KEDIRI, Tugujatim.id – Nama Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo Kediri, Jatim, kembali jadi sorotan publik belakangan ini. Terlepas dari kabar viral yang melibatkan stasiun televisi nasional, Ponpes Lirboyo ini sejatinya memiliki sejarah panjang dan peran besar dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia.
Berdiri sejak awal abad ke-20, Ponpes Lirboyo dikenal sebagai salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Tanah Air. Bahkan, pesantren ini telah melahirkan banyak ulama, kiai, serta tokoh keagamaan dan kebangsaan.
Awal Berdirinya Ponpes Lirboyo
Melansir dari kedirikota.go.id, Pondok Pesantren Lirboyo berdiri sekitar 1910 di Desa Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh KH Abdul Karim, menantu dari ulama besar Kediri, KH Sholeh Banjarmelati.
Kala itu, KH Abdul Karim mendapat amanah untuk menetap di wilayah Lirboyo. Lirboyo awalnya adalah nama sebuah desa terpencil di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Dahulu desa ini dikenal rawan kejahatan dan dianggap “angker”.
Baca Juga: Trans7 Minta Maaf pada Pimpinan Ponpes Lirboyo Kediri, Tayangkan Xpose Uncensored soal Pesantren
Setelah menetap, KH Abdul Karim mendirikan surau sederhana sebagai tempat belajar agama dan pengajian. Dari sanalah berkembang menjadi pesantren yang kemudian diberi nama Lirboyo.
Dari surau kecil sederhana itu, kegiatan keagamaan pun tumbuh pesat hingga melahirkan pondok besar yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren Lirboyo. Seiring waktu, pesantren ini menjadi pusat pendidikan Islam tradisional dengan ribuan santri dari berbagai daerah di Indonesia.
Asal Usul Nama “Lirboyo”
Nama “Lirboyo” ternyata punya makna filosofis yang dalam. Menurut sejarah setempat, kata ini berasal dari dua suku kata, yaitu “lir” yang berarti selamat dan “boyo” yang berarti bahaya.
Jadi, Lirboyo dapat dimaknai sebagai tempat yang membawa keselamatan dari bahaya, sebuah doa dan harapan agar wilayah tersebut menjadi lebih aman dan diberkahi.
Ciri Khas Pendidikan di Lirboyo
Ponpes Lirboyo dikenal dengan sistem pendidikan yang berpegang teguh pada tradisi salaf, yaitu pembelajaran kitab kuning klasik yang menjadi dasar keilmuan Islam.
Selain itu, para santri juga diajarkan adab dan akhlak kepada guru atau kiai, yang menjadi fondasi utama pembentukan karakter di pesantren.
Tak hanya itu, Lirboyo juga memiliki berbagai lembaga pendidikan formal, mulai dari madrasah, sekolah, hingga perguruan tinggi, yang berada di bawah naungan yayasan pesantren. Tradisi keilmuan yang kuat membuat Lirboyo melahirkan banyak tokoh penting, baik di bidang agama maupun pemerintahan.
Fakta Menarik Tentang Lirboyo
-
Pesantren Besar di Atas Tanah “Angker”
Dahulu, kawasan Lirboyo dikenal sebagai daerah yang dianggap “angker” dan rawan kejahatan. Namun, setelah berdirinya pesantren, wilayah ini justru menjadi pusat kegiatan keagamaan yang ramai dan aman.
-
Ribuan Santri dari Berbagai Daerah
Santri Lirboyo datang dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan dari luar negeri. Mereka tinggal di asrama yang dibagi menjadi beberapa kompleks dengan kegiatan keagamaan yang padat setiap hari.
-
Melahirkan Banyak Ulama Besar
Lirboyo dikenal sebagai tempat lahirnya para kiai dan ulama terkemuka, termasuk tokoh-tokoh penting di organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Seperti mantan ketua umum PBNU KH Said Aqil Siradj. Kemudian ulama karismatik KH Maimoen Zubair, KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, dan lain-lainnya.
-
Tradisi Pesantren yang Masih Dijaga
Hingga kini, Lirboyo tetap mempertahankan tradisi khas pesantren seperti ngaji kitab kuning, halaqah, khidmah kiai, hingga acara haflah akhirussanah yang selalu dihadiri ribuan orang.
-
Pusat Dakwah dan Kebangsaan
Selain fokus pada ilmu agama, pesantren ini juga aktif dalam kegiatan sosial dan kebangsaan. Banyak alumni Lirboyo yang berperan dalam dakwah moderat dan pembangunan masyarakat.
-
Warisan yang Tetap Hidup
Lebih dari sekadar tempat menimba ilmu agama, Ponpes Lirboyo menjadi simbol keberlanjutan tradisi Islam Nusantara yang damai dan berakar kuat pada budaya lokal. Di tengah perkembangan zaman dan arus digital, pesantren ini tetap mempertahankan jati diri sebagai pusat pembelajaran, pengabdian, dan keteladanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








