KEDIRI, Tugujatim.id– Merawat peningggalan sejarah Kediri memang sangat penting untuk pengetahuan generasi masa depan. Namun, letak candi yang berada di tengah hutan di lereng Gunung Wilis membuat artefak peninggalan zaman Pemeritahan Baweswara tahun 1112-1113 masehi itu menjadi jarang dikunjungi dan kondisinya kurang diperhatikan.
Untuk menuju tempat bersejarah masa Kerajaan Panjalu Kediri itu memang membutuhkan tenaga ekstra. Situs yang termasuk komplek Desa Pamongan, Kecamatan Mojo tersebut memang cukup jauh letaknya dari pusat kota.
Untuk mencapai lokasi saja, harus naik gunung dan masuk hutan pinus sejauh lebih dari 7 kilometer dari pemukiman warga. Selain itu, jalannya hanya bisa dilewati untuk 1 motor dengan lebar sekitar 1,5 meter.
Kondisi yang beralaskan tanah dan dikelilingi semak-semak membuat candi kelihatan kurang menarik dan kurang terjaga dari kerusakan. Hal itulah yang menggerakkan relawan dari berbagai komunitas pelestari sejarah di Kediri membuat tatakan dari semen untuk peninggalan leluhur tersebut.
Bertajuk Panji Laras Ngecam dan Sarasehat, para relawan sejarah juga membuat gubuk dari bambu apos, beratap seng untuk melindungi candi.
“Sejak kemarin kita bersihkan dari rumput dan kita buat tatakan lebih rapi dan terawat,” ungkap Doni Wicaksono (49), salah satu relawan, Minggu (9/1/2022).
Kendala membawa material ke lokasi pun dirasakan. Jalan yang saat itu diguyur hujan membuat medan menjadi semakin sulit. Teksur tanah yang liat membuat jalan licin.
Sehingga, untuk membawa bahan tersebut harus menggunakan motor dengan roda khusus. Meskipun begitu kendala dapat dihadapi.
“Untuk mambawa pasir kita dibantu warga sini,” ujarnya.
Begitu pentingnya menjaga Kelestarian sejarah, kegitan yang berlangsung selama dua hari tersebut diharapkan dapat menjada kelestarian situs sejarah.
Doni mengatakan dengan merawatnya, generasi yang akan datang dapat melihat bagaimana leluhurnya memiliki kehidupan yang mengagumkan di masa lalu.
“Dengan ditata kayak rapi dibuat belajar enak, dengan menjaga peninggalan sejarah kita melihat kreativitas mbah-mbah kita dulu,” Pungkasnya.








