TUBAN, Tugujatim.id – Langkah Siti Sofiyah terasa berat menuju Pegadaian Tuban pada Selasa pagi (09/09/2025). Perempuan berusia tiga puluhan tahun, warga Kecamatan Tuban, itu tampak menggenggam erat tangan suaminya. Di gendongannya, seorang bayi berusia 10 bulan tampak tertidur pulas. Sambil tetap menjaga bayinya, hati Sofi bergejolak. Kegelisahannya belum juga pergi.
Hampir tidak bisa tidur semalaman, Sofi —begitu dia disapa— terus memikirkan kebutuhannya yang mendesak, yaitu biaya wisuda pascasarjana sang suami di Universitas Maarif Hasyim Latif (Umaha) Sidoarjo. Angka jutaan rupiah yang harus dibayarkan bukan jumlah kecil bagi keluarga kecil ini. Semua tabungan hampir habis dan hanya ada satu harapan terakhir—tabungan emas Pegadaian Tuban yang selama ini dia kumpulkan sedikit demi sedikit.
Baca Juga: Masyarakat Merdeka Finansial! Pegadaian Kenalkan Emas Sebagai Instrumen Investasi Cerdas
Aplikasi Pegadaian Error, Transaksi Tetap Dilayani
Di perjalanan menuju Kantor Cabang Pegadaian Tuban di Jalan Lukman Hakim, Sofi berkali-kali menarik napas panjang. Dia teringat, saat transaksi terakhir, petugas sempat menyarankan untuk menggunakan aplikasi dalam jual-beli maupun gadai emas. Sementara, aplikasinya kini sudah tidak bisa dibuka. Kata sandi lupa, nomor gawai juga sudah tidak aktif.
“Bagaimana kalau hari ini ditolak karena tidak pakai aplikasi?” gumamnya dalam hati.

Namun, dia tahu tidak bisa menundanya lagi. Dengan niat bulat, dia berangkat.
“Bismillah,” ucapnya lirih, seolah memberi kekuatan pada dirinya sendiri.
Setiba di kantor Pegadaian Tuban, Sofi menyampaikan kegelisahannya kepada petugas. Wajahnya yang semula tegang perlahan melembut ketika mendengar jawaban, transaksi tetap bisa dilakukan tanpa aplikasi.
“Alhamdulillah,” batinnya lega.
Pegadaian Beri Pilihan Program Menarik untuk Nasabah
Meski begitu, perjuangan belum selesai. Dia harus menunggu antrean hampir satu jam. Ruang tunggu cukup ramai. Mulai dari bapak paro baya yang membawa kalung emas, seorang ibu muda dengan map tebal berisi surat-surat, hingga mahasiswa yang ingin menabung emas. Sementara Sofi berusaha menenangkan bayinya yang mulai rewel.
Sesekali dia melirik jam tangan. Degup jantungnya makin kencang ketika mendengar pengeras suara memanggil namanya. Di meja pelayanan, petugas menyapa ramah.

“Ini Ibu, emasnya mau dijual atau digadai saja? Kebetulan harganya hari ini masih cukup tinggi. Sayang kalau dijual,” ujar petugas Pegadaian Tuban sambil menunjukkan kalkulasi harga emas.
Sofi menoleh kepada suaminya. Mereka berdiskusi singkat. Menjual emas memang bisa langsung selesai, tapi itu berarti tabungan yang sudah dikumpulkan akan habis. Akhirnya mereka sepakat: digadai saja.
Jumlah emasnya sebenarnya lebih dari 5 gram, setara hampir Rp9 juta. Namun, Sofi memutuskan menggadaikan 4,0730 gram dengan nilai pinjaman Rp6,7 juta. Cukup untuk biaya wisuda dan masih ada sisa tabungan emas untuk cadangan.

Sambil menyiapkan berkas, petugas kembali menawarkan program menarik. Petugas menawarkan program Emas Cicilan.
“Ibu, di sini ada program Emas Cicilan. Minimal 5 gram. Setoran awalnya tidak sampai Rp500 ribu. Keuntungannya, harga sudah terkunci sejak awal. Jadi, meski harga emas naik, ibu tetap bayar sesuai harga cicilan yang disepakati,” jelasnya penuh antusias.
Sofi terdiam sejenak. Dia tahu benar, harga emas selalu naik dari tahun ke tahun. Tawaran itu terasa menggiurkan, apalagi bisa jadi tabungan masa depan. Namun, dia menelan dalam-dalam keinginannya.
“Sementara tidak dulu, ini saja dulu yang digadai, Mbak,” jawabnya pelan, menolak dengan halus.

Beberapa menit kemudian, uang pinjaman cair. Bukan berupa tunai, melainkan langsung ditransfer ke rekening suaminya. Wajah Sofi yang sejak pagi diliputi resah, kini berubah semringah. Senyum tipis mengembang, seolah beban berat perlahan terangkat.
“Alhamdulillah, sudah kami transfer ya, Bu. Jatuh temponya empat bulan ke depan. Kalau tidak diperpanjang atau dilunasi sampai tanggal itu, barang jaminannya bisa dilelang,” terang petugas dengan ramah.
Sofi mengangguk. Dia paham konsekuensi itu. Namun, setidaknya kini dia bisa pulang dengan lega. Biaya wisuda sang suami aman tanpa harus kehilangan sepenuhnya tabungan emas di Pegadaian Tuban yang susah payah dikumpulkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








