• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
ASN

Dyah Retno Nilawati menunjukkan karya Batik Candipari dan Juwet Kenongo di Kreasi Nila Batik, Juwet Kenongo, Porong, Sidoarjo, Minggu (26/07/2026). (Foto : Fauzan/ Tugu Jatim)

Setelah Pensiun ASN, Dyah Retno Tekuni Batik hingga Tembus Pasar Nasional

Mochamad Abdurrochim by Mochamad Abdurrochim
9 hours ago
in Bisnis, News, Pilihan Redaksi
0
Share on FacebookShare on Twitter

SIDOARJO, Tugujatim.id – Siapa sangka, keputusan Dyah Retno Nilawati meninggalkan karier sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) setelah 17 tahun mengabdi justru membuka jalan baru dalam hidupnya.

Berawal dari hobi membatik, perempuan asal Porong, Kabupaten Sidoarjo, itu membangun Kreasi Nila Batik hingga berkembang menjadi Industri Kecil Menengah (IKM) sektor ekonomi kreatif. Kini, karya batiknya telah dibeli dari berbagai daerah di Indonesia.

You might also like

JFC

Di Balik Gemerlap JFC 2026, Ada Rezeki Mengalir untuk Pedagang Kecil Jember: Omzet Naik Berkali-kali Lipat

26/07/2026 12:41 PM
Jawa Timur

Bukan Cuma Kabur! Cerah dan Berawan Ikut Merebut Langit Jawa Timur, Batu Menggigil 12°C

26/07/2026 9:09 AM

Dyah memutuskan pensiun dini dari ASN pada akhir 2016. Setelah mengakhiri masa pengabdiannya, Dyah mulai menata langkah baru dengan menekuni keterampilan membatik yang sejak lama digemarinya.

Dari Hobi di Rumah hingga Pesanan Pertama Lewat Status WhatsApp

Pada 2017, Dyah mulai merintis usaha batik dari rumah. Berbekal ketertarikannya terhadap batik, Dyah terus mempelajari dan mengembangkan kemampuan membatik hingga akhirnya berani membangun Kreasi Nila Batik sebagai usaha.

“Waktu saya pensiun dini itu belum punya usaha. Awalnya hanya hobi membatik. Lama-lama saya belajar lebih serius sampai akhirnya berani mendirikan Kreasi Nila Batik,” kenang Dyah saat ditemui Tugujatim di rumah batiknya, Juwet Kenongo, Porong, Minggu (26/07/2026).

Pada awal merintis usaha, seluruh proses membatik dikerjakan Dyah seorang diri dari rumah. Mulai membuat pola, mencanting, mewarnai kain, hingga menyelesaikan produk, seluruh tahapan dilakukan sendiri.

Titik balik perjalanan usahanya terjadi ketika seorang teman yang berprofesi sebagai dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melihat hasil batik yang diunggah Dyah melalui status WhatsApp.

“Teman saya melihat status WhatsApp yang saya unggah. Beliau bertanya, ‘Jualan apa?’ Saya jawab, ‘Jualan batik.’ Lalu beliau langsung memesan lima lembar kain batik. Itulah pesanan pertama yang saya terima,” cerita Dyah.

Pada awal merintis usaha, seluruh proses membatik dikerjakan Dyah seorang diri dari rumah. Mulai membuat pola, mencanting, mewarnai kain, hingga menyelesaikan produk, seluruh tahapan dilakukan sendiri. Seiring berjalannya waktu, pesanan Kreasi Nila Batik semakin ramai.

Dyah kemudian mulai menambah tenaga kerja, termasuk mempekerjakan salah satu saudara dekatnya untuk membantu proses pengerjaan batik. Usaha tersebut terus berkembang hingga kini Dyah mempekerjakan sekitar 10 karyawan untuk mendukung proses pembuatan batik, pengembangan produk, hingga pemasaran

Kecintaan Dyah terhadap batik tumbuh sejak kecil. Sang nenek, pembatik sarung asal Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, mengenalkan dunia batik kepadanya.

Meski tidak sempat belajar langsung dari sang nenek, Dyah mempelajari teknik membatik secara otodidak. Sejak bergabung dalam komunitas pada 2022, Dyah semakin memperdalam kemampuannya melalui berbagai pelatihan serta belajar kepada sejumlah perajin dari berbagai daerah.

Bagi Dyah, batik bukan sekadar kain bermotif. Karya tersebut menjadi media untuk memperkenalkan sejarah, budaya, dan identitas daerah asalnya, yakni Porong.

Baca Juga : Berawal dari Hobi Jadi Penggerak Ekonomi, Komunitas Balap Merpati Sidoarjo Dorong UMKM Tumbuh

Kreasi Nila Batik Bawa Motif Candipari dan Juwet Kenongo ke Pasar Nasional

Karena itu, Kreasi Nila Batik menghadirkan dua motif khas yang menjadi ciri utama, yakni Batik Candipari dan Batik Juwet Kenongo.

