MOJOKERTO, Tugujatim.id – Hari Kanker Sedunia diperingati setiap 4 Februari. Untuk memberikan dukungan kepada penderita kanker pada tahun ini, Aston Mojokerto Hotel & Conference Center memilih memakai pita ungu dan jamu sebagai simbol dukungan pada Senin (06/02/2023).
Para staf Aston Mojokerto Hotel & Conference Center pun tampak kompak mengenakan pita ungu untuk mendukung para penderita kanker di Indonesia dan seluruh dunia. Selain itu, mereka juga menyediakan jamu sebagai suguhan welcome drink dan salah satu minuman tradisional yang masuk menu sarapan di Restoran Wilwatikta.
Tidak hanya itu saja, setiap tamu Aston Mojokerto Hotel yang datang turut diajak mengenakan pita ungu sebagai bentuk dukungan.
“Manusia sebagai ciptaan Tuhan hanya bisa berusaha dan berikhtiar. Dari aksi ini, kami berharap bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit kanker,” kata General Manager Aston Mojokerto Hotel & Conference Center Iwan Setiawan pada Senin (06/02/2023).
Dia juga mengatakan, kanker adalah penyakit yang berbahaya. Apalagi yang diserang adalah semua kalangan.
“Ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kami terhadap sesuatu yang jarang disadari masyarakat. Kanker penyakit mematikan yang bisa menyerang semua kalangan, tapi bisa kami cegah dengan hidup sehat, olahraga, dan konsumsi minuman yang berkhasiat bagi tubuh seperti jamu,” ujar Iwan Setiawan.
Sementara itu, Cluster Marketing Communication Manager Aston Mojokerto Hotel Aries Luhur mengatakan hotel ini berupaya semakin dekat dengan masyarakat. Salah satunya diwujudkan dengan ikut memperingati Hari Kanker Sedunia.
“Meski upaya ini sederhana, kami tetap ingin berkontribusi kepada sesama. Salah satunya lewat peringatan Hari Kanker ini,” tambah Aries, sapaan Aries Luhur.
Seperti dilansir dari Alodokter, kanker adalah penyakit yang disebabkan pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali di dalam tubuh. Pertumbuhan sel abnormal ini dapat merusak sel normal di sekitarnya dan di bagian tubuh yang lain.
Kanker juga merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di seluruh dunia karena penyakit ini umumnya tidak menimbulkan gejala pada awal perkembangannya. Akibatnya, kondisi ini baru terdeteksi dan ditangani setelah mencapai stadium lanjut. (adv)





