Tugujatim.id – Momen Lebaran biasanya dirayakan dengan mudik untuk bertemu dengan keluarga di kampung halaman. Tapi, DPRD Jatim memiliki penilaian tersendiri soal momen istimewa ini dalam podcast Tugu Media serial NGODE (Ngobrol bareng Dewan).
Momen Lebaran di era ini tidak hanya dengan tujuan bertemu untuk silaturahmi tetapi juga dijadikan ajang pamer oleh sebagian orang. Hal ini terjadi karena adanya unsur kapitalisme yang membuat masyarakat terkekang oleh industri.
Makna Puasa dan Manfaatnya bagi Fisik dan Spiritual
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Hj Hikmah Bafaqih MPd dalam podcast Tugu Media serial NGODE (Ngobrol bareng Dewan) mengatakan, puasa merupakan instrumen yang baik untuk membersihkan diri secara fisik.
“Puasa itu memang luar biasa hebatnya bagi fisik, seperti bersih-bersihlah ya. Kalau saya pribadi merasa jauh lebih sehat ketika berpuasa,” ujar Hikmah.
Selain itu, puasa juga menjadi instrumen yang penting untuk membersihkan diri secara spiritual.
“Kalau secara spiritual, intensitas kita beribadah itu meningkat, tiba-tiba merasa harus buka Al Qur’an, salat berjamaah, jadi ya yang terasa itu hubungan dengan Allah semakin mesra,” kata Hikmah.
Bukan hanya aktivitas spiritual, dalam hal ini ibadah juga berarti dalam bentuk aktivitas bekerja bahkan tidur.
Baca Juga: Insentif Nakes RSUD Dipangkas, DPRD Jatim Minta Pemprov Evaluasi Kebijakan Efisiensi
“Seperti tidur saat berpuasa itu adalah ibadah kan supaya nggak ghibah, nggak pengen mokel. Nah, bekerja itu sebetulnya juga ibadah kan ya, menurut saya kegiatan kita jadi punya nilai lebih karena dilakukan saat dekat dengan Allah,” ujar Hikmah.
Dia merasakan, kondisi seseorang bisa saja fluktuatif secara spiritual, kadang berada di kondisi terbawah, kadang merasa sangat dekat dengan Allah SWT.
“Kalau yang saya rasakan secara pribadi itu ada dalam situasi yang fluktuatif, nah salah satu instrumen yang paling manjur ya bulan Ramadhan,” ujarnya.
Melalui bulan Ramadhan, dia mengatakan, banyak hal yang dapat dipertahankan seperti mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Refleksi Lebaran dan Menjaga Martabat Kemanusiaan
Penghargaan terhadap diri sendiri seharusnya muncul dari kesadaran untuk menjaga jasmani maupun rohani.
“Lebaran itu menurut saya instrumentasi bagus yang kita butuhkan untuk saling memaafkan. Puasa juga instrumen yang penting, tubuh kita ditempa untuk menjadi lebih sehat, alat-alat produksi makan kita bisa istirahat dulu, dan detoksifikasi terjadi,” kata Hikmah.
Selain itu, dia mengatakan, puasa dan Lebaran juga menjadi ajang untuk membuat mental kembali fitri.
“Saya pikir mental kita diajari lebih down to earth, lebih melihat sisi kemanusiaan, aspek rohani yang lebih kental, martabat kita sebagai manusia itu semakin naik,” lanjutnya.
Hikmah mengatakan, keinginan untuk berbagi, menggembirakan orang lain, dan merasa sungkan untuk berbuat salah jadi aspek terpenting ketika memberikan penghargaan kepada diri kita dan orang lain.
“Ramadhan selalu ada sisi yang membuat ngangeni yaa,” katanya.
Namun ternyata, bulan Ramadhan yang membuat kita jarang makan dengan puasa justru membuat pengeluaran konsumsi yang semakin tinggi.
“Yang jangan tetap melekat itu konsumerisme yang berlebih itu ya. Sebenarnya kita diajari untuk menerima kekurangan, menahan hawa nafsu dan lapar, tetapi kok malah belanja berlebihan,” tutur Hikmah.
Menurut dia, konsumerisme, belanja impulsif, kapitalisme, dan sebagainya itu mengotori makna suci bulan Ramadhan.
“Tetapi kita semua tidak bisa beranjak dari itu. Jadi okelah yang bisa kita lakukan why not selama tidak berlebihan,” kata Hikmah.
Pengaruh Kapitalisme dalam Konsumerisme di Momen Lebaran
Alumnus S1 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) itu mengungkapkan bahwa tradisi Lebaran saat ini menjadi mahal secara relatif. Contohnya adalah biaya mudik yang tidak sederhana.
“Yang paling tidak bagus itu sebenarnya kalau kita mengada-ada, di luar kemampuan. Misalnya, untuk membawakan oleh-oleh, angpao untuk sanak saudara, mobilnya pakai apa,” kata Hikmah.
Belanja secara impulsif dapat muncul dalam fenomena Lebaran, seperti seakan-akan diri memaafkan hal itu karena memang momen Lebaran.
