TUBAN, Tugujatim.id – Polemik shuttle wisata Tuban kembali memanas. Ratusan tukang becak dan Pedagang Kaki Lima (PKL) Parkiran Wisata Kebonsari menggeruduk Kantor DPRD Kabupaten Tuban, Selasa (02/06/2026). Mereka menuntut penghentian shuttle dan penertiban Becak Motor (Bentor) yang dinilai mematikan penghasilan rakyat kecil.
Aksi massa dimulai dari Parkiran Kebonsari menuju gedung dewan dengan iring-iringan becak. Massa juga membawa poster tuntutan hingga keranda mayat yang ditujukan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Tuban sebagai simbol matinya keadilan bagi masyarakat kecil.
PKL dan Tukang Becak Tuban Desak Shuttle Wisata Ditutup
Koordinator PKL Parkiran Kebonsari, Teguh Suyono, mengatakan aksi tersebut dilakukan karena para pedagang dan tukang becak merasa lelah menagih janji pemerintah terkait penertiban shuttle dan bentor.
“Kami datang ke DPRD untuk meminta bantuan agar janji itu benar-benar ditepati. Intinya ada empat tuntutan, tapi yang paling utama penghapusan shuttle dan penertiban bentor,” ujarnya.
Menurut Teguh, keberadaan shuttle membuat bus peziarah tidak lagi masuk ke area parkir wisata Kebonsari. Dampaknya, tukang becak dan pedagang kehilangan pelanggan selama bertahun-tahun.
“Karena bus tidak masuk parkiran wisata, akhirnya peziarah juga tidak masuk. Penghasilan kami turun drastis,” katanya.
Teguh mengaku kondisi itu sudah berlangsung hampir enam tahun. Bahkan, banyak pedagang harus merugi karena dagangan tidak laku.
“Saya modal Rp700 ribu dari pagi sampai malam, hasilnya cuma Rp70 ribu. Banyak nasi terbuang,” keluhnya.
Baca Juga : Ratusan Tukang Becak Sunan Bonang Datangi Kantor Bupati Tuban, Tolak Shuttle dan Bentor
Keranda Dibawa ke DPRD, Simbol Kekecewaan ke DLHP Tuban
Dalam aksi tersebut, massa juga membawa keranda mayat sebagai simbol kekecewaan terhadap DLHP Tuban yang dinilai lamban menangani persoalan shuttle dan bentor liar.
Para demonstran menilai pemerintah seolah tutup mata terhadap persoalan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Mereka menyebut keberadaan shuttle di sejumlah titik seperti kawasan Makam Tundung Musuh, sekitar Makam Sunan Bonang, hingga Terminal Baru Tuban semakin memperparah kondisi ekonomi masyarakat kecil.
Teguh menegaskan para pedagang akan kembali turun ke jalan apabila hasil kesepakatan dengan DPRD dan pemerintah daerah tidak dijalankan.
“Kalau kesepakatan ini tidak berjalan, kami akan aksi lagi,” tegasnya.

Pendapatan Anjlok, PKL Kebonsari Tuntut Bentor Ditertibkan
Selain shuttle, para demonstran juga meminta bentor liar ditertibkan. Mereka menilai keberadaan becak liar dan bentor justru memunculkan citra buruk terhadap paguyuban becak resmi di Parkiran Kebonsari.
“Kami ini sering kena fitnah akibat shuttle dan becak liar. Padahal kami punya paguyuban resmi,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Kabupaten Tuban, Anthon Tri Laksono, menyebut penertiban sebenarnya sudah dilakukan bersama aparat kepolisian dan masih terus berjalan hingga saat ini.
“Penindakan sudah kami lakukan bersama Polres dan tetap berjalan sampai sekarang,” katanya.
Ia menjelaskan pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam melakukan penertiban karena membutuhkan kolaborasi lintas instansi serta dukungan seluruh pihak terkait.
Menurutnya, persoalan utama muncul ketika kendaraan tertentu mengambil penumpang peziarah di tengah jalan sehingga bus tidak masuk ke terminal wisata.
“Harapannya bus peziarah tetap masuk ke terminal wisata, jangan dihentikan di tengah jalan,” jelasnya.
Anthon juga mengakui penertiban sebelumnya sempat berhasil dilakukan. Namun, kondisi kembali berulang karena kurangnya pengawasan di lapangan.
“Dulu pernah bersih setelah ditertibkan, tapi lama-lama muncul lagi. Itu memang jadi problem bersama,” imbuhnya.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah daerah tetap mencari solusi agar aktivitas wisata religi di Tuban tetap berjalan tanpa merugikan masyarakat kecil yang menggantungkan hidup di kawasan parkiran wisata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Mochamad Abdurrochim








