Rumah Teduh 21, Tempat Isolasi Gratis di Malang untuk Pasien Covid-19 - Tugujatim.id

Rumah Teduh 21, Tempat Isolasi Gratis di Malang untuk Pasien Covid-19

  • Bagikan
Rumah Teduh 21 Kota Malang ini sebagai tempat isolasi gratis bagi pasien Covid-19, Jumat (13/08/2021). (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Jatim)
Rumah Teduh 21 Kota Malang ini sebagai tempat isolasi gratis bagi pasien Covid-19, Jumat (13/08/2021). (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Rumah Teduh 21 yang berada di Jalan Pajajaran Kota Malang membuka tempat isolasi gratis bagi pasien Covid-19. Terutama bagi yang memiliki rumah kecil dari keluarga tidak mampu.

“Jika isolasi mandiri (isoman, red) di rumah, dikhawatirkan virus Covid-19 menular pada anggota keluarga lainnya,” jelas Koordinator Rumah Teduh Malang Edi Junaedi.

Fasilitas untuk pasien isoman ini dibuka sejak Maret 2021 dan berkapasitas 15 tempat tidur.

“Namun, jika terjadi peningkatan kasus, bisa menampung 50 orang. Maka pasien kanker dan pendamping bisa dipindahkan ke Rumah Teduh lain yang berkapasitas 17-18 kamar,” jelasnya.

Saat ini, jumlah pasien isoman di sana ada 8 orang.

Rumah Teduh 21 Kota Malang juga menyediakan peminjaman tabung oksigen gratis bagi pasien Covid-19, Jumat (13/08/2021). (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Jatim)
Rumah Teduh 21 Kota Malang juga menyediakan peminjaman tabung oksigen gratis bagi pasien Covid-19, Jumat (13/08/2021). (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Jatim)

“Kami juga menyediakan peminjaman tabung oksigen secara gratis bagi warga yang membutuhkan untuk isoman,” jelasnya.

Untuk diketahui, konsep Rumah Teduh 21 awalnya semacam rumah singgah untuk pasien kanker dari keluarga tidak mampu. Mereka menyediakan tempat tidur dan makan gratis.

Di Malang, Rumah Teduh 21 ada sejak Oktober 2020 di tiga titik dan mempunyai dua ambulans. Selain di Malang, Rumah Teduh ada di Bandung dan Sukabumi.

Founder Rumah Teduh adalah Iraningsih Achsien dari Bandung.

“Founder Rumah Teduh adalah tempat pribadi, bukan yayasan. Rumah itu untuk pasien dan pendamping tinggal sembari kontrol di kesehatan di RSSA,” jelasnya.

Dia mengatakan, memang di sini tidak ada dokter dan tenaga kesehatan (nakes), hanya ada relawan.

“Di sini tidak dokter dan nakes. Kami hanya siapkan relawan. Tugas relawan mengantarkan dan mengambil ke RSSA,” ujarnya.

 

  • Bagikan