Tugujatim.id – Peradaban manusia banyak terbentuk di sekitar area sungai, terutama sungai besar. Air yang mengalir menjadi sumber kehidupan utama makhluk hidup yang berada di sepanjang kawasan, mulai untuk bercocok tanam, irigasi, peternakan, termasuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meski alam memberikan begitu banyak manfaat, potensi bahaya juga senantiasa mengintai. Hal itu tidak luput terhadap kehidupan penduduk di permukiman sekitar Sungai Bengawan Solo.
Banjir yang terjadi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo kerapkali diakibatkan oleh curah hujan tinggi. Fenomena ini berdampak pada wilayah tropis seperti Indonesia. Peningkatan intensitas dan frekuensi beragam bencana alam hidrometeorologi, seperti di Provinsi Jawa Timur tak bisa dielak lagi.
Selama kurun waktu mulai 2016 hingga 2025, terdapat 2.227 kejadian. Meliputi, 743 bencana banjir, 514 kejadian longsor, dan 970 angin kencang atau puting beliung.
Banjir bandang juga terjadi 10 kali dalam rentang waktu tersebut dan sering berada di daerah yang dilewati Sungai Bengawan Solo. Banjir besar ini berdampak sering pula berdampak pada 5 kabupaten yaitu Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Gresik, Ngawi, dan Lamongan.
Untuk itu, butuh penguatan kesiapsiagaan bencana banjir pada daerah dan masyarakat sekitar DAS. Salah satunya, melalui Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) atau Anticipatory Action (AA) yang dimasukkan dalam Rencana Kontijensi (Renkon) Bencana Hidrometeorologi, terutama untuk banjir di kawasan Bengawan Solo.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Pangarso Suryotomo, mengatakan bahwa penyusunan Renkon Banjir Bengawan Solo ini akan menjadi satu-satunya renkon dengan perspektif AMPD kawasan DAS yang cukup panjang serta wilayah administratif yang cukup besar.
“Untuk itu, penekanan renkon perlu diarahkan pada sisi sosial juga yaitu bagaimana cara penyelamatan manusia, termasuk aset penghidupannya, secara detail,” ujarnya, melalui keterangan yang diterima, Sabtu (13/03/2026).
Aksi Merespon Peringatan Dini
Sosialisasi AMPD kali ini dilaksanakan melalui Program SIAP SIAGA Jatim bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Jatim melalui dukungan pendanaan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia. Kedua instansi ini menjalin kolaborasi serta memandang pentingnya AMPD untuk diintegrasikan dalam Renkon Banjir Bengawan Solo.
“Untuk menyelamatkan masyarakat akibat bencana, semua pihak perlu turun untuk membantu,” tambah Bidang Penanggulangan Bencana Palang Merah Indonesia (PMI) Jatim, Edi Purwoko.
Selain itu, Program Manager Humanitarian DFAT Australia, Henry Pirade, menambahkan kolaborasi ini membuka adanya penguatan sistem pemerintah yang selaras dengan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan dan respon yang berbasis masyarakat.
“Sinergi ini juga bisa saling melengkapi kegiatan antar instansi serta menghindari tumpang tindih, sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat yang paling berisiko,” urainya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Darmadi Sasongko








