MALANG, Tugujatim.id – Tugu Jatim ID menyusuri salah satu tempat yang menawarkan lebih dari sekadar untuk ngopi dan menggunakan Wi-Fi di tengah deretan kafe kekinian dan ruang kreatif di Kota Malang, Rabu (14/05/2025). Namanya Rumah Budaya Ratna (RBR).
Rumah Budaya Ratna ini sebuah ruang budaya inklusif di Jalan Diponegoro No 3, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. Dulunya, rumah ini adalah tempat tinggal mendiang sastrawati Ratna Indraswari Ibrahim. Kini, rumah tersebut bertransformasi menjadi titik temu para pencinta sastra, seni, dan literasi.
Buka setiap hari pukul 11.00–21.00 WIB, tempat ini cocok buat siapa saja yang ingin nongkrong sambil nyalain ide, berdiskusi santai, atau sekadar membaca buku di suasana rumah yang hangat dan tenang.
Baca Juga: Daftar Wisata Adem di Kabupaten Malang, Bikin Susah Move On saat Liburan Tiba
Berawal dari Kamar Kenangan, Kini Jadi Rumah Budaya
Begitu memasuki Rumah Budaya Ratna, pengunjung langsung disambut nuansa rumahan yang hangat. Rak-rak buku berjajar rapi, meja kayu tersebar di sudut-sudut, dan kutipan sastra menghiasi dinding. Di pojok ruangan, ada kafe kecil yang menjual kopi dan teh. Tapi ini bukan sekadar tempat ngopi—melainkan ruang hidup untuk ide dan literasi.
Benny Ibrahim, adik bungsu Ratna Indraswari Ibrahim sekaligus pengelola RBR, mengatakan, rumah ini dulunya adalah kamar mendiang kakaknya. Setelah wafat pada 2011, dia melanjutkan, rumah ini sempat kosong cukup lama. Baru pada Agustus 2024, Rumah Budaya Ratna resmi dibuka untuk publik.
“Konsepnya non-profit. Uangnya dari jualan minuman buat bayar listrik, internet, dan beli buku,” jelas Benny.
Literasi Dihidupi Anak Muda
Menariknya, mayoritas pengunjung justru anak-anak muda—yang oleh Benny disebut “kaum Jenzi” alias Gen Z. Banyak pengunjung yang datang sekadar foto-foto, tapi kembali lagi untuk baca buku, ikut diskusi, atau tampil di panggung kecil.

Kegiatan di RBR sangat beragam, mulai dari mahasiswa yang nugas sambil ngopi, siswa yang ikut storytelling, komunitas seni yang menggelar pertunjukan musik indie, pemutaran film, hingga diskusi budaya.
“Yang mau tampil silakan. Mau jazz indie, tari topeng, baca puisi juga boleh. Terpenting, jangan bawa politik. Ini rumah budaya, bukan panggung orasi,” tegas Benny.
Suasana Tenang yang Bikin Betah
Suasana di Rumah Budaya Ratna benar-benar bikin betah. Di ruang depan, suasananya sederhana tapi menenangkan. Ada meja bundar kecil dengan vas bunga, dinding hijau dengan rak buku menempel, dan instalasi ranting pohon yang artistik. Cahaya lampu temaram menambah kesan hangat—pas buat ngobrol santai atau membaca buku.

Menuju ke bagian belakang, lorongnya dihiasi deretan majalah Hidayah lawas yang dipajang rapi. Ini jadi semacam galeri mini yang menarik dan nostalgik. Begitu sampai ke perpustakaan, pengunjung akan disambut rak-rak tinggi penuh buku dan meja kayu besar yang nyaman. Ruang ini tenang dan damai—tempat ideal untuk membaca, berdiskusi, atau sekadar menikmati waktu dalam keheningan.
Gaya Kafe, Jiwa Perpustakaan
Dengan desain interior seperti kafe, tapi penuh buku, RBR memberi ruang bebas. Pengunjung nggak harus membaca atau beli kopi—cukup duduk dan betah, itu sudah berarti.
“Nggak semua harus baca, nggak juga harus beli kopi. Tapi kalau kamu duduk dan betah, itu sudah cukup,” kata Benny.

Buku-buku di Rumah Budaya Ratna ini berasal dari donasi Gramedia, komunitas, dan perorangan. Buku bekas pun diterima dengan senang hati.
“Kalau kamu punya seribu buku di rumah tapi nggak dibaca, mending kasih ke sini. Bisa jadi anak-anak FISIP atau kedokteran yang baca,” ujarnya.
Menu Kafe Rumah Budaya Ratna
Minuman Panas:
- Kopi Tubruk – Rp8.000
- Kopi Susu – Rp10.000
- Chocolate – Rp15.000
- Latte – Rp10.000
- Cappuccino – Rp10.000
Minuman Dingin:
- Brown Sugar Coffee – Rp15.000
- Iced Chocolate – Rp15.000
- Iced Latte – Rp10.000
- Iced Cappuccino – Rp10.000
- Leci Tea – Rp15.000
- Mojito – Rp10.000
Tantangan Menjaga Rumah Hidup
Meski suasananya tenang dan menyenangkan, menjaga RBR tetap hidup bukan perkara mudah. Benny menjalankan semuanya tanpa gaji.
“Tuhan yang gaji saya,” ucapnya sambil tertawa.
Dia mengatakan, biaya operasional seperti listrik dan internet ditutup dari hasil penjualan kopi. Selain itu, ada juga beberapa relawan yang ikut menjaga dan merawat tempat ini.

Saat ditanya soal tantangan terbesarnya? Dia menjawab, menumbuhkan semangat membaca dan menjaga semangat kolektif.
“Awalnya mereka datang buat selfie. Tapi dua hari kemudian balik lagi, duduk, dan baca beneran. Itu aja saya sudah senang,” terangnya.
Baca Juga: Gartenhaus, Kafe Tropis Rindang di Malang Bikin Betah Nongkrong Lama
Harapan dari Rumah Budaya Ratna
Menutup obrolan, Benny menyampaikan harapannya agar para pengunjung tidak sekadar datang. Dia berharap mereka juga sadar pentingnya membaca buku.
“Saya cuma ingin mereka sadar. Sadar baca. Sadar kalau buku itu penting. Dan sadar bahwa di Malang, kami punya rumah budaya satu-satunya yang independen,” katanya.
Dengan semangat kolektif dan cinta pada literasi, Rumah Budaya Ratna bukan sekadar tempat mengenang sosok Ratna Indraswari Ibrahim, tapi juga memperpanjang napasnya melalui ruang diskusi, seni, dan secangkir kopi. Di sinilah ide menyala, dan budaya terus hidup.
Review Pengunjung
Farhan, 22, salah satu pengunjung, membagikan pengalamannya. Dia mengatakan, rumah budaya ini tenang dan nyaman. Dia juga mengatakan, koleksi buku-bukunya juga bagus-bagus.
“Saya baru kali pertama ke Rumah Budaya Ratna. Tempatnya tenang, nyaman, dan estetik. Saya coba kopi robusta dan cappuccino, cocok banget buat nemenin baca buku. Dan buku-bukunya juga bagus-bagus. Pasti saya ajak teman-teman ke sini,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Muhammad In’am Chairuzzidan Anwar/Magang
Editor: Dwi Lindawati








