan dasar teater bermanfaat untuk pengembangan inteligensi verbal anak.
Alternatif solusinya, yakni penentuan waktu berlatih perlu diselaraskan dengan kesempatan terbaik. Untuk itu, instruktur seni teater dapat mengusulkannya pada rapat dewan guru. Bila perlu, saat rapat bersama walisiswa, ekstrakurikuler ditawarkan. Dengan demikian, waktu yang tepat dan siswa yang berminat akan saling menyesuaikan untuk berlatih bersama.
Dari waktu ke waktu, polemik tentang penting tidaknya kesenian, khususnya seni teater di sekolah terus bergulir. Perdebatannya terletak pada perlu tidaknya anak-anak, bahkan mahasiswa berlatih teater. Pihak yang menolak berargumen bahwa pelajaran seni teater tidak diperlukan karena menyita tenaga, menguras biaya, bahkan menjadikan seseorang tidak tahu pemanfaatan kesempatan belajar.
Sementara itu, pihak yang setuju pelatihan seni teater beralasan bahwa anak-anak dan mahasiswa yang mengikuti pelatihan dasar berteater akan mendapatkan pelatihan fisik dan pembinaan berbahasa yang sesuai dengan peran sosial sesuai dengan naskah drama.
Dalam perdebatan itu, memang tidak ada titik temu yang jelas sehingga pelatihan dipandang tidak penting. Akibatnya, anak-anak dan mahasiswa kerap menjadi penonton, termasuk melalui jaringan internet. Nah, kebersamaan mempersiapkannya perlu dicoba agar menjadi jalan terbaik untuk menimbang penting tidaknya berteater anak di sekolah. Salam budaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Kontak Penulis:
Dr. Sugit Zulianto, M.Pd. (sugit_zulian@staff.uns.ac.id/085241064789)