Motif Batik Candipari mengambil inspirasi dari Candi Pari, peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Desa Candipari, Kecamatan Porong. Melalui motif tersebut, Dyah membawa cerita sejarah lokal ke dalam karya batik agar semakin dikenal.

Sementara Batik Juwet Kenongo mengangkat nama salah satu desa di wilayah Porong sebagai bentuk penghargaan terhadap kearifan lokal.

Menurut Dyah, setiap motif memiliki cerita tersendiri. Baginya, batik bukan hanya produk fashion, tetapi juga media untuk mengenalkan nilai budaya yang ada di balik setiap karya.

“Kalau memakai batik kami, harapannya bukan hanya melihat kainnya, tetapi juga mengenal cerita di balik motifnya. Ada sejarah dan budaya Porong yang kami bawa melalui karya ini,” ujar Dyah.

Seiring perkembangan usaha, Dyah memperluas produk Kreasi Nila Batik. Tidak hanya kain batik tulis, tetapi juga pakaian, tas, sepatu, dompet, hingga aksesori berbahan batik dan ecoprint.

Kini, Kreasi Nila Batik telah memiliki badan usaha resmi, izin merek, serta sertifikasi halal. Produk Kreasi Nila Batik telah dibeli dari sejumlah daerah seperti Jakarta, Kalimantan Barat, Balikpapan, Sulawesi Utara, Lamongan, Tuban, Gresik, dan Probolinggo.

Perjalanan usaha semakin berkembang setelah Dyah bergabung dengan komunitas UMKM Porong. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan usaha, Kreasi Nila Batik mendapat kesempatan mengikuti program kurasi UMKM yang diselenggarakan salah satu BUMN pada 2022.

Dari sekitar 15.000 peserta UMKM di seluruh Indonesia, Kreasi Nila Batik berhasil masuk 35 besar nasional dan membawa nama Kabupaten Sidoarjo sebagai satu-satunya wakil yang lolos.

“Pesertanya sekitar 15.000 UMKM dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah Kreasi Nila Batik masuk 35 besar nasional. Dari Jawa Timur hanya tiga UMKM yang lolos, yakni dari Jember, Malang, dan Sidoarjo,” ungkap Dyah.

Program tersebut membantu Dyah memperluas jaringan usaha sekaligus memperkuat pengelolaan bisnisnya.

ASN
Dyah Retno Nilawati bersama karyawan dan siswa SLB saat kegiatan produksi membatik di rumah produksi Kreasi Nila Batik, Juwet Kenongo, Porong, Sidoarjo, Minggu (26/07/2026). (Foto : Fauzan/ Tugujatim)

Tak Hanya Jualan, Kreasi Nila Batik Jadi Ruang Belajar dan Pemberdayaan

Bagi Dyah, keberhasilan usaha bukan hanya soal penjualan. Kreasi Nila Batik juga menjadi ruang belajar sekaligus tempat pemberdayaan.

Setiap Sabtu dan Minggu, rumah produksinya menjadi tempat praktik membatik bagi siswa SLB Negeri Juwet Kenongo. Para siswa belajar membuat pola, mencanting, mewarnai kain, hingga menghasilkan karya bersama Kreasi Nila Batik.

“Saya tidak ingin mereka hanya datang untuk belajar. Mereka ikut berproduksi, hasil karyanya kami pasarkan, lalu ketika terjual mereka juga mendapatkan uang saku. Saya ingin mereka merasa dihargai atas hasil kerjanya,” tutur Dyah.

Selain memberikan pelatihan kepada siswa disabilitas, Kreasi Nila Batik juga membuka kesempatan bagi perempuan, termasuk ibu rumah tangga maupun single parent, untuk belajar membatik sebagai bekal keterampilan.

Di luar aktivitas usahanya, Dyah aktif menjadi narasumber dan instruktur membatik di berbagai sekolah serta komunitas di Sidoarjo.

Beberapa sekolah yang pernah mengundangnya antara lain SMA Mawar Sharon Christian School (MSCS), SMA Santa Carolus, SMA Antartika, SMK Antartika, SMP Negeri 2 Tanggulangin, SMP Negeri 3 Sidoarjo, SMP Negeri 4 Sidoarjo, serta SLB Negeri Juwet Kenongo.

“Setiap mengisi kegiatan, saya selalu membawa peralatan batik supaya setelah sesi motivasi mereka bisa langsung praktik bersama. Saya ingin para peserta pulang membawa keterampilan baru dan pengalaman membatik. Harapannya, mereka tidak hanya mengenal batik sebagai karya budaya, tetapi juga ikut menjaga dan melestarikannya,” kata Dyah.

