TUBAN, Tugujatim.id – Banjir luapan Sungai Bengawan Solo kembali menghantam petani cabai di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Akibatnya, petani cabai di Tuban ini gagal panen hingga rugi mencapai Rp2,6 miliar.
Untuk diketahui, banjir Bengawan Solo merendam Desa Kanorejo, Kecamatan Rengel, sejak Sabtu (17/05/2025). Banjir pun menggenangi 35 hektare lahan cabai siap panen.
Baca Juga: Banjir Bengawan Solo Rendam 4 Kecamatan di Tuban, BPBD Siaga Penuh
Air banjir mulai merangsek masuk ke area pertanian warga pada Sabtu sore hingga terus mengalami peningkatan volume pada Selasa sore (20/05/2025). Meski genangan sempat surut pada Minggu malam (18/05/2025), dampaknya sudah telanjur menghancurkan harapan para petani yang tengah bersiap memanen.
“Tanaman cabai yang sudah terkena banjir pasti mati. Buahnya juga langsung busuk, tidak bisa disimpan lama,” ujar Bambang, 49, ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Margo Makmur Desa Kanorejo, Selasa (20/05/2025).
Petani di Kanorejo ini telah menanam cabai merah besar (CMB) yang kini berusia 40-75 hari. Dia mengatakan, petani cabai di Tuban pun memperkirakan tanamannya siap dipanen dalam dua minggu ke depan.
Petani Panen Dini, Cabai Tak Laku di Pasaran
Menurut dia, beberapa petani berusaha menyelamatkan hasil dengan memanen dini. Tapi, dia melanjutkan, cabai yang dipetik lebih awal ternyata tidak laku dijual di pasaran.
“Sudah dipanen dini, eh ternyata cabainya busuk dan tidak bisa dijual. Jadi, ya rugi dua kali,” kata Bambang.
Dia menjelaskan, setiap hektare lahan bisa memuat sekitar 15 ribu tanaman cabai dengan biaya tanam dan perawatan mencapai Rp5.000 per tanaman. Petani memperkirakan kerugian mencapai Rp75 juta per hektare sehingga total kerugian dari 35 hektare lahan bisa menembus Rp2,6 miliar lebih.
“Harga cabai saat ini cukup bagus, yakni bisa mencapai Rp20 ribu per kilogram. Tapi, ya percuma kalau sudah terkena banjir,” imbuhnya.
Saat ini, para petani cabai di Tuban hanya bisa menunggu air benar-benar surut agar bisa memulai tanam ulang. Namun, proses ini tidak bisa langsung dilakukan, mengingat kondisi lahan masih tergenang.
“Sekarang tinggal pasrah. Kami berharap pemerintah daerah maupun pusat ikut turun tangan agar petani tidak terus-terusan jadi korban saat banjir datang,” ujar Bambang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati







