MALANG, Tugujatim.id — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LPPM UM) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Seminar Internasional Pengabdian kepada Masyarakat (Hapemas) ke-7 pada 2025. Acara bergengsi LPPM UM ini digelar di Gedung Kuliah Bersama (GBK) A19 Lantai 9 UM, Rabu (17/09/2025).
Acara LPPM UM ini sukses mengumpulkan puluhan akademisi dan peneliti dari berbagai negara untuk mendiskusikan peran krusial karakteristik nasional dalam memperkuat sumber daya desa yang berkelanjutan. Seminar yang mengusung tema “National Characteristics to Strengthen Sustainable Village Resources” ini merupakan kolaborasi erat antara UM dengan 7 universitas mitra, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dengan kehadiran 50 pemateri dan 100 peserta, baik secara luring maupun daring, seminar ini menjadi forum penting untuk berbagi pengetahuan, hasil penelitian, dan pengalaman terbaik dalam pengabdian kepada masyarakat.

Acara yang dibuka langsung oleh Wakil Rektor III UM Prof Dr Ahmad Munjin Nasih SPd MAg ini menyoroti bagaimana kearifan lokal, nilai-nilai budaya, dan identitas kebangsaan dapat menjadi fondasi strategis untuk pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Prof Dr Ahmad Munjin Nasih SPd MAg dalam sambutannya mengungkapkan apresiasi mendalam terkait acara ini.
“Terima kasih kepada LP2M Universitas Negeri Malang karena telah berhasil menyelenggarakan acara Seminar Internasional Hapemas ke-7 tahun 2025,” ungkapnya.
Dia berharap seminar ini dapat menjadi wadah bagi peserta untuk “berbagi ilmu dan memperluas wawasan” sekaligus menjadi sarana untuk memublikasikan hasil penelitian dan pengabdian masyarakat sebagai kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Peran Sentral Perguruan Tinggi dalam Mendorong Publikasi Ilmiah
Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Seminar Hapemas 2025 Dr Otto Fajarianto MKom menegaskan bahwa seminar ini adalah wujud nyata komitmen LP2M UM.
“Seminar ini adalah acara tahunan yang secara konsisten diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Malang,” ujarnya.
Dia menambahkan, tujuan utamanya adalah untuk memperkuat akademi global hingga mendorong publikasi ilmiah para peneliti.
“Tujuannya untuk memperkuat akademi global, memperluas pengetahuan ilmiah, serta mendukung publikasi ilmiah dari hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Dr Otto juga menjelaskan, tema yang dipilih sangat relevan dengan kondisi saat ini.
“Membangun ketahanan dan keberlanjutan di daerah pedesaan tidak hanya memerlukan sumber daya modern, tetapi juga integrasi karakteristik nasional yang mencerminkan keunikan dan kekuatan masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut dalam wawancara eksklusif Dr Otto menjelaskan, seminar ini merupakan hasil kerja sama (MoA) dengan beberapa kampus. Dia menyebutkan, kolaborasi ini dilakukan lintas negara.
“Kami berkolaborasi dengan beberapa kampus di dalam dan luar negeri, termasuk Universitas Swadaya Gunung Jati, Universitas Kadiri, Universitas Sembilanbelas November Kolaka, serta mitra internasional dari Malaysia, yakni Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) dan Universiti Malaya (UM),” ujarnya.
Dia juga menegaskan, luaran utama dari acara ini adalah publikasi artikel ilmiah dalam bentuk prosiding atau jurnal yang menjadi salah satu indikator penting bagi kemajuan akademik. Ini sejalan dengan inisiatif LP2M UM untuk memfasilitasi publikasi bagi para dosen yang mendapatkan hibah pengabdian.
Materi Kunci dari Para Pemateri Terkemuka Dunia
Sesi pleno seminar diisi oleh delapan pembicara utama (keynote speaker) terkemuka dari berbagai negara yang hadir baik secara luring maupun daring. Mereka menyampaikan gagasan dan riset inovatif yang berkaitan erat dengan tema utama.
Dari Malaysia, Prof Madya Affero Ismail dari Universiti Tun Hussein Onn membuka sesi dengan presentasi berjudul “Technology-Enhanced Blue Curriculum Design to Promote Ocean Literacy in Vocational Tourism Education”.
Dia menyoroti pentingnya mengintegrasikan literasi kelautan dalam kurikulum pendidikan, terutama di negara-negara maritim seperti Indonesia dan Malaysia.
“Tantangan utama kami adalah bagaimana mengedukasi siswa tentang lautan, terutama bagi mereka yang belum pernah mengalaminya secara langsung,” ujarnya.
Baca Juga: LPPM UM Seminar Internasional, Hapemas 2025 Dorong Peneliti Berdampak Membangun Desa Berkelanjutan
Solusinya, dia mengatakan, adalah dengan menggunakan “teknologi seperti Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), dan simulasi 360 derajat” untuk menciptakan pengalaman mendalam yang dapat diakses siswa.
Kemudian materi yang disampaikan oleh Dr Sukidi PhD, seorang tokoh nasional Indonesia, menjadi salah satu yang paling menggugah. Dia mengajak audiens untuk merenungkan janji Bung Karno 80 tahun lalu tentang lahirnya Pancasila, yang berjanji akan menghilangkan kemiskinan.
