MALANG, Tugujatim.id – Komunitas fotografi Syukur Njepret kolaborasi dengan Soendari Batik and Art Gallery menggelar workshop fotografi dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025. Kegiatan bertema “Disabilitas Berkarya” ini menggandeng komunitas, Difabel Creative Community (DC2) untuk belajar bersama tentang fotografi pada Minggu (23/11/2025).
Workshop fotografi ini menjadi kegiatan pertama yang diselenggarakan oleh Syukur Njepret dalam rangka memperingati HDI. Tujuannya, yaitu mengajak teman-teman difabel menggali potensi diri untuk belajar dan berkarya melalui kamera smartphone.
Workshop Fotografi untuk Peringati Hari Disabilitas Internasional
Human interest photographer yang juga bekerja sebagai Humas Poltekkes Putra Indonesia Malang M. Joko Apriyo Putro saat menyampaikan materinya, mengatakan, Syukur Njepret baru kali pertama menyelenggarakan workshop fotografi bersama teman-teman difabel.
“Ini workshop fotografinya baru pertama kali. Cuma beberapa tahun lalu kami sudah bekerja sama dengan teman-teman Difabel Creative Community untuk workshop pembuatan batik. Jadi, kalau beberapa tahun lalu mereka hanya membatik, saat ini kami ajak mereka untuk ke dunia fotografinya,” ujar Apry, sapaan akrabnya.

Apry mengatakan, dia dan teman-temannya ingin mengakomodasi kebutuhan teman-teman difabel yang mau belajar di dunia fotografi.
“Saat ini saya dan teman-teman dari komunitas fotografi Syukur Njepret, kami menginisiasi untuk mengakomodasi teman-teman disabilitas,” ujar Apry.
Dia mengatakan, bertepatan pula untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional pada (03/12/2025).
“Untuk tanggal 3 Desember kan Hari Disabilitas sedunia ya, jadi kami menggandeng teman-teman dari Difabel Creative Community juga teman-teman dari luar. Ketika mereka mau belajar, kami memfasilitasi,” ujarnya.

Selain itu, Apry menjelaskan bahwa ingin mengajak difabel untuk berkarya dari rumah dan mungkin bisa menghasilkan uang.
“Kami fasilitasi teman-teman agar nantinya ketika mereka punya kemampuan memotret, mereka bisa menghasilkan uang dari memotret tersebut. Karena kan banyak juga lomba-lomba foto nggak harus pakai kamera, pakai HP atau smartphone juga bisa,” jelas Apry.
Kemudian, Apry melanjutkan terdapat situs web untuk menjual hasil foto dan menghasilkan uang.
“Ada yang namanya Shutterstock, mungkin mereka bisa memotret di rumah dengan kamera maupun smartphone mereka, kemudian bisa dijual hasil fotonya. Kami arahkan biar mereka bisa berkarya dari rumah,” kata Apry.

Apry menjelaskan materi soal cara pengambilan objek, komposisi, hingga angle foto yang paling mudah dipelajari untuk pemula.
“Yang utama sih kami sampaikan cara pengambilan ya, komposisi dan angle, karena itu yang paling mudah mereka pelajari dulu,” kata Apry.
Dia juga menjelaskan bahwa komponen-komponen lain dapat diajarkan setelah komponen dasar terkait komposisi dan angle telah dikuasai.
“Kalau masalah pengaturan ISO dan lain-lain, nanti setelah mereka menguasai komposisi dan angle,” kata Apry.
Tidak hanya melalui teori saja, Apry juga mengajak para peserta untuk praktik mengambil gambar.
“Jadi mereka bisa memotret temannya sendiri ketika membatik, kemudian bisa rolling. Nanti teman-teman dari Syukur Njepret juga akan mendampingi anglenya seperti apa, pengaturannya seperti apa, begitu,” ujar Apry.

Setelah mendampingi belasan teman-teman Difabel Creative Community untuk praktik, Apry mengapresiasi hasil foto para peserta.
“Dengan keterbatasan yang ada, semangat mereka untuk belajar patut diapresiasi. Hasilnya juga bagus-bagus hanya dengan workshop singkat ini,” kata Apry.
Apry pun berharap kegiatan ini dapat bermanfaat untuk mengembangkan potensi difabel di dunia fotografi.
“Harapannya mereka bisa berkarya dari rumah dengan foto dan menghasilkan sesuatu, mungkin bisa dapat tambahan uang juga nanti dari foto,” kata Apry.
Apry pun berharap ada keberlanjutan dalam kegiatan workshop fotografi yang lebih besar lagi agar terus bisa berkarya.

“Semoga ada kelanjutan dari kegiatan ini untuk tahun-tahun ke depan. Jadi tahun ini kami fokuskan untuk teman-teman difabel agar mereka bisa berkarya. Semoga tahun depan bisa membuat event seperti ini yang lebih besar,” kata Apry.
Sementara itu, Andriyanto, fotografer kegiatan sosial sekaligus anggota komunitas fotografi Syukur Njepret, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini.
“Kegiatan ini bagus untuk mengajak teman-teman difabel menggali kelebihan dan potensi mereka, karena di setiap kekurangan pasti ada kelebihan di baliknya,” kata Andriyanto.
Dia juga mengatakan, workshop ini mungkin bisa juga untuk mengasah kemampuan yang sudah ada dari teman-teman difabel.

“Ini nanti kan ada praktik juga, dari situ mungkin kita bisa lihat oh ini bisa digali lagi potensinya, kita ajarkan yang lebih lanjut lagi,” kata Andriyanto.
Dia berharap kegiatan ini lebih banyak diadakan agar dapat memfasilitasi teman-teman difabel yang ingin berkarya, terutama di dunia fotografi.
“Harapannya sih untuk kegiatan semacam ini semakin banyak diadakan untuk komunitas-komunitas lain juga, ayo kita adakan kegiatan untuk memfasilitasi teman-teman difabel,” ujarnya.
Kolaborasi Apik Syukur Njepret X Soendari Batik and Art Gallery
Direktur Soendari Batik and Art Gallery Satrya Paramanandana mengatakan, kegiatan workshop ini berawal dari hasil diskusinya bersama dengan Apri dan timnya.
“Ini kemarin hasil diskusi dengan Mas Apri dan tim. Selama ini kan kami melihat bahwa teman-teman difabel ini dengan segala hormat hanya menjadi objek dalam fotografi. Tapi, kemarin diskusi kenapa tidak coba teman-teman yang menghasilkan karyanya,” kata Satrya.
Hasil diskusi tersebut memunculkan ide workshop fotografi untuk teman-teman difabel. Satrya mengatakan, setiap orang punya kesempatan untuk berkarya.

“Setiap orang itu punya kesempatan, apa pun itu, mungkin entah punya kekurangan fisik atau mungkin ada permasalahan mental segala macam, saya kira semua orang punya kesempatan untuk berkarya,” ujar Satrya.
Dia berharap dengan adanya kegiatan ini membawa dampak positif bagi teman-teman difabel.
“Teman-teman difabel tidak hanya menjadi objek dalam tanda kutip, tapi juga sebagai subjek, orang yang menghasilkan karya,” kata Satrya.
Di samping itu, Satrya ingin memotivasi semua orang bahwa kita bisa hidup dengan karya.
“Hidup itu tidak hanya semata-mata, ya kita berharap ada output berupa material atau uang, tapi karya ini hidup dalam jiwa, pesan yang ingin coba kami sampaikan,” kata Satrya.
Dampak Positif untuk Peserta Workshop Fotografi
Teman-teman Difabel Creative Community (DC2) atau kini namanya legalnya menjadi Difabel Kreatif Malang (DKM) ini merasa senang dengan adanya kegiatan ini. Salah satunya datang dari Ketua Difabel Creative Community (DC2) Sutarno. Pria yang bekerja sebagai penjahit ini mengatakan, teman-teman difabel mendapatkan banyak pengalaman tentang fotografi.
“Alhamdulillah, dari sini teman-teman mendapat banyak pengalaman tentang fotografi ya, terutama mengunakan HP,” kata Sutarno.

Dia mengatakan, peserta diajarkan menggunakan alat sederhana sehingga bisa lebih mudah memanfaatkan fitur-fitur yang ada di smartphone untuk fotografi.
“Teman-teman bisa memanfaatkan fitur-fitur di HP seperti yang tadi sudah dijelaskan, mungkin dari situ bisa jadi fotografer gitu,” ujar Sutarno.

Dia juga menyampaikan harapannya agar teman-teman bisa menambah pengalaman, mengasah skill, dapat mengikuti lomba, dan mungkin bisa sukses melalui fotografi. Dia juga berharap kegiatan ini dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“Semoga ada kegiatan lanjutan ke depannya agar teman-teman bisa lebih profesional. Tetap harus semangat untuk teman-teman, ayo lakukan yang bisa dilakukan,” pesan Sutarno.
Selain itu, peserta lainnya bernama Muhammad Mufid juga mengutarakan perasaannya yang senang setelah mengikuti kegiatan ini.

“Seneng bangetlah karena bisa nambah ilmu tentang fotografi dan juga bisa menambah relasi,” ujar Mufid.
Tidak hanya Mufid, peserta bernama Jeny Kusumaningrum, 19, juga merasakan hal yang sama.
“Senang, tapi capek,” kata Jeny.
Pendamping peserta difabel bernama Nurhayati juga merespons positif kegiatan workshop fotografi ini.
“Kegiatannya bagus, senang ya bisa mengembangkan minat. Syifa (anaknya, Red) kan sebenarnya ingin belajar fotografi juga, tapi sekarang masih jadi modelnya,” kata Nurhayati.
Mendorong Ruang Berkarya yang Inklusif
Melalui Workshop Fotografi “Disabilitas Berkarya”, kolaborasi antara Syukur Njepret, Soendari Batik and Art Gallery, serta Difabel Creative Community berhasil membuka ruang baru bagi teman-teman difabel untuk mengekspresikan diri melalui visual fotografi.
Bahkan, beberapa foto yang diambil oleh teman-teman Difabel Creative Community berhasil mendapatkan kategori foto terbaik dan mendapatkan doorprize. Tentunya hal ini juga mendapatkan respons yang baik dari peserta.
Antusiasme peserta menjadi bukti bahwa kesempatan berkarya perlu terus diperluas tanpa batasan fisik maupun kondisi apa pun. Diharapkan kegiatan ini dapat berlanjut dan menjadi langkah kecil menuju ekosistem kreatif yang lebih inklusif di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Nur Laila Khoriroh/Magang
Editor: Dwi Lindawati








