Petirtaan Watu Gede, Sejarah Tempat Ken Dedes Mensucikan Diri - Tugujatim.id

Petirtaan Watu Gede, Sejarah Tempat Ken Dedes Mensucikan Diri

  • Bagikan
Petirtaan Watu Gede di Dusun Sanan, Kelurahan Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. (Foto: Ovi/Gufron/Tugu Jatim)
Petirtaan Watu Gede di Dusun Sanan, Kelurahan Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. (Foto: Ovi/Gufron/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Udara yang sejuk dan angin sepoi-sepoi langsung terasa ketika pengunjung datang. Sementara rerimbunan pohon mampu meneduhkan saat terkena terik matahari. Dan aroma dupa dan kembang mulai tercium saat memasuki kawasan Petirtaan Watu Gede di Dusun Sanan, Kelurahan Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Tampak jalan setapak yang terbuat dari batu-batu tersusun rapi dengan dikelilingi tumbuhan berbagai jenis dan warna. Dari celah dedaunan terlihat kolam dengan pancuran air yang jernih menyegarkan.

Petirtaan berasal dari kata tirta yang berarti suci, petirtaan berarti tempat penyucian. Barangkali inilah yang membuat tempat ini sepi. Meski begitu, kesunyiannya mampu membikin hati tenang.

Dari sudut kiri terdapat sebuah pohon Lo yang sudah berusia ratusan tahun menjadi tempat keluarnya air. Pohon yang kokoh ini melambangkan keterikatan pada sang leluhur. Tepat di sampingnya ada Petirtaan sang Permaisuri Kerajaan Tumapel, Ken Dedes.

Sang juru kunci Agus, 54, perlahan menghampiri dan menyapa Tugu Malang, partner Tugu Jatim. Lalu, dia menjelaskan tentang sejarah tempat ini. Agus mengatakan bahwa di tempat ini dulunya Ken Arok secara tidak sengaja melihat Ken Dedes tengah menyucikan diri. Saat itu seketika Ken Dedes memancarkan cahaya biru yang membuat Ken Arok berlari menghampiri gurunya, Empu Lohgawe. Sang guru lalu menuturkan bahwa putri yang memiliki ciri itu disebut Anarendra Anariswari yang berarti perempuan utama yang akan melahirkan raja-raja besar Nusantara.

“Itu tertulis dalam kitab Negarakertagama. Konon itulah Ken Arok berniat merebut Ken Dedes dari Tunggul Ametung,” tuturnya.

Konon petirtaan ini menjadi tempat Ken Dedes mensucikan diri. (Foto: Ovi/Gufron/Tugu Jatim)
Konon petirtaan ini menjadi tempat Ken Dedes mensucikan diri. (Foto: Ovi/Gufron/Tugu Jatim)

Konon, putri-putri raja setelah berusia 7 tahun disucikan di tempat ini sebelum masuk pingitan. Pada masa itu mereka diajarkan tentang doa-doa, budi pekerti, dan menghayati alam semesta. Begitulah cara sang leluhur mempersiapkan anak perempuannya, hal ini diharapkan agar mereka dapat melahirkan raja-raja yang bermanfaat bagi semesta.

Petirtaan Watu Gede yang menjadi peninggalan Kerajaan Tumapel ini mengandung nuansa magis nan filosofis. Sesajen berupa bunga berbagai rupa hingga dupa menghiasi beberapa sudut petirtaan. Agus menambahkan bahwa tidak hanya ada sesajen, tapi amat sarat makna.

Bunga atau sekar dalam bahasa Jawa berarti sesekaran, sesekaran itu tembang, tembang itu tembung, tembung itu kata, kata itu mantera, mantra adalah doa untuk membuka, memberkati, mewujudkan. Dupa melambangkan ketulusan hidup, terbakar menjadi api yang menerangi, asapnya mengudara, dan abunya membumi.

“Sesajen bukan sebatas sajen, tapi penghormatan kepada alam. Tuntunan hidup agar kita menjadi manusia yang tulus dan hati-hati dalam berkata-kata karena setiap kata adalah doa,” imbuh Agus yang sudah menghabiskan waktu selama 24 tahun untuk memelihara tempat sakral ini.

Petirtaan Watu Gede berjarak kurang lebih 2 km dari Candi Singosari, dengan aliran yang bersumber dari sungai bawah tanah Gunung Arjuno, Gunung Semeru, dan Gunung Bromo. Bentuk kolamnya berdenah persegi berukuran 22,50 x 18, tersusun dari batu bata merah dengan sebuah arca tanpa kepala, berelief Hindu-Buddha yang terus memancurkan air tanpa henti.

Berkeliling mengitari areal ini seakan membuat kita flashback. Pemasangan beberapa panil berpelipit ganda motif hiasan palang Yunani sebagai penanda penghubung pancuran. Tak bisa dibayangkan betapa megah tempat ini dahulunya sehingga dijadikan sebagai taman Boboji. Tempat pemandian suci sehingga tak heran jika berbuat asusila, berkata-kata buruk sangat dilarang, bahkan perempuan yang menstruasi dilarang ke tempat ini.

Sebelum pulang, tak lupa kami sempatkan mampir di pos penjagaan untuk berpamitan. Tapi, perhatian kami tertuju pada potret hitam putih, sebuah potret lawas ketika tempat ini ditemukan kali pertama pada 1925 oleh Dinas Purbakala Hindia-Belanda, kemudian penggalian dilanjutkan pada 1931.

Amat berbeda, mulanya setiap pancuran ditandai relief-relief, tapi yang kami temukan hanya satu relief pria dan perempuan di atas dua mahkluk saja. Miris! Ketika mendengar cerita yang demikian, bagaimana mungkin goresan jejak leluhur yang seharusnya dijaga malah dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

“Banyak yang dicuri, Nak. Begitulah kalau manusia sudah dibutakan oleh materi,” imbuhnya.

Terakhir Agus berpesan supaya kami tetap berpegang pada tuntunan leluhur, melalui doa-doa, asma-asma seusai ajaran yang kami yakini.

“Jadi, tugasnya manusia adalah untuk menata karma yang ada supaya sempurna sehingga jalan kehidupan itu damai,” tutupnya. (Ovi-Gufron/ln)

  • Bagikan