Pesanan Baliho Parpol Meningkat, Karyawan Advertising Selamat - Tugujatim.id

Pesanan Baliho Parpol Meningkat, Karyawan Advertising Selamat

  • Bagikan
Baliho Ketua DPR RI Puan Maharani dan baliho Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto yang bersebelahan di Jalan MT Haryono, Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Jumat (06/08/2021). (Foto: Rizal Adhi/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Baliho Ketua DPR RI Puan Maharani dan baliho Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto yang bersebelahan di Jalan MT Haryono, Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Jumat (06/08/2021). (Foto: Rizal Adhi/Tugu Malang/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Respon masyarakat Indonesia terkait makin maraknya baliho-baliho figur-figur politisi di Indonesia tak terkecuali Malang cukup beragam. Ada yang biasa saja, tapi tidak banyak yang nyinyir di sosial media.

Namun, ternyata dengan makin banyaknya baliho-baliho tersebut juga menyelamatkan perekonomian perusahaan-perusahaan advertising yang hampir ambruk lantaran krisis akibat pandemi Covid-19.

“Pastinya begitu (menjadi berkah), terus terang sebenarnya mereka-mereka ini menyelamatkan omzet para pemilik reklame di saat situasi Covid-19. Karena banyak sekali perusahaan yang menahan anggaran promosi,” terang Rachmad Santoso selaku bos perusahaan advertising Jade Indopratama saat dikonfirmasi pada Jumat (06/08/2021).

Dengan tegas ia mengatakan bahwa tren ini adalah sebuah berkah bagi dirinya.

“Dengan aktivasi billboard dengan konten sosok atau tokoh ini bagi kita pasti sebuah berkah,” tegasnya.

“Dengan order mereka kita bisa menyelamatkan perusahaan, dengan order mereka kita bisa menggaji karyawan yang kemarin hampir di ujung tanduk,” sambungnya.

Ia sendiri sebenarnya tidak mengerti kenapa tren baliho bisa menjadi viral dan dibahas banyak orang. Padahal menurutnya seharusnya semua orang pasti sangat paham bahwa beberapa tahun jelang pemilu baik Pilkada sampai Pilpres pasti promosi melalui billboard akan masif dilakukan.

“Mungkin karena bersamaan dengan PPKM, tapi setahu saya mereka mulai memasang billboard ini sebelum PPKM. Kemudian karena kita membuat kontraknya sebelum masa PPKM, tapi kontrak kita kan bulanan, jadi sisa masa kontraknya ini berhimpitan dengan masa PPKM. Sehingga dibahaslah itu dengan situasi-situasi sekarang,” paparnya.

“Sehingga dituduh begini-begitu, termasuk kita pemilik reklame dituduh seperti itu, wah repot kita sebenarnya,” tambahnya.

Terakhir, Rachmat juga menjelaskan jika model perusahaannya lebih kepada jasa penyewaan space reklame.

“Kalau kita model bisnisnya menyewakan billboard, kalau menyewakan artinya kita ini juga mencetakkan gambar. Sedangkan desain atau konten dari mereka, desain itu kita terima sudah matang dari mereka. Kita mencetak, memasang, melakukan perawatan seperti itu saja sih,” pungkasnya.

  • Bagikan