JAKARTA, Tugujatim.id – Curah hujan ekstrem yang belakangan sering terjadi meningkatkan risiko tanah bergerak dan longsor di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini banyak terjadi di daerah dengan karakter tanah lunak seperti gambut dan lempung.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) Tbk mengembangkan teknologi stabilisasi tanah atau penguatan tanah agar fondasi infrastruktur lebih kuat dan tahan terhadap perubahan iklim.
Baca Juga: Kades Tingkis Terseret Kasus Sewa Lahan PT SBI Akhirnya Ditahan di Lapas Tuban
Pengembangan teknologi ini dilakukan melalui kerja sama dengan perusahaan Jepang, Taiheiyo Cement Corporation, serta melibatkan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) sebagai induk usaha. Perluasan kerja sama tersebut ditandatangani di Tokyo pada Januari 2026.
Direktur Utama Solusi Bangun Indonesia Rizki Kresno Edhie Hambali mengatakan, kekuatan infrastruktur sangat bergantung pada kondisi tanah yang menjadi fondasinya.
“Infrastruktur yang kuat harus diawali dari fondasi tanah yang stabil. Jika tanah dasarnya stabil, maka bangunan di atasnya juga akan lebih aman dan tahan lama,” ujarnya.
Pembangunan Perhatikan Kondisi Tanah sejak Awal
Menurut dia, perubahan iklim yang memicu hujan ekstrem membuat proses pembangunan harus lebih memperhatikan kondisi tanah sejak awal.

“Kondisi iklim yang berubah membuat perencanaan pembangunan harus lebih teliti sejak penguatan tanah dasar. Melalui inovasi stabilisasi tanah, kami ingin memastikan proyek infrastruktur memiliki ketahanan jangka panjang,” jelasnya.
Dia menambahkan, teknologi ini dinilai lebih efisien dibanding metode konvensional karena dapat memperkuat tanah lunak tanpa harus mengganti tanah secara besar-besaran.
Baca Juga: Curi Kabel Grounding di Pabrik SBI Tuban, 2 Karyawan Ditangkap Polisi
“Dengan teknologi ini, tanah lunak yang sebelumnya dianggap tidak stabil masih bisa dimanfaatkan sebagai dasar pembangunan. Proses konstruksi juga bisa lebih cepat dan penggunaan material lebih efisien,” tambah Rizki.
Teknologi stabilisasi tanah ini telah diterapkan di sejumlah proyek, salah satunya pada pembangunan Tol Semarang–Solo Seksi Penggarong. Selain itu, juga digunakan pada beberapa proyek di Kalimantan serta pembangunan kawasan pergudangan, pusat perbelanjaan, dan fasilitas parkir di Cikarang dan Bekasi.
“Lewat inovasi ini kami berupaya menghadirkan konstruksi yang lebih kokoh, efisien, dan siap menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








