SURABAYA, Tugujatim.id – Seragam bantuan sekolah untuk siswa penerima Beasiswa Pemuda Tangguh di Surabaya menuai kritik tajam dari DPRD Kota Surabaya. Pasalnya, seragam bantuan tersebut diketahui berbeda warna dan kualitas kainnya dibanding seragam reguler di sekolah.
Perbedaan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan stigma serta diskriminasi.
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Imam Syafi’i, mengungkapkan temuan ini setelah melakukan pengecekan langsung di sejumlah SMA negeri, di antaranya SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 10.
Diketahui, seragam pramuka hingga seragam abu-abu bantuan terlihat tidak seragam dengan milik siswa lainnya.
“Anak penerima bantuan jadi minder karena berbeda dari teman-temannya. Kita tahu sendiri, anak-anak dari keluarga kurang mampu itu sensitif terhadap hal seperti ini,” kata Imam, Selasa, 12 Agustus 2025.
Bantuan seragam tersebut diberikan kepada sekitar 6.000 siswa SMA sederajat dari keluarga miskin dan pra-miskin. Namun, Imam menemukan kualitas kain abu-abu bantuan tidak sesuai standar sekolah, sehingga sebagian siswa terpaksa membeli kain baru seharga Rp280 ribu ditambah ongkos jahit sekitar Rp200 ribu per set, beban yang justru memberatkan keluarga penerima.
Meski ada beberapa sekolah negeri yang membantu menjahitkan seragam sesuai standar bagi siswa asuh mereka, jumlahnya terbatas, hanya sekitar lima siswa per sekolah.
Imam menilai hal ini sebagai bentuk ketidakcermatan Pemkot dalam merancang dan mendistribusikan bantuan. Apalagi, dana yang digunakan berasal dari APBD di tengah kondisi keuangan daerah yang sedang menanggung utang hingga Rp452 miliar.
“Ini uang rakyat. Kalau seragamnya tidak bisa dipakai, artinya bantuan jadi mubazir dan justru memperkuat stigma kemiskinan di sekolah,” ujarnya.
Sebagai langkah perbaikan, Imam mendesak adanya standardisasi warna dan kualitas kain seragam bantuan agar sama persis dengan seragam reguler di sekolah.
“Kalau mau membantu anak dari keluarga miskin, berikan yang terbaik. Bukan sekadar ‘yang penting ada’, tapi malah kualitasnya di bawah standar,” pungkasnya. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Layla Aini
Editor: Darmadi Sasongko








