Tugujatim.id – Candi Gentong merupakan salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit yang memiliki keunikan tersendiri. Terletak di kawasan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, candi ini menjadi bagian dari kompleks percandian yang menunjukkan kejayaan Majapahit pada abad ke-13 hingga ke-15. Meski tidak seterkenal Candi Tikus atau Candi Bajang Ratu, Candi Gentong tetap menarik perhatian para arkeolog dan pecinta sejarah karena ciri khasnya yang unik.
Asal-usul dan Penemuan Candi Gentong
Sejarah Candi Gentong dimulai dari temuan arkeologis yang mengindikasikan bahwa situs ini dahulu berfungsi sebagai tempat ibadah atau bagian dari kompleks istana. Penamaan “Gentong” berasal dari banyaknya gentong atau wadah besar yang ditemukan di sekitar area candi. Penemuan ini memperkuat dugaan bahwa candi ini memiliki fungsi khusus dalam ritual keagamaan Majapahit.
Pada tahun 1907, candi ini pertama kali ditemukan oleh tim arkeologi dari Hindia Belanda yang sedang melakukan penelitian di kawasan Trowulan. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa Candi Gentong memiliki hubungan erat dengan struktur lain di sekitarnya, seperti Candi Menak Jinggo dan Candi Tikus, yang semuanya merupakan bagian dari tata kota Majapahit.
Baca Juga : Candi Gentong, Jejak Sejarah Majapahit yang Terlupakan
Struktur dan Arsitektur Candi Gentong
Berbeda dengan kebanyakan candi peninggalan Hindu-Buddha, Candi Gentong memiliki bentuk yang unik dengan struktur berbahan bata merah yang menjadi ciri khas arsitektur Majapahit. Reruntuhan yang tersisa mengindikasikan bahwa candi ini pernah memiliki bangunan utama yang cukup besar, dengan susunan bata merah yang kuat dan ornamen khas Majapahit.
Salah satu keunikan dari Candi Gentong adalah ditemukannya berbagai artefak berupa pecahan gerabah dan wadah penyimpanan air, yang mengarah pada dugaan bahwa candi ini dahulu digunakan untuk ritual pembersihan atau penyucian. Selain itu, ditemukan pula beberapa struktur pendukung yang kemungkinan merupakan bagian dari kompleks permukiman atau tempat persinggahan bagi para pendeta.
Fungsi dan Makna Religius
Sebagai bagian dari kompleks percandian Majapahit, Candi Gentong diperkirakan memiliki peran penting dalam aktivitas spiritual masyarakat pada masa itu. Keberadaan gentong atau wadah besar di sekitar candi memperkuat dugaan bahwa tempat ini digunakan untuk ritual keagamaan, seperti pemurnian diri sebelum memasuki area suci.
Majapahit sendiri dikenal sebagai kerajaan yang menganut sinkretisme, yakni perpaduan antara ajaran Hindu dan Buddha. Oleh karena itu, candi-candi yang dibangun pada masa itu sering kali mencerminkan pengaruh kedua agama tersebut. Candi Gentong kemungkinan besar merupakan tempat pemujaan atau pusat peribadatan yang digunakan oleh kalangan bangsawan dan rohaniwan kerajaan.
Baca Juga : Lokasi Candi Gentong, Situs Bersejarah di Trowulan
Pelestarian dan Kondisi Saat Ini
Saat ini, Candi Gentong masih dalam kondisi reruntuhan dan belum sepenuhnya dipugar. Meskipun demikian, situs ini tetap menjadi bagian dari kawasan wisata sejarah Trowulan yang banyak dikunjungi oleh peneliti, pelajar, dan wisatawan. Pemerintah serta pihak terkait terus melakukan upaya pelestarian agar peninggalan sejarah ini tetap dapat dipelajari dan dihargai oleh generasi mendatang.
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian arkeologi di Candi Gentong terus dilakukan untuk mengungkap lebih banyak informasi mengenai peran dan fungsi candi ini dalam kehidupan masyarakat Majapahit. Harapannya, dengan adanya perhatian lebih terhadap situs ini, Candi Gentong dapat lebih dikenal luas sebagai salah satu warisan budaya yang berharga.
Sejarah Candi Gentong menunjukkan bahwa situs ini memiliki nilai historis yang tinggi sebagai bagian dari peninggalan Kerajaan Majapahit. Keunikan arsitektur dan dugaan fungsinya dalam ritual keagamaan menjadikannya salah satu candi yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Meski saat ini masih dalam kondisi reruntuhan, upaya pelestarian dan penelitian yang terus dilakukan dapat membantu mengungkap lebih banyak fakta mengenai candi ini dan peranannya dalam sejarah Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : Ilmi Habibi Rahmatullah