“Kami bertanya, apa yang terjadi setelah 80 tahun kemerdekaan? Mayoritas rakyat Indonesia masih hidup dalam kemiskinan, bahkan lebih dari 194 juta orang masih terperangkap di dalamnya,” tegas Dr Sukidi.
Dia mengajukan pertanyaan yang menantang mengapa masih peduli hidup di masyarakat yang plural ketika banyak tetangga yang kelaparan.
“Mengapa kita begitu peduli dengan hidup di masyarakat yang plural, ketika tetangga kita masih kelaparan?” ujarnya.
Menurut dia, ini adalah “momen kebenaran” untuk merenungkan makna sejati dari Bhinneka Tunggal Ika.
Sedangkan dari The Academia of Papua, Ismail Suardi Wekke PhD berbicara tentang peran pemuda sebagai agen perubahan di era digital. Dia memperkenalkan tiga pilar peran pemuda: Inovator Sosial dan Teknologi, Penggerak Ekonomi Kreatif, dan Peneliti Kearifan Lokal.
Namun, dia juga menyoroti masalah buta huruf digital yang masih tinggi di Indonesia, yang dirinya sebut mencapai 25% dari populasi.
“Generasi muda harus menjadi pengguna yang aktif, bukan pasif, dan mengambil tanggung jawab untuk mengatasi masalah sosial,” tuturnya.
Dia memberikan contoh aksi nyata seperti pemasaran digital untuk produk pertanian dan pelatihan literasi digital untuk memperkuat solidaritas sosial dan kemandirian ekonomi di desa.
Sementara itu, Kepala Pusat Sumber Daya Wilayah (PSDW) UM Dr Tri Wahyu Hardaningrum SE MPd memaparkan pentingnya sinergi antara kebijakan, budaya, dan komunitas. Dia mengungkapkan bahwa 40% populasi Indonesia masih tinggal di pedesaan yang kaya sumber daya, namun masih menghadapi tantangan.
Karena itu, dia menekankan bahwa ada tiga transformasi sejati. Yaitu kebijakan, budaya, dan komunitas yang saling bekerja sama.
“Transformasi sejati terjadi ketika ketiga elemen (kebijakan, budaya, komunitas) bekerja sama,” katanya.
Dia mencontohkan keberhasilan program dana desa sejak 2015 serta kearifan lokal seperti sistem Subak di Bali dan tradisi Sasi di Maluku, sebagai bukti nyata bahwa budaya dapat menjadi modal pembangunan.
Dr Tri Wahyu menutup materinya dengan menyatakan bahwa desa adalah “garda terdepan dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan”.
Sedangkan dari Universiti Malaya, Dr Elya Nabila binti Abdul Bahri yang terhubung secara online memberikan sudut pandang tentang optimalisasi potensi desa. Dia menyebutkan, setiap desa memiliki identitas unik.
“Setiap desa memiliki identitas budaya yang unik. Memelihara tradisi ini sangat penting karena dapat menciptakan peluang ekonomi melalui pariwisata berbasis komunitas,” ujarnya.

Dia juga menekankan bahwa inovasi harus berakar pada potensi lokal, seperti mengubah sistem pertanian tradisional menjadi organik. Menurut dia, kepemimpinan kepala desa sangat penting untuk membangun ketahanan desa.
“Kepemimpinan visioner dari kepala desa sangat penting untuk memimpin komunitas menuju tujuan bersama dan membangun ketahanan desa,” ujarnya.
Selain pemateri hadir secara offline, ada juga beberapa pemateri yang hadir secara Zoom yaitu Prof Dr Sukree Langputeh (Chairman Andaman Institute of Maritime Technology, Thailand), Wanner Peter John PhD (Tohoku University, Japan), dan Bobur Sobirov PhD (Samarkand Institute of Economics and Service, Uzbekistan).
Kolaborasi Akademik yang Membangun
Seminar ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran ide, tetapi juga demonstrasi nyata dari kolaborasi akademik. Selain LPPM UM sebagai tuan rumah, acara ini juga melibatkan tujuh universitas lain sebagai mitra kerja sama, di antaranya:
1. Universitas Swadaya Gunung Jati.
2. Akademi Keperawatan Al-Ikhlas.
3. Universitas Kadiri.
4. Universitas Sembilanbelas November Kolaka.
5. Universitas Pendidikan Ganesha.
6. Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
7. Universiti Tun Hussein Onn Malaysia.
Kerja sama ini yang ditegaskan oleh Dr Otto Fajrianto memastikan bahwa hasil-hasil pengabdian masyarakat dari berbagai institusi dapat terpublikasi secara luas, baik dalam jurnal internasional terindeks DOAJ, Jurnal Prosiding Terindeks SINTA 5, maupun Jurnal Pengabdian SINTA 5.
Dengan demikian, seminar ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga jembatan untuk menyebarluaskan pengetahuan dan inovasi hingga memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat luas. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Safiruddin Jailani/Magang
Editor: Dwi Lindawati