Dyah mengatakan, kepercayaan terhadap produknya semakin meningkat setelah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memilih Kreasi Nila Batik sebagai salah satu penyedia bahan seragam batik haji selama tiga tahun berturut-turut, yakni pada 2023, 2024, dan 2025.

“Total kebutuhan sekitar 2.500 set seragam dan masing-masing UMKM mendapat porsi sekitar 500 set seragam. Kami menjadi salah satunya,” jelas Dyah.

Dalam pemasaran, Dyah memanfaatkan media sosial seperti TikTok, WhatsApp, Instagram, dan Facebook untuk memperkenalkan produk secara lebih luas. Selain melalui platform digital, pemesanan juga dapat dilakukan secara langsung.

Dyah masih aktif mengenalkan dan menjual produknya secara offline, salah satunya melalui kegiatan Car Free Day (CFD) di Alun-alun Sidoarjo.

“Kami tetap melayani pembelian secara langsung karena banyak yang ingin melihat dan memilih kain batik secara langsung. Selain itu, kami juga masih aktif mengikuti kegiatan seperti CFD untuk mengenalkan Kreasi Nila Batik kepada calon pembeli,” ujar Dyah.

Dari Kreasi Nila Batik, Dyah memperoleh laba bersih sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan. Angka tersebut meningkat ketika pesanan sedang ramai.

“Kalau dihitung bersih, rata-rata sekitar Rp5 juta sampai Rp6 juta per bulan. Kalau pesanan sedang ramai, pendapatannya tentu bisa lebih besar,” ungkap Dyah.

Ke depan, Dyah berharap pemerintah menyediakan galeri bersama bagi pelaku UMKM agar produk lokal memiliki ruang promosi yang lebih luas.

“Harapan kami ada galeri bersama untuk UMKM. Dengan begitu, pelaku usaha yang baru berkembang juga memiliki kesempatan yang sama untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat,” harap Dyah.

Bagi Dyah, keberhasilan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar. Kemauan belajar, ketekunan, dan konsistensi menjadi kunci agar keterampilan berkembang menjadi karya bernilai.

“Saya memulai semua ini dari hobi, bukan karena sejak awal sudah punya usaha. Jadi jangan takut memulai dari hal kecil. Kalau mau terus belajar, tekun, dan tidak mudah menyerah, insya Allah akan selalu ada jalan untuk berkembang,” tutur Dyah.

Perjalanan Dyah Retno Nilawati membangun Kreasi Nila Batik setelah pensiun dari ASN menjadi bukti bahwa hobi yang ditekuni dengan serius dapat berkembang menjadi usaha bernilai. Berawal dari rumah, batik karya Dyah tidak hanya membawa identitas budaya Porong, tetapi juga membuka peluang kerja dan ruang belajar bagi lingkungan sekitar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Writer : Fauzan

Editor: Mochamad Abdurrochim

Tags: berita sidoarjoberita sidoarjo hari iniDyah Retno Tekuni BatikKreasi Nila BatikPensiuan ASN SidoarjoSidoarjo hari iniUMKM Sidorajo
Mochamad Abdurrochim

Mochamad Abdurrochim

Related Stories

JFC

Di Balik Gemerlap JFC 2026, Ada Rezeki Mengalir untuk Pedagang Kecil Jember: Omzet Naik Berkali-kali Lipat

by Mochamad Abdurrochim
26/07/2026 12:41 PM
0

JEMBER, Tugujatim.id – Parade kostum spektakuler dan ribuan penonton yang memadati kawasan Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 ternyata menghadirkan kebahagiaan...

Jawa Timur

Bukan Cuma Kabur! Cerah dan Berawan Ikut Merebut Langit Jawa Timur, Batu Menggigil 12°C

by Mochamad Abdurrochim
26/07/2026 9:09 AM
0

Tugujatim.id - Cuaca di Jawa Timur Minggu (26/07/2026) menempatkan udara kabur sebagai kondisi paling banyak tercatat di 12 kabupaten/kota, disusul...

Harimau Sumatera.

Fakta Foto Viral Harimau Sumatera Kurus di KBS Bukan Dampak Kasus Korupsi Eks Dirut, Sudah Mati Kebiasaan ‘Makan Rawon’

by Dwi Linda
25/07/2026 5:08 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id - Di tengah ramainya pemberitaan terkait penetapan status CA, tersangka mantan Direktur Utama (Dirut) Kebun Binatang Surabaya (KBS),...

Bendungan Lahor.

Akses Mobil Bendungan Lahor Ditutup, Ekonomi Ratusan Pedagang di Blitar Terancam Lumpuh

by Dwi Linda
25/07/2026 3:00 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id – Rencana penutupan akses kendaraan roda empat di Puncak Bendungan Lahor per 1 Agustus 2026 oleh Perum Jasa...

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID