SIDOARJO, Tugujatim.id – Kejayaan Kampung Sandal Wedoro di Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, yang dulu dikenal luas sebagai pusat produksi sandal, kini perlahan mulai memudar.
Kawasan Industri Kecil Menengah (IKM) yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat itu mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Jumlah pengrajin terus berkurang, sejumlah toko tutup, dan generasi penerus semakin sedikit. Aktivitas produksi di kawasan tersebut pun tidak seramai dulu.
Padahal, Wedoro pernah menjadi pusat kerajinan sandal yang memasarkan produknya ke berbagai daerah.
Kondisi itu menarik perhatian Galang, siswa SMA Negeri 1 Waru. Ia lalu mengangkat tema tersebut dalam ajang FLS3N 2026 Sidoarjo tingkat SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Sidoarjo.
Melalui cabang lomba fotografi pada FLS3N 2026 Sidoarjo, Galang memilih tema “Jejak Karya di Kampung Sandal”. Tema itu menggambarkan perjalanan industri sandal Wedoro yang pernah berjaya, namun kini mulai mengalami kemunduran.
Galang mengatakan, ia memilih tema tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap sentra industri lokal yang memiliki nilai sejarah dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Saya mengangkat tema ini karena kondisi Wedoro sekarang sudah tidak se-eksis dulu lagi. Dulu hampir setiap rumah ada produksinya, sekarang sudah tidak sebanyak dulu lagi,” kata Galang usai menerima penghargaan dalam FLS3N 2026 Sidoarjo di SMA Negeri 3 Sidoarjo, Minggu (19/4/2026).
Menurut dia, Kampung Sandal Wedoro merupakan bagian dari identitas masyarakat setempat yang perlu dijaga. Jika tidak mendapat perhatian, sentra usaha tersebut bisa semakin ditinggalkan.
Ia berharap para pengrajin sandal tetap bertahan dan mampu berkembang seperti masa lalu.
“Saya ingin mengapresiasi budaya lokal di tempat produksi sandal, agar tidak punah, agar bisa bangkit dan dikenal seperti dulu lagi,” ujarnya.
Galang tinggal di sekitar kawasan Wedoro. Karena itu, ia melihat langsung aktivitas produksi sandal yang dulu ramai, lalu perlahan menurun dalam beberapa tahun terakhir.
“Rumah saya juga di sekitar Wedoro, jadi saya terpikir agar kampung sandal tidak punah dan bisa bangkit lagi,” ucapnya.
Galang mengaku tidak menyangka karya fotografi tentang lingkungan sekitarnya mampu membawanya meraih juara pertama dalam FLS3N 2026 Sidoarjo.
“Kondisi tersebut saya jadikan tema lomba, alhamdulillah ternyata bisa juara pertama. Senang sekali rasanya,” katanya.
Prestasi itu diharapkan mampu memotivasi pelajar lain agar lebih peduli terhadap potensi daerah dan mengangkat isu lokal melalui karya kreatif.
Selain menjadi ajang kompetisi, FLS3N 2026 Sidoarjo juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan sekitar melalui seni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Achmad Fauzan/ Kontributor
Editor: Darmadi Sasongko








