Pertama, BPH Sastra Dewan Kesenian Malang Luncurkan Buku Puisi Dua Bahasa

  • Bagikan
Buku antologi puisi bertajuk “Sajak Dwiwangga, Dunia Tak Lagi Dingin” merupakan buku dengan dua bahasa. (Foto: Dokumen)
Buku antologi puisi bertajuk “Sajak Dwiwangga, Dunia Tak Lagi Dingin” merupakan buku dengan dua bahasa. (Foto: Dokumen)

MALANG, Tugujatim.id – Antologi puisi penyair Malang Raya dengan judul utama “Sajak Dwiwangga, Dunia Tak Lagi Dingin” menjadi persembahan Badan Pengurus Harian (BPH) Sastra Dewan Kesenian Malang (DKM) tahun 2020. Sekumpulan puisi tersebut merupakan kontribusi penulis dari Malang Raya terpilih. Semua puisi pilihan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh tim BPH Sastra DKM.

Ketua Pelaksana Antologi Puisi DKM, Abdul Mukhid menyatakan, pihaknya akan melakukan launching atau peluncuran buku di hadapan publik pada Rabu, 30 Desember 2020. Launching akan dilangsungkan sejak siang hari di Pendopo Hazim Amir DKM. Launching akan dipandu oleh BPH Sastra DKM Fathul H. Panatapraja.

Baca Juga: Mengenal Prialangga, Kreator di Balik Layar Video Klip Raisa ‘Bahasa Kalbu’

“Kegiatan ini merupakan salah satu dari mata rantai acara Pasar Seni DKM 28 Desember 2020 – 1 Januari 2021,” ujar Mukhid.

Adapun susunan acara yaitu sambutan BPH Sastra DKM oleh Abdul Mukhid, pemuataran video puisi dari antologi, penyerahan buku antologi oleh BPH Sastra kepada perwakilan penyair, testimoni para penyair, lalu dilanjutkqn diskusi terkait antologi puisi Sajak Dwiwangga. Diskusi akan menghadirkan kurator antologi yaitu Sastrawan Tengsoe Tjahjono.

“Buku antologi puisi ini merupakan tonggak awal penerbitan buku sastra oleh DKM. Kami berharap penerbitan antologi puisi ini dapat memicu lahirnya buku-buku sastra lainnya dari DKM kedepan,” imbuhnya.

Buku antologi puisi Sajak Dwiwangga ini dicetak setebal 218 halaman. Tidak hanya puisi, halaman juga dilengkapi foto (monochrom) lukisan hasil kolaborasi bersama BPH Seni Rupa DKM. Ada juga sejumlah quotes yang mengisi halaman buku.

Baca Juga: Spoiler One Piece 1.000: Luffy dan Zoro Sampai di Puncak Istana Onigashima

“Sampul depan buku antologi puisi ini adalah potret Kampung Warna-Warni Jodipan. Sengaja kami mengambil gambar tersebut sebagai penanda entitas Malang,” pungkasnya. (*)

 

Haul Virtual Gus Dur ke-11 bersama Tugu Malang dan Tugu Jatim. (Foto: Dokumen)
Haul Virtual Gus Dur ke-11 bersama Tugu Malang dan Tugu Jatim. (Foto: Dokumen)
  • Bagikan