Polemik Lahan Sawit, Puluhan Aktivis Lingkungan Geruduk Kantor DPRD Kabupaten Malang - Tugujatim.id

Polemik Lahan Sawit, Puluhan Aktivis Lingkungan Geruduk Kantor DPRD Kabupaten Malang

  • Bagikan
Aktivis lingkungan dari Aliansi Selamatkan Lingkungan Malang Selatan (ASLIMAS) yang memprotes adanya rencana perkebunan atau lahan sawit di daerah Kabupaten Malang. (Foto: Rizal Adhi/Tugu Jatim)
Aktivis lingkungan dari Aliansi Selamatkan Lingkungan Malang Selatan (ASLIMAS) yang memprotes adanya rencana perkebunan atau lahan sawit di daerah Kabupaten Malang. (Foto: Rizal Adhi/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Aliansi Selamatkan Lingkungan Malang Selatan (ASLIMAS) mendatangi Kantor DPRD Kabupaten Malang untuk meminta legislatif turut mengawal kelestarian Malang Selatan yang terancam akibat rencana penanaman sawit secara masal seperti yang digaungkan Bupati Malang, Muhammad Sanusi. Mereka khawatir kalau lahan sawit dapat menimbulkan risiko anomali ekologi jangka panjang.

“Alih fungsi menjadi sawit akan menghilangkan keanekaragaman tanaman. Khususnya wilayah hutan. Kami ambil kasus di beberapa kawasan di Kalimantan, hutan yang dialihfungsikan malah menimbulkan banjir,” terang Wahyu Eka selaku salah satu anggota ASLIMAS yang ikut melakukan aksi di Kantor DPRD Kabupaten Malang pada Kamis (10/06/2021).

Ia menilai kalau sawit memiliki jenis akar serabut sehingga tidak dapat mencegah banjir. Bahkan, jika penanaman sawit tetap dipaksakan, fungsi hutan sebagai penjaga keseimbangan ekosistem akan terganggu.

“Akar sawit itu serabut, tidak mendalam seperti akar tunggang. Tentu tidak memiliki fungsi merawat tanah. Dari situlah kerawanan itu terbangun,” paparnya.

Wahyu juga menjelaskan bahwa sejumlah fakta mengenai‚Äč sawit yang perlu diketahui masyaraka. Katanya, sawit bertipikal tanaman homogen dan tidak bisa hidup berdampingan dengan tanaman pertanian lainnya, sehingga petani hanya bisa menanam sawit saja.

 Belasan aktivis lingkungan tengah menyeruakan aksi protes menolak lahan sawit di Kabupaten Malang. Aksi tersebut dilakukan dengan mendatangi kantor DPRD Kabupaten Malang, Kamis (10/6/2021). (Foto: Rizal Adhi/Tugu Jatim)

Belasan aktivis lingkungan tengah menyeruakan aksi protes menolak lahan sawit di Kabupaten Malang. Aksi tersebut dilakukan dengan mendatangi kantor DPRD Kabupaten Malang, Kamis (10/6/2021). (Foto: Rizal Adhi/Tugu Jatim)

“Itu juga berpengaruh dengan tanaman lain, tentu itu merugikan. Sifatnya mono karena tidak bisa berdampingan dengan tanaman lainnya,” tegasnya.

Melihat pada karakteristik lahan karst di Malang Selatan, lulusan Psikologi Universitas Airlangga Surabaya ini sangat sangsi sawit memberikan dampak positif bagi ekologi dan ekonomi masyarakat.

“Belum lagi di wilayah kering, di satu sisi wilayah Malang Selatan ini kan rawan kekeringan,” bebernya.

Wahyu menegaskan satu-satunya solusi untuk mengembalikan keasrian ekosistem hutan di Malang Selatan hanya dengan melakukan restorasi hutan.

“Tentu yang dibutuhkan restorasi hutan-hutan yang rusak di Malang Selatan,” tuturnya.

Terkait ekonomi, Wahyu menyarankan bisa menanam pohon buah yang menguntungkan. Tapi yang sifatnya jangka panjang dan merawat seperti sirsak, alpukat, durian dan lain-lain.

Dan terkait kajian ilmiah terkait sawit, Wahyi akan segera membuat kajian bahwasanya sawit tidak cocok ditanam di Kabupaten Malang.

Sementara itu, DPRD Kabupaten Malang menampung aspirasi masyarakat tentang gejolak rencana penanaman sawit di Malang Selatan. Dan menyarankan agar pemerintah tak terburu-buru memasifkan penanaman sawit sebelum melakukan kajian ekologis secara matang.

“Menilai rencana Bupati Malang soal sawit, kami menyarankan adanya kajian lebih mendalam,” ucap anggota Komisi III DPRD Kabupaten Malang Fraksi PKB, Abdullah Satar.

Satar mengatakan bahwa dirinya telah mendengar aspirasi petani sawit di Malang Selatan yang tersebar di Kecamatan Bantur hingga Kecamatan Gedangan.

“Karena fakta di lapangan selama ini, masyarakat yang sudah menanam sawit hampir semua menyatakan antara keberhasilan dan kegagalan itu lebih banyak kegagalan dari berbagai aspek,” beber Satar.

Ia juga mengungkapkan ada banyak alternatif yang bisa dikembangkan untuk memajukan ekonomi Malang Selatan tanpa merusak lingkungan di sana. ia mengatakan perlu dikembangkan ekowisata berbasis konservasi dengan kearifan lokal.

“Saya merasa sangsi dengan keberhasilan penanaman sawit karena mengacu pada karakter tanah di Malang Selatan yang merupakan tanah karst,” tegasnya.

“Budidaya kelapa sawit ini juga dilihat kondisi tanahnya. Karena di Kabupaten Malang ini tanahnya karst. Jadi tidak memungkinkan jika dibandingkan dengan tempat-tempat seperti Aceh dan Kalimantan,” pungkasnya.

  • Bagikan