Tugujatim.id – Dunia penyiaran radio di Jatim tengah menghadapi persimpangan besar. Arus digitalisasi yang makin deras membuat pola konsumsi masyarakat berubah drastis. Namun, di balik tantangan itu, tersimpan peluang baru jika radio berani bertransformasi mengikuti zaman.
Komisioner KPID Jawa Timur Aan Haryono menegaskan bahwa keberlangsungan radio tidak lagi bisa hanya mengandalkan romantisme masa lalu. Menurut dia, publik kini menuntut akses yang lebih fleksibel dan serba cepat.
“Radio bukan lagi sekadar mendengarkan siaran lewat perangkat konvensional. Pendengar sekarang ingin bisa mengakses melalui gawai, media sosial, bahkan podcast. Tantangannya, bagaimana radio menghadirkan konten yang relevan dan tidak terjebak pada pola lama,” ungkap Aan, Rabu (10/09/2025).
Baca Juga: Film Pangku Siap Ditonton 6 November, Debut Sutradara Reza Rahadian Curi Perhatian BIFF 2025
Meski era digital kian dominan, Aan menyebut radio tetap memiliki keunggulan yang sulit digantikan: kedekatan emosional dengan pendengar. Di banyak daerah, radio masih menjadi ruang interaksi hangat, terutama dalam menyampaikan informasi lokal yang jarang terangkat di media arus utama.
“Justru di era serba digital, konten lokal inilah yang bisa jadi keunggulan kompetitif radio. Orang ingin mendengar cerita, musik, dan informasi yang dekat dengan kehidupan mereka,” tambahnya.
Radio dinilai mampu menghadirkan sesuatu yang lebih personal. Misalnya, siaran salam-salaman, informasi acara desa, hingga update lalu lintas di jalan lokal. Hal sederhana semacam itu ternyata masih punya magnet kuat bagi masyarakat.
Radio Tata Ulang Model Bisnis
Namun, kekuatan kedekatan saja tidak cukup. Menurut Aan, radio harus berani menata ulang model bisnisnya. Jika selama ini hanya bergantung pada iklan tradisional, kini waktunya menjalin kolaborasi lebih luas dengan dunia digital.
“Radio bisa sinergi dengan media daring, menghadirkan siaran lintas platform, bahkan mengembangkan kanal visual. Itu langkah konkret agar radio tidak hanya jadi media lama, tapi bagian dari ekosistem digital yang sedang tumbuh,” jelasnya.
Sejumlah radio lokal di Jawa Timur sudah mencoba langkah ini. Ada yang mengubah siaran mereka menjadi podcast agar bisa diputar ulang kapan saja, ada juga yang aktif di platform video pendek untuk menjangkau generasi muda. Langkah-langkah kecil itu dianggap sebagai pintu masuk menuju masa depan radio.
Aan juga menyoroti peran radio dalam menghadapi banjir informasi di media sosial. Menurut dia, radio lokal bisa tampil sebagai penjernih, terutama ketika hoaks dan disinformasi makin mudah tersebar.
“Kalau radio bisa membangun kepercayaan, menghadirkan informasi yang akurat sekaligus humanis, dia akan tetap punya tempat di hati masyarakat,” ujarnya.
Transformasi memang tidak mudah. Butuh keberanian dari pelaku industri radio untuk meninggalkan zona nyaman mereka. Namun, Aan optimistis, tantangan ini justru bisa menjadi pintu menuju peluang baru.
“Tantangan ini bukan akhir. Justru ini awal bagi radio untuk menjadi lebih dekat, lebih personal, dan lebih relevan dari sebelumnya,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








