Piala Dunia 2022, Kapten Inggris Harry Kane Bakal Pakai Ban Kapten Anti-Diskriminasi One Love

Harry Kane. (Foto: IG @england/Tugu Jatim)
Harry Kane pakai ban Kapten One Love. (Foto: IG @england)

Tugujatim.id – Kapten Inggris Harry Kane akan mengenakan ban kapten spesial dalam rangka mendukung kampanye anti-diskriminasi yang digaungkan pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Nantinya, Harry Kane akan mengenakan ban kapten bertuliskan “OneLove”.

Aksi ini merupakan bentuk partisipasi Timnas Inggris kepada kampanye anti-diskriminasi. Harry Kane akan mengenakan ban kapten untuk kali pertama dalam pertandingan FIFA World Cup pada Jumat malam (23/09/2022) melawan Italia.

“Saya merasa terhormat untuk bergabung dengan rekan-rekan kapten tim nasional. Saya mendukung kampanye OneLove yang penting. Sebagai kapten, kita semua mungkin bersaing satu sama lain di lapangan, tapi kita berdiri bersama melawan segala bentuk diskriminasi,” ujarnya.

Kapten dari delapan negara yang lolos ke Piala Dunia akan mengenakan ban lengan OneLove di Qatar. Kapten tim nasional masing-masing negara akan mengenakan ban lengan khas yang menampilkan hati yang terdiri dari berbagai warna untuk menandai kampanye.

Swedia dan Norwegia -yang belum lolos ke Piala Dunia- juga akan mendukung kampanye dengan kapten mereka mengenakan ban kapten yang sama selama pertandingan Nations League bulan ini.

Untuk diketahui, Inggris menjadi negara ke-10 yang tergabung dalam gerakan anti-diskriminasi ini. Gerakan itu merupakan bentuk keprihatinan atas kematian pekerja migran di negara tuan rumah selama pembangunan jelang turnamen.

Skuad Inggris juga akan mengundang para pekerja migran ke markas latihan tim Piala Dunia di Al Wakrah untuk berinteraksi dengan para pemain.

Selain itu, Asosiasi Sepak Bola Inggris telah mendukung seruan agar kompensasi diberikan untuk “cedera atau kematian apa pun yang terkait dengan proyek konstruksi” untuk Piala Dunia.

Diperkirakan hingga 30.000 pekerja migran telah dipekerjakan pada proyek untuk membangun tujuh stadion untuk final di Qatar, serta bandara baru, metro baru, dan jalan baru.

Namun, Amnesty International mengatakan, sejak 2010, ratusan ribu pekerja migran telah menghadapi pelanggaran hak asasi manusia saat dipekerjakan untuk membangun infrastruktur yang lebih luas yang diperlukan untuk menjadi tuan rumah turnamen, serta tempat-tempatnya.

“Bersama dengan anggota lain dari kelompok kerja hak asasi manusia UEFA, kami mendorong FIFA untuk memperbarui konsep Pusat Pekerja Migran di Qatar, untuk memberikan sarana dan bantuan bagi pekerja migran,” kata Kepala Eksekutif FA Mark Bullingham.

Amnesty International telah meminta FIFA untuk menyiapkan dana kompensasi setidaknya $ 440m (£ 350m) untuk pekerja migran yang telah menderita “pelanggaran hak asasi manusia” selama persiapan untuk Piala Dunia Qatar.