BOJONEGORO, Tugujatim.id – Harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Bojonegoro merosot dalam beberapa hari terakhir. Kondisi harga telur di Bojonegoro ini mulai dirasakan langsung oleh para peternak yang mengaku pendapatannya ikut tergerus, sementara biaya produksi dan perawatan ternak tetap berjalan seperti biasa.
Situasi tersebut menambah tekanan bagi pelaku usaha peternakan ayam petelur di tengah fluktuasi harga kebutuhan pangan di tingkat daerah. Sementara biaya perawatan ternak tetap harus dikeluarkan.
Baca Juga: Blitar Surplus 450 Ton Telur Per Hari, Bupati Singgung Serapan Program Nasional Belum Optimal
Salah satu peternak ayam petelur di Bojonegoro, Ni’ifah mengungkapkan, turunnya harga telur di Bojonegoro terjadi saat produktivitas ayam juga tidak lagi optimal. Menurut dia, usia ayam yang sudah tua menjadi salah satu penyebab jumlah produksi telur berkurang.
“Harga telur turun. Ayam yang saya pelihara sudah tua sehingga produksi telurnya menurun. Dulu ada 54 ekor ayam, sekarang tinggal 46 ekor,” ungkap Mbak Nik, sapaan akrabnya.
Dia menuturkan, sebelumnya sempat menerima bantuan ayam dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui program Gayatri bagi keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH).
Namun, untuk kembali membeli seekor ayam petelur dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Di sisi lain, kebutuhan pakan dan obat-obatan ternak terus meningkat, sementara pendapatan dari hasil penjualan telur dinilai tidak mampu menutupi biaya produksi.
“Regenerasi ayam petelur tidak bisa dilakukan secara cepat karena membutuhkan modal yang cukup besar. Di sisi lain, harga jual telur yang menurun membuat peternak harus lebih berhati-hati dalam mengelola usaha,” ujarnya.
Terpisah, pedagang sembako di Pasar Tradisional Bojonegoro, Mafy menambahkan, harga telur di Bojonegoro saat ini berada di kisaran Rp24.500 per kilogram. Harga tersebut sudah berlangsung selama sekitar tiga hari terakhir, sejak berita ini ditulis.
“Harga jual di pasar sekarang Rp24.500 per kilogram dan sudah tiga hari seperti ini,” katanya.

Menurut Mafy, penurunan harga lebih banyak dirasakan peternak dibandingkan pedagang. Sebab, pedagang tetap memperoleh keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual.
“Kalau pedagang tidak terlalu rugi karena membeli dari pemasok dengan harga di bawah harga jual. Yang biasanya rugi itu peternak kalau harga terus turun,” jelas Mafy.
Dia menambahkan, fluktuasi harga telur tidak terlalu memengaruhi keuntungan pedagang selama pasokan masih tersedia dan permintaan masyarakat tetap stabil.
“Mau harga murah atau mahal, pedagang biasanya tetap mendapat keuntungan,” tambahnya.
Baca Juga: Peternak Blitar Bagikan 1 Juta Telur Gratis, Protes Harga Anjlok di Tengah Ancaman Gulung Tikar
Berdasarkan pantauan Dinas Perdagangan Bojonegoro, harga rata-rata telur ayam RAS di Kabupaten Bojonegoro per Kamis (04/06/2026) adalah Rp25 ribu. Kemudian, harga telur ayam RAS terendah di Rp24 ribu dan harga tertinggi di Rp27 ribu. Data diambil dari rata-rata harga pasar pada 28 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro.
Turunnya harga telur menjadi perhatian para peternak karena terjadi di tengah biaya produksi yang masih relatif tinggi, mulai dari pakan hingga kebutuhan kesehatan ternak. Mereka berharap harga telur kembali stabil agar usaha peternakan rakyat tetap dapat berjalan dan memberikan keuntungan yang layak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : Lizza Arnofia Choirunisa
Editor: Dwi Lindawati