“Seperti seakan diri kita memaafkan adanya belanja impulsif karena Lebaran. Ternyata loh tabungan yang buat pendidikan, buat jaga-jaga kesehatan kok tiba-tiba habis,” ujarnya.
Baca Juga: Darurat Jalan Berlubang, Anggota DPRD Jatim Soroti Perbaikan Jelang Mudik Lebaran
Berkaitan dengan kapitalisme, meskipun seseorang dapat dikatakan well educated, tidak merasakan kekerasan, keluarga baik-baik saja, tetapi sebetulnya tetap menjadi korban kekerasan oleh industri. Manusia menjadi tidak merdeka untuk memilih keputusan bagi tubuhnya sendiri.
“Misalnya, kita nggak merasa cantik kalau nggak pakai skincare, kita nggak merasa cantik kalau nggak pakai jilbab merk ini. Nah, hidup terhadap tubuh kita itu didekte, orang yang paling terdidik pun masih bisa kena, jadi kita nggak merdeka,” tutur Hikmah.
Menurut dia, perempuan terkekang oleh standar kecantikan yang dibuat oleh industri, bahkan laki-laki juga terkekang oleh industri.
“Seperti yang dikatakan Mas tadi, misal nggak PD (percaya diri, Red) hpnya Android jadi sewa iPhone ketika pulang kampung, itu kan sebenarnya kita korban kekerasan industri,” Hikmah memberikan contoh.
Hal itu harus dicermati sebagai ketidakmerdekaan diri untuk memunculkan kesadaran bahwa Lebaran harus ada ini itu.
“Coba lihat kira-kira Paylater naik nggak di ujung Lebaran kemarin, kejadian pinjol ilegal naik nggak, itu kan artinya sukses banget kapitalisme Lebaran ini. Jadi jauh dengan makna sejatinya yang fitri,” ujar Hikmah.
Menurutnya, hal itu dapat membuat momen mudik jadi tidak nyaman karena timbul proses saling membandingkan dengan orang lain.
“Yang awalnya mudik itu untuk bahagia bertemu keluarga, jadi dengki gitu mungkin ya. Nah, ini yang bahaya,” ucap Hikmah.
Bagaimana Peran DPRD Jatim terhadap Konsumerisme di Momen Lebaran?
Hikmah mengatakan, pihaknya tidak memiliki program yang menyasar pada hal-hal budaya dan sosiologi masyarakat.
“Secara besarnya kita mengamati bagaimana alur ketersediaan pangan, kenyamanan transportasi, dan lain-lain. Nah, kalau menahan diri tidak impulsif itu kan kembali ke pribadi ya,” jelas Hikmah.
Di samping itu, mereka juga menyiapkan berbagai bingkisan dan angpao untuk menyambut Lebaran.
“Kalau politikus macam kami itu ya, ketika puasa agak ndredeg soalnya harus menyiapkan bingkisan dan angpao,” canda Hikmah.
Namun, dia juga merasa senang dapat berbagi dengan sesama.
“Tetapi kalau itu kemudian dimaknai sebagai bangunan silaturahmi, pertanda kecintaan kita itu juga luar biasa kan, wong ya nggak saban waktu gitu ya, jadi senang-senang aja,” tambah Hikmah.
Mental Stabil Bikin Seseorang Lebih Paham Batasan
Bagi Hikmah, puasa adalah ajang untuk bersih-bersih, baik fisik maupun mental.
“Nah mempertahankannya yang susah. Kita rasakan kemarin kalau mudik dapat tercederai perasaan iri dengki, itu kan eman banget dengan proses panjang penyucian diri ketika puasa, jadi gimana untuk mempertahankannya itu yang paling penting,” tutur Hikmah.
Dia berpesan bahwa kestabilan mental dapat menjadi benteng untuk menghindarkan diri dari bersikap impulsif.
“Semakin bertambah usia kita kita punya kebutuhan untuk lebih stabil, tidak hanya ekonomi. Bagi saya, mental yang stabil itu membuat kita lebih bertanggung jawab, orang yang bertanggung jawab lebih paham batasan, orang yang mengerti batasan tidak akan mengambil sesuatu yang bukan haknya, tidak menginginkan sesuatu yang melebihi batasan kemampuannya, tidak berpikir neko-neko,” pesan Hikmah.
Dia melanjutkan bahwa kita semua masih dalam tahap belajar untuk memperbaiki diri sehingga terkadang menemukan momen ketika iri melihat orang lain yang lebih mapan secara spiritual.
“Tentu kita semua masih masih belajar, makanya kadang di momen ketemu dengan banyak orang merasa seperti saya kok nggak bisa kayak sosok ini,” lanjutnya.
Simak keseruan Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Hj Hikmah Bafaqih MPd sharing dalam podcast Tugu Media serial NGODE (Ngobrol bareng Dewan) langsung ke link YouTube: https://youtu.be/kiS-WbWnU0U?si=nApydOiVhzchs1u1.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Nur Laila Khoriroh
Editor: Dwi Lindawati








