MALANG, Tugujatim.id – Suasana Soendari Batik and Art Gallery Kota Malang, Jatim, ini begitu kental dengan nuansa budaya saat dikunjungi Tugujatim.id pada Selasa pagi (09/12/2025). Bahkan, eksistensinya tidak perlu diragukan lagi melalui tangan dingin Direktur Soendari Batik and Art Gallery Satrya Paramanandana sebagai penerus generasi ketiga.
Terbaru, Soendari Batik kini makin memperluas eksistensinya dengan go international dengan membawa warisan budaya batik melalui berbagai pameran di luar negeri. Upaya ini menjadi wujud komitmen untuk mengenalkan batik sebagai identitas bangsa Indonesia yang memiliki nilai historis dan estetika.
Langkah ekspansi ini tidak hanya menjadi pencapaian bisnis, tetapi juga bentuk diplomasi budaya untuk membawa warisan budaya Indonesia ke mata dunia. Tidak hanya itu, Soendari Batik and Art Gallery juga menarasikan filosofi dan proses tradisional di balik setiap motif.
Bertempat di Jalan PTP II Permata Soekarno Hatta No A2, Mojolangu, Lowokwaru, Kota Malang, Soendari Batik tidak hanya menawarkan produk batik, tetapi juga mengajarkan cara membuat hingga menyajikan mini museum rumah zaman dahulu.
Kiprah Soendari Batik dalam Pameran Internasional
Di balik perjalanan menuju pasar internasional, Soendari Batik konsisten membangun ekosistem kolaboratif di tingkat lokal.
Direktur Soendari Batik and Art Gallery Satrya Paramanandana menjelaskan, pihaknya aktif terlibat dalam Asosiasi Perajin Batik Kota Malang (APBKM) yang menjadi ruang berbagi dan mengembangkan kreativitas pembatik.
Melalui asosiasi itu, Satrya, sapaan akrabnya, dapat berbagi ilmu tentang membatik dan Soendari Batik mendapatkan kesempatan mengikuti Malang Fashion Week. Meski jarang tampil bersama desainer, Soendari Batik pernah berkolaborasi dengan desainer asal Tulungagung, Kiki Mahendra.

Dalam waktu dekat, pada April 2026, Soendari Batik dijadwalkan mengikuti pameran di Manila, Filipina, dengan menampilkan salah satu masterpiece-nya. Kesempatan ini mendapat dukungan langsung dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan menjadi langkah strategis memperluas jangkauan internasional.
Sebelumnya, Soendari Batik juga pernah ikut partisipasi dalam kegiatan pameran di Zhejiang, China, lalu Kyoto, Jepang, hingga Taiwan melalui kolaborasi dengan Universitas Brawijaya (UB).
“Itu jadi penyemangat buat kami untuk tahun depan agar bisa promosi ke luar negeri,” kata Satrya.
Perjalanan Soendari Batik yang Bertahan hingga Generasi Ketiga
Saat zaman Jepang dulu, usaha ini dirintis oleh nenek buyut Satrya, Eyang Martopuro, perantau dari Tulungagung yang berdagang batik di daerah Mojokerto. Batik yang dijual merupakan hasil karya bersama saudaranya di Tulungagung, kemudian dijual di pasar-pasar Mojokerto.
Setelah Eyang Martopuro wafat pada 1960-an, usaha ini sempat terhenti hingga akhirnya dihidupkan kembali oleh Ibunda Satrya, Yunita, pada 2013. Dengan nama “Soendari” diambil dari Eyang Soendari, nenek Satrya yang tidak membatik tetapi memiliki kedekatan dengan dunia seni, terutama merajut dan kuliner.

“Ibu terinspirasi untuk mendirikan karena mendengar cerita ini dari ibunya, yang menjadi nama galeri kami, Eyang Soendari,” kata Satrya.
Dari cerita keluarga itulah, Soendari Batik tumbuh menjadi galeri sekaligus ruang edukasi hingga tiga generasi.
“Jadi, kalau sesuai generasi yang aktif ya saya ketiga,” ujar Satrya.
LKP Soendari Batik dan Galeri untuk Edukasi Masyarakat
Pada 2018 menjadi awal berdirinya Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Soendari Batik. Inspirasi terbentuknya LKP ini, yaitu semangat anak muda yang ingin belajar membatik.
“Karena kami lihat animonya kan juga cukup banyak yang ingin belajar membatik, tidak hanya ingin tahu batik itu oh sekadar seperti ini, tapi ingin lebih serius lagi,” ujar Satrya.

Hal ini juga merupakan nilai yang ingin ditanamkan oleh Soendari Batik bahwa tidak hanya sekadar bisnis saja, tetapi juga membawa manfaat edukasi bagi masyarakat.
LKP Soendari Batik memiliki beberapa kelas untuk kursus singkat dengan durasi beberapa jam selama 1 hari hingga 1 minggu sekali untuk kelas intensif. Bahkan, ada paket hingga mahir yang berdurasi selama 1 bulan.
Pelatihan batik di LKP Soendari Batik mulai dari Rp35.000 untuk paket hanya mewarnai hingga Rp3 juta untuk paket mahir.

Untuk mendukung kegiatan edukasi, ada galeri dengan 2 segmen. Lantai 1 mengedukasi tentang membatik sekaligus tempat untuk butik.
Sedangkan di lantai 2, ada mini museum yang menampilkan situasi rumah zaman dahulu, seperti diorama dapur, ruang tamu, dan kamar tidur.

“Ke depannya juga kami mau ada kolaborasi membuat semacam pojok museum untuk keris juga,” jelas Satrya.
Bagi Satrya, batik bukan sekadar tren visual, tetapi juga jembatan memahami akar budaya Jawa Timur. Pengunjung dapat menyaksikan proses membatik secara terbuka, mulai dari mencanting hingga pelorodan agar mereka benar-benar memahami kerja keras dan ketelatenan untuk menciptakan selembar kain batik.

Proses Pembuatan Batik di Soendari Batik
Soendari Batik memaknai batik dikatakan ideal jika terdapat coletan malam di kain. Di tempat ini, ada tiga teknik yang digunakan, yaitu batik tulis, batik cap, dan kombinasi batik tulis dan cap.

Satrya menjelaskan, langkah-langkah pembuatan batik sebagai berikut:
1. Membuat sketsa motif yang diinginkan.
2. Memindahkan sketsa motif ke kain.
3. Proses mencanting, mulai dari pembuatan outline (klowong) hingga mengisi detail (ngiseni).
4. Proses pewarnaan menggunakan pewarna tekstil. Bisa pewarna sintetis atau pewarna alami tergantung pesanan.
5. Penguncian warna (fiksasi).
6. Menghilangkan malam pada kain (nglorod).
“Batik cap sebenarnya hampir sama, tinggal kain yang sudah dipotong, dicap pakai motif yang diinginkan, kemudian masuk proses pewarnaan, penguncian warna, dan pelorodan,” papar Satrya.

Satrya juga berbagi pengalaman selama membuat motif batik. Dia mengatakan, kalau ada inspirasi langsung menggambar, kadang mengerjakannya malam hari dalam suasana hening.
“Kalau ada inspirasi, saya langsung menggambar. Tapi, ada juga yang saya kerjakan malam hari karena kan suasananya hening, biasanya juga ada proses riset terlebih dahulu,” kata Satrya.
Motif Khas Soendari Batik and Art Gallery
Motif kain yang ada di Soendari Batik and Art Gallery, dia mengatakan, dibagi menjadi dua kategori, yaitu motif untuk umum yang dijual serta motif khusus.
“Kayak pesanan seragam itu kan sifatnya tidak ada khusus ya, jadi mereka request seperti apa kami buat. Tapi memang ada juga beberapa motif yang saya buat khusus, itu juga motif-motif yang saya kembangkan di sini,” kata Satrya.
Motif khas Soendari Batik sendiri mengangkat kekayaan budaya Malang dan sekitar Jawa Timur, terutama peninggalan Kerajaan Singhasari. Contohnya, arca, topeng Malangan, teratai, trembesi, hingga ikon singo menjadi inspirasi utamanya.
Teratai merupakan salah satu motif yang menjadi ciri khas karena sesuai dengan Soendari Batik and Art Gallery. Selain itu, ada motif Candrakapala yang dibuat oleh Direktur Soendari Batik and Art Gallery Satrya Paramanandana.
Satrya juga membagikan tips agar motif batik yang dibuat sesuai dengan perkembangan zaman.
“Kan ada yang namanya pakem ya, itu memang tidak bisa diubah. Tetapi, kami dapat mengolah lagi motif yang lebih ringan agar lebih relevan dengan perkembangan zaman,” kata Satrya.
Saat ini, Soendari Batik sedang mengembangkan motif baru, tetapi belum di-launching. So, jangan lupa nantikan motif terbarunya ya!
Jam Operasional dan Harga

Soendari Batik and Art Gallery tidak menjual produk secara online demi menjaga eksklusivitas bagi pelanggan yang memesan motif khusus. Publikasi dilakukan melalui Instagram @soendari_batikart dan TikTok @batik.bysoendari untuk mengajak masyarakat datang langsung dan mendapat pengalaman melihat proses membatik.
Produk batik di butik ini ditawarkan mulai dari Rp50.000 hingga Rp5 juta untuk batik premium.
Jadwal Buka:
- Senin-Minggu: pukul 08.00-20.00 WIB.
- Jumat: pukul 08.00-17.30 WIB.
Soendari Batik Berdampak Positif bagi Sosial dan Lingkungan
Selain melestarikan warisan budaya batik, Soendari Batik and Art Gallery juga memberikan dampak sosial yang signifikan. Melalui pendekatan edukasi dan pengalaman langsung, Soendari Batik mendorong masyarakat, terutama generasi muda untuk mengapresiasi batik.
“Kami berusaha menyampaikan batik ini bisa dibuat oleh siapa saja, encourage (memotivasi, Red) bahwa belajar batik itu menyenangkan dan kami bisa banyak melahirkan kreativitas melalui batik,” kata Satrya.
Selain itu, para budayawan juga sering memesan batik untuk udeng dengan motif-motif yang punya nilai filosofi tinggi.

“Menurut saya ketika mengerjakannya kayak ternyata kami sudah dipercaya oleh sesepuh-sesepuh budaya. Kami juga merasa senang punya kontribusi untuk kebudayaan,” ujar Satrya.
Tidak hanya itu, proses pembuatan batik di Soendari Batik and Art Gallery juga memperhatikan dampak industrinya terhadap lingkungan. Meskipun memakai pewarna sintetis, Soendari Batik menggunakan remasol yang relatif lebih ramah lingkungan dan mudah diaplikasikan.
Selain itu, pembuangan limbah juga dipilah kembali sebelum dibuang, misalnya menggunakan kembali malam untuk proses mencanting.
“Dari perebusan atau lorod itu kan biasanya ada sisa malam. Nah, itu diambil dan kami gunakan kembali. Kadang juga ada rekanan yang membuat malam jadi tukar tambah,” ujar Satrya.
Impian Besar dari Soendari Batik
Batik merupakan seni adaptif yang fleksibel dalam merekam memori, misalnya membuat motif tentang diri sendiri, daerah tempat tinggal, atau suatu fenomena. Meskipun terdapat beberapa pakem yang mengatur, batik tetap bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Hal ini menjadi kesempatan untuk masyarakat umum agar bisa mengapresiasi batik. Apalagi, batik sudah diakui oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) dan sudah menjadi Top of Mind di mata dunia kalau batik berasal dari Indonesia.

“PR (pekerjaan rumah, Red) kita bersama untuk mempertahankan batik agar tetap digunakan masyarakat Indonesia secara konsisten dan menjadi bagian hidup,” ujar Satrya.
Sementara itu, pemateri untuk kelas batik di Soendari Batik and Art Gallery, Sugik, mengatakan, bahwa dia bersyukur perkembangan batik kalau dilihat dari wilayah lokal sudah semakin banyak yang tertarik.
“Apalagi untuk generasi muda, paling nggak tuh mereka tahu seperti apa sih membuat batik. Bukan berarti kami menuntut untuk menjadi pembatik. Tapi, agar mereka mengerti batik seperti apa, itu sudah cukup,” kata Sugik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Nur Laila Khoriroh/Magang
Editor: Dwi Lindawati








