Silaturahmi Virtual, Dakhil Pamer Rumah Kardus Karyanya

  • Bagikan
Dakhil memperlihatkan rumah kardus karyanya kepada nenek dan kakeknya di Tuban saat silaturahmi virtual. (Foto: Rochim/Tugu Jatim)
Dakhil memperlihatkan rumah kardus karyanya kepada nenek dan kakeknya di Tuban saat silaturahmi virtual. (Foto: Rochim/Tugu Jatim)

TUBAN, Tugujatim.id – Silaturahmi saya kali ini mungkin agak berbeda dengan silaturahmi biasanya karena adanya kebijakan pemerintah soal melaksanakan PPKM Darurat. Karena terbiasa silaturahmi ke orang tua yang juga di Tuban setiap dua hari sekali, silaturahmi saya lakukan secara virtual demi memutus penyebaran Covid-19.

Sejak 3 Juli 2021, memang PPKM Darurat resmi dilaksanakan. Otomatis saya juga memberi pengertian kepada Dakhil—putra saya yang berumur 4 tahun untuk tidak berkunjung ke rumah neneknya.

“Nak…, ampun ten daleme mbahe riyen njeh. (Nak, jangan ke rumah nenek dulu ya)!” ucapku kepadanya.

“Kenapa Abi?” tanyanya dengan polos.

“Ada virus jahat itu lho kayak yang di TV, Nak,” ujarku.

“Iya deh Bi, ngak papa,” jawab Dakhil.

Saya cukup lega mendengarkan jawabannya. Ternyata istri saya pun merasa lega juga, tapi tak bertahan lama. Baru dua hari diberlakukannya PPKM, Dakhil merajuk meminta bertemu dengan neneknya.

Saya dan istri pun merayunya dengan membelikan kue dan mainan, tapi cara itu tak mempan. Mungkin itu yang dinamakan kangen karena nenek dan kakeknya sangat dekat dirinya. Maklum saja, Dakhil adalah cucu laki-laki satu-satunya. Jadi, wajar jika nenek dan kakeknya memanjakannya.

“Njeh pun, tak telepon aken mbah kung njeh? (Saya teleponkan mbah saja ya?),” rayuku.

Dakhil mengangguk pelan, tampak berat menjawabnya. Namun, dia tak menolak tawaran yang saya berikan. Dalam hati saya, mungkin dia menyadari hanya itu solusi yang bisa dilakukan.

Wajah Dakhil kembali semringah. Dia pun berbincang dengan kakek dan neneknya. Dakhil pun menunjukkan hasil dia mewarna, membuat rumah-rumahan dari kardus dua hari lalu.

Saya dan istri hanya mampu tersenyum dari jauh menyaksikan obrolan dia bersama nenek dan kakeknya.

“Mbah Uti, niki tingali to, rumah kardusku. Bagus kan? (Kakek dan nenek, ini lihat rumah saya bagus kan?),” ucapnya.

Dari silaturahmi secara virtual itu terdengar neneknya mengucapkan.

Pintere putuku iki. (Pintarnya cucuku ini),” ujar nenek dan kakeknya.

Senyum Dakhil pun mengembang. Tak terasa sudah satu jam setengah lebih bercengkerama. Mereka terlihat seperti kedua orang dewasa yang membahas permasalahan berat. Hehehe…

Di sini saya menyadari, meski di tengah kondisi yang seperti ini silaturahmi memiliki arti yang luar biasa. Hari ini saya belajar dari si kecil—Dakhil, jika keterbatasan beraktivitas tidak mengurangi esensi untuk tetap saling membahagiakan.

Untuk kalian semua, tetap menjaga protokol kesehatan dan jangan lupa jalin silaturahmi meski lewat virtual karena ada orang yang menunggu senyummu.

  • Bagikan