Puncak Musim Kemarau Agustus 2021, BMKG: Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan

  • Bagikan
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada puncak musim kemarau yang diprediksi BMKG akan dimulai April 2021 dan mencapai puncak pada Agustus 2021. (Foto: Pixabay)
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada puncak musim kemarau yang diprediksi BMKG akan dimulai April 2021 dan mencapai puncak pada Agustus 2021. (Foto: Pixabay)

JAKARTA, Tugujatim.id – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta agar masyarakat waspada terhadap bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau mendatang. Diprediksi, musim kemarau ini akan dimulai pada April 2021 mendatang dan mencapai puncaknya pada Agustus 2021.

BMKG mengimbau agar mewaspadai hal ini. Terutama terhadap wilayah-wilayah yang mengalami musim kemarau terlebih dahulu dibanding wilayah lain. Yakni seperti Pulau Sumatra bagian utara, sebagian kecil Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sulawesi.

Peningkatan kewaspadaan dan antisipasi dini juga perlu ditingkatkan untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normalnya yaitu di Aceh bagian tengah, sebagian Sumatera Utara, Riau bagian utara, Sumatera Barat bagian timur, Jambi bagian barat dan timur, Bengkulu bagian utara, Jawa Barat bagian tengah, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, dan Sulawesi Selatan bagian selatan.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Dodo Gunawan mengatakan, puncak musim kemarau 2021 diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2021. Karena itu Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, institusi terkait, dan seluruh masyarakat diharapkan untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama di wilayah yang rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan, dan rawan terjadi kekurangan air bersih.

“Memasuki masa peralihan dari Musim Hujan ke Musim Kemarau Pemerintah Daerah dapat lebih mengoptimalkan penyimpanan air untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya di masyarakat melalui gerakan memanen air hujan,” ujar Dodo Gunawan.

Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan, kondisi cuaca pada sepekan ke depan mulai 26 Maret hingga 1 April, masih didominasi hujan ringan di sebagian besar Sumatera bagian utara, tengah, salatan dan timur, sebagian Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi bagian utara, selatan dan tenggara, Maluku bagian utara dan tengah, dan sebagian besar Papua.

Selain itu, masih ada beberapa wilayah yang berpotensi hujan lebat seperti di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Bali, NTB, NTT, Maluku Utara , Maluku, Papua dan Papua Barat.

Begitu pula dengan cuaca maritim, menerus Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo masih perlu diwaspadai terutama saat masih terjadi pemanasan di wilayah Indonesia terkait pergerakan semu matahari yang biasanya dapat menurunkan tekanan udara menyebabkan angin sangat kencang dan berpotensi gelombang tinggi utamanya dimasa peralihan dan musim kemarau.

Potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) juga masih perlu diwaspadai dimasa pancaroba karena sering terjadi kondisi ekstrem. Begitu pula ketika memasuki musim kemarau perlu diwaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan terutama untuk wilayah Riau, Kalimantan dan Papua karena akan berdampak pada penerbangan akibat kabut asap.

“Masih perlu diwaspadai terutama di musim pancaroba biasanya terjadi hujan lebat disertai petir, angin puting beliung bahkan ada juga hujan es,” ujar Eko Prasetyo. (Mochamad Abdurrochim)

  • Bagikan